Analis Politik Senior Tuding Din Syamsudin sebagai Perancang Kekacauan

Din Syamsuddin (Googleimage)

Direktur Eksekutif LPI (Lembaga Pemilih Indonesia) yang juga Analis Politik Senior, Boni Hergens, mengatakan sudah mengantongi beberapa nama perancang yang ingin mengkudeta pemerintahan yang sah.

Kelompok ini menurut Boni menggunakan sejumlah isu untuk provokasi dan propaganda politik, di antaranya isu komunisme dan isu rasisme Papua hingga kematian warga AS berkulit hitam George Floyd di Minneapolis, Amerika Serikat.

“Isu lain yang mereka gunakan adalah potensi krisis ekonomi sebagai dampak inevitable dari pandemic Covid-19. Kelompok ini juga membongkar kembali diskursus soal Pancasila sebagai ideologi Negara,” ujar Boni melalui keterangan persnya, Kamis (4-6).

Menurut Boni, isu yang mereka gunakan hanyalah instrumen untuk melancarkan serangan-serangan politik untuk mendelegitimasi pemerintahan yang sah saat ini.

“Kelompok ini tidak bisa disebut sebagai “barisan sakit hati” semata karena ini bukan lagi dendam politik semata. Mereka adalah “laskar pengacau negara” dan “pemburu rente”, imbuhnya

Boni menambahkan kelompok ini adalah gabungan dari kelompok politik yang ingin memenangkan pemilihan presiden 2024, kelompok bisnis hitam yang menderita kerugian selama pemerintahan Jokowi, ormas keagamaan terlarang seperti HTI serta barisan oportunis yang haus kekuasaan dan uang.

Karena itu, menurut Boni kolempok ini lebih pantas disebut “laskar pengacau negara” ketimbang “barisan sakit hati”. Mereka berusaha merusak tatanan demokrasi di negeri ini. Bahkan, mereka mempertanyakan Kembali Pancasila sebagai ideologi negara.

“Ada Bandar di balik gerakan mereka, mulai dari bandar menengah sampai bandar papan atas. Bandar menengah misalnya oknum pengusaha pom bensin dan perkebunan asal Bengkulu, dan bandar papan atas ya tak perlu saya sebutkan di sini,” ujar Boni

Boni juga menyayangkan sikap Din Syamsuddin yang ikut dalam gerakan kelompok ini dalam merongrong dan mengacau pemerintahan yang sah.

“Beliau kan panutan umat, tokoh yang didengar banyak orang. Jadi tidak bijak jika ikut berkecimpung memperkeruh kolam yang bersih. Negara ini butuh negarawan dari segala lapisan supaya bisa menjadi bangsa besar. Tokoh agama dan intelektual adalah panutan masyarakat”, tambahnya

Boni juga mengkritik Refly Harun atas perubahan sikapnya kepada pemerintah setelah tidak menjabat komisaris.

“Saya juga heran dengan Bung Refly Harun. Kenapa menjadi begitu galak setelah tidak menjadi komisaris? Kan jadinya ada kesan tidak baik seolah-olah ada vested interest di balik kritisisme beliau terhadap pemerintah,” katanya.

Menurut Boni ada banyak cara untuk memberi masukan pada pemerintah, tanpa harus membuat gelombang keresahan yang merugikan masa depan bangsa dan negara.

Sumber: klikanggaran.co

(suaraislam)

Loading...