Alhamdulillah! Ketum PBNU, Gus Yahya akan Terus Kembangkan Keterlibatan NU di Geopolitik Internasional

Ilustrasi

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya memberikan sambutan dalam Halaqah Fikih Peradaban digelar di Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang kemarin.

Dalam sambutannya, dia akan terus mengembangkan keterlibatan NU baik dalam tataran diskusi maupun keterlibatan langsung di geopolitik internasional.

”Saya Ingin NU terlibat langsung dalam percaturan Geopolitik Internasional,” jelasnya.

Dalam diskusi bertema Fikih Siyasah dan Kewarganegaraan ”Setatus Kewarganegaraan Non-Muslim dalam Tinjauan Fikih (Upaya Kontekstualisasi dalam Tata Negara Modern) itu dihadiri, Gus Yahya menyampaikan, kegiatan kemarin merupakan rangkaian halaqoh yang dilaksankan di 250 tempat sampai dengan akhir Januari mendatang. ”Saat ini sudah berjalan sekitar 100. Masih ada 150 lagi. Mungkin masih ada tambah lagi,” ujarnya.

Temanya sama, yakni tentang fikih peradaban dan wawasan politik yang fundamental dalam kacamata fikih. Ke depan, kata Gus Yahya, akan ada kegiatan puncak dalam konfrensi internasional. Ia menyebut acara tersebut sebagai mukhtamar internasional fiqih peradaban yang pertama.

”Insyaallah kami gelar pada 15 Rajab atau 6 Februari 2023,” imbuhnya.

Pihaknya akan mengundang sekitar 300 ulama di dunia. Sejumlah narasumber juga sudah bersedia. Di antara yang siap hadir adalah Imam Akbar Al Azhar Syeikh Dr. Ahmad Ath Thayyib.

Dalam acara halaqah itu, ia ingin pergulatan pemikiran terkait dinamika global tidak hanya dipikirkan oleh mereka yang ada pada kelompok elit. Namun juga ingin diikuti baik secara intelektual ataupun mental oleh sebanyak mungkin ulama di lingkungan NU.

Ia yakin, para kiai NU memiliki kapasitas ilmiah yang mumpuni. Sampai kegiatan itu, menurutnya minat para kiyai untuk terlibat dalam diskusi cukup tinggi.

Abdullah Hadani, ketua Panitia Halaqah menyampaikan acara kemarin dihadiri 125 peserta dari unsur perwakiloan Majelis Wakil Cabang Nahdhatul Ulama (MWCNU) se-Rembang, para Masayikh Sarang, akademisi STAI Al Anwar dan para mahasiswa.

(Suara Islam)

Loading...