Alhamdulillah! Narkoba Buatan ISIS Senilai Rp 16 Triliun Berhasil Disita Polisi

Ilustrasi, Militan ISIS

Sebanyak 14 ton narkoba buatan ISIS senilai Rp 16 triliun dilaporkan disita Polisi Italia, ini adalah penangkapan terbesar di seluruh dunia. Barang haram itu, berbentuk 84 juta tablet Captagon yang disembunyikan di dalam produk industrial itu bernilai sekitar 1 miliar euro.

Kepolisian Naples menerangkan bahwa obat psikotropika tersebut hendak dijual ke Eropa, dengan dana hasil penjualannya digunakan untuk mendanai terorisme.

“Kami tahu ISIS mendanai kegiatan terorisnya dari penjualan narkoba yang dibuat di Suriah, yang dalam beberapa tahun terakhir jadi produsen amphetamines terbesar dunia,” ujar polisi.

Dalam penjelasannya, penegak hukum mengatakan ada tiga kontainer mencurigakan awalnya sampai di Salermo, selatan Naples, dan berisi gulungan kertas untuk industri, begitu juga mesinnya.

Namun, setelah gulungan kertas dan dan roda gigi dipotong, aparat menemukan tablet dengan gambar dua setengah lingkaran, simbol dari Captagon.

Dalam tanyang sebuah video yang dipublikasikan Kepolisian Naples, pil itu tumpah saat mereka membuka paksa gulungan tersebut.

“Ini merupakan penyitaan terbesar amphetamines yang terjadi di seluruh dunia,” jelas penegak hukum seperti dikutip AFP Rabu (1/7/2020).

” Obat jihad”

Captagon, yang adalah nama sebuah merek, awalnya dibuat untuk keperluan medis. Tapi versi ilegalnya disebut sebagai ” Obat Jihad”. Sebabnya dalam keterangan polisi Italia, obat itu secara luas digunakan oleh anggota ISIS ketika terjun ke medan pertempuran.

Dikutip dari Badan Penegakan Obat AS (DEA), Kepolisian Naples mengatakan kelompok teroris itu memanfaatkan wilayah yang mereka kuasai untuk menjual narkoba.

Setelah menguasai sebuah wilayah mereka akan membangun pabrik, otoritas menyebut sangat mudah bagi teroris untuk memproduksi jumlah besar narkoba untuk mendapatkan dana.

Lebih lanjut, Kepolisian mengatakan jumlah barang haram yang berhasil mereka sita dikatakan bisa “memuaskan seluruh Eropa”, tanpa menjabarkannya.

Diduga “Konsorsium” geng kriminal juga ikut terlibat dalam distribusi obat, termasuk keyakinan mafia kuat asal Naples, Camorra, turut di dalamnya.

Penegak hukum menjelaskan, kemungkinan praktik produksi dan distribusi narkoba sintetis di Eropa terhenti sejak virus corona melanda.

“Banyak penyelundup, termasuk konsorsium, beralih ke Suriah yang. nampaknya, sama sekali tidak mengendurkan produksinya,” jelas kepolisian.

Bahkan, dua pekan lalu polisi juga menyita kontainer yang dikirim dari Suriah berisi 2.800 kilogram ganja di pelabuhan Salermo,

Dalam penyitaan tersebut didapat lebih dari satu juta pil amphetamines dengan simbol yang sama seperti yang disita pada Rabu waktu setempat.

Dikutip dari Harian La Repubblica, polisi awalnya curiga karena kontainer tersebut, yang nampaknya berisi meja dan baju olahraga, tujuannya adalah Libya melalui perusahaan Swiss.

(suaraislam)

Loading...