Alhamdulillah! Resmikan UIN KH Abdurrahman Wahid, Menag Gus Yaqut: Kunci Utama Gus Dur Adalah Humanisme

Ilustrasi

Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) Yaqut Cholil Qoumas (Gus Men), mengatakan nama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu cukup diterjemahkan melalui satu kata yaitu humanisme dalam acara peresmian UIN KH Abdurrahman Wahid, Pekalongan, Selasa (27/9).

“Jangan salah menerjemahkan nama KH Abdurrahman wahid. Gus Dur itu cukup diterjemahkan melalui satu kata dan itu saya kira kalau kita memiliki keinginan yang sama tidak sulit untuk mewujudkannya; humanisme,” jelas H Yaqut Cholil Qoumas.

Gus Men, sapaan akrabnya, berpendapat bahwa kunci utama humanisme adalah memanusiakan manusia yang lain.

“Didik mahasiswa UIN KH Abdurrahman Wahid ini menjadi mahasiswa-mahasiwa yang humanis, itu cukup!” pesan Menteri yang juga Ketua PP GP Ansor tersebut.

Definisi ini terdengar sederhana, lanjut dia, namun ketika seorang manusia sudah memanusiakan manusia yang lain, ia sudah otomatis menjadi seorang yang kosmopolit, inklusif, dan progresif.

“Mahasiswa humanis itu mahasiswa yang memanusiakan manusia yang lain. Kalau ada manusia yang memanusiakan manusia yang lain sudah otomatis dia itu kosmopolit, sudah otomatis dia itu inklusif, sudah otomatis dia itu progresif, wis otomatis pak!” tegas Gus Men.

“Jadi ngga usah bikin istilah-istilah yang membuat bingung orang Paninggaran, tolonglah,” kelakarnya.

Penyederhanaan sebuah istilah ini dinilai penting oleh Gus Men, mengingat keselarasan dan keterkaitannya dengan dorongan untuk bekerja dan melakukan dinamisasi program sebuah pekerjaan.

Putra KH Cholil Bisri, Leteh, Rembang itu menjelaskan pemilihan nama KH Abdurrahman Wahid sebagai nama universitas atau kampus tidak membuat Gus Dur dan keluarganya bangga.

“Allahu yarham Gus Dur, saya meyakini, beliau jika masih sugeng dan keluarganya, tidak merasa lebih bahagia, nama KH Abdurrahman Wahid digunakan sebagai nama perguruan tinggi baik itu UIN maupun perguruan tinggi lain, daripada merawat nilai-nilai yang sudah diajarkan Gus Dur,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut dia, ketika saya minta nama beliau untuk dijadikan sebagai nama UIN KH Abdurrahman Wahid, saya ingin agar civitas akademika ini meneladani dan menjadikan Gus Dur sebagai inspirasi dalam setiap langkah dan perjuangan di lingkungan UIN Abdurrahman Wahid.

“Jadi percuma kita kasih nama KH Abdurrahman Wahid, tetapi perilaku-perilaku di lingkungan civitas akademika UIN KH Abdurrahman Wahid bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan KH Abdurrahman Wahid,” jelas Gus Yaqut.

Nilai-nilai yang diajarkan oleh Gus Dur merupakan nilai-nilai yang membuat seorang manusia sadar akan kewajibannya sebagai seorang manusia. Sehingga ketika mereka sudah sadar menjadi manusia, mereka akan sadar akan kewajibannya.

Gus Men berkeinginan agar para mahasiswa mampu menyerap dan meneladani sikap kasih sayang atau rahmah yang tercermin dari pribadi Gus Dur.

“Rahmah asal katanya rahim, rahim itu yang punya cuma ibu. Ajarkan rahmah kepada mahasiswa UIN KH Abdurrahman Wahid ini agar ketika mereka keluar belajar dari UIN KH Abdurrahman Wahid ini mereka mampu memanusiakan manusia yang lain,” pungkasnya.

Acara peresmian ini juga diikuti oleh Dirjen Pendis Prof Ali Ramdhani, Rektor UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan, Prof Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag, Putri Gus Dur, Inayah Wahid dan Muspida Daerah Pekalongan lainnya.

Sumber: peradaban.id

(Suara Islam)

Loading...