Al-Walla wa al-Barra: Tafsir Manipulatif Kaum Jihadis

Ilustrasi (Google Image)

Dalam ajaran al-walla wa al-barra (loyalitas dan pembangkangan), menurut Syahrur -dengan mengutip pendapat al-Jahizh (w. 868 M) dan Ibn Abd al-Hakam (w. 870 M) serta Ibn Abd Rabbih al-Andalusi (w. 940 M), penyimpangan ajaran ini dari makna Qurani menjadi makna yang lebih politis telah terjadi sejak peristiwa Saqifah Bani Saidah. Di mana loyalitas politis yang dibalut dengan “loyalitas teologis-keagamaan” dibangun di atas prinsip tribalisme dilakukan oleh golongan Quraisy-Muhajir-Makkah dengan meminggirkan Kaum Anshar-Madinah. Juga terjadi pada “loyalitas-pembangkangan sektarian” antara Sunni-Syi’i yang terjadi sampai hari ini, dan seterusnya penyimpangan konsep ini berlanjut yang dimalpraktekkan oleh kelompok-kelompok ekstremis seperti ISIS hari ini.

Al-Walla wa al-Barra

Kata al-walla dan al-barra merupakan dua kata dalam bahasa Arab yang tercantum dalam al-Quran. Kata al-walla merupakan mufradat al-Quran yang tercantum di 217 tempat di dalam al-Quran. Sedangkan kata al-barra terdapat di 31 tempat dalam al-Quran. Secara umum, keduanya berarti menerima sesuatu dengan mengikutinya dan meninggalkan dengan cara melepaskan. Hampir semua petunjuk al-Quran mengenai konsep al-walla dan al-barra ini terkait dengan pandangan keagamaan dan akidah. Misalnya, dalam surat al-Maidah ayat 56 disebutkan: “Dan barangsiapa yang menerima dan menjadikan Allah dan rasul-Nya serta kaum beriman sebagai penolongnya, maka golongan (pengikut) agama Allah itulah yang menang.”

Sedangkan al-barra dalam pengertian melepaskan dan menanggalkan, yakni menanggalkan berbagai bentuk kemusyrikan yang akan merusak akidah. Diceritakan dalam al-Quran surat al-An’am ayat 78 mengenai keyakinan Nabi Ibrahim kepada Allah Yang Maha Esa dengan meninggalkan kemusyrikan menyembah matahari. “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”

Dari dua ayat di atas, kita bisa pahami bahwa makna jenuin dari al-walla wa al-barra sangat erat terkait dengan urusan akidah dan keimanan kepada Tuhan. Yakni, bisa kita istilahkan sebagai loyalitas dan penerimaan terhadap Tuhan yang transendental, serta pembangkangan atau penolakan terhadap hal-hal yang merusak keimanan itu sendiri. Namun demikian, makna jenuin yang berasal dari al-Quran ini mengalami perubahan dari mufradat Qurani menjadi istilah fikih dan politik (tahawwala min mufradat ‘arabiyyah quraniyyah ila mushtalah fiqhiy-siyasiy)—yang dalam batas tertentu disebutkan sebagai penyimpangan (tahrif) oleh Syahrur.

Politisasi Penafsiran

Masalah yang muncul kemudian adalah dalam perjalanan sejarah, persoalan politik dan kesukuan seringkali dibalut dengan sentimen keagamaan, sehingga umat gamang dan mudah terkecoh dalam membedakan mana loyalitas dan pembangkangan yang bersifat politis (al-walla al-sulthawi al-siyasiy) dan mana loyalitas yang bersifat keagamaan (al-walla al-dini al-’aqaidi).

Atas nama loyalitas terhadap agama, mereka memberikan secara percuma loyalitas politis terhadap elit kelompok, golongan, dan sukunya sendiri. Dengan kata lain, sebenarnya telah terjadi fenomena politisasi agama dalam perjalanan umat ini dan itu sudah berlangsung sejak lama, persoalan-persoalan politik keumatan dicampurbaur dan dibalut dengan sentimen keagamaan dalam bentuk loyalitas ini.

Syahrur mengidentifikasi ada sekian peristiwa sejarah di awal kemunculan Islam pasca Nabi wafat, yang selama ini dianggap secara keliru sebagai peristiwa-peristiwa yang didasari oleh alasan keagamaan, atau tepatnya dilakukan atas dasar untuk membela agama. Padahal, pada kenyataannya semua itu merupakan satu pembelaan terhadap persoalan politik kekuasaan.

Tafsir Manipulatif

Menurut Syahrur, peristiwa yang berbau politik ini (ta’biq ra-ihah al-siyasah) telah menyebabkan penghancuran akidah Islam dan secara keji telah mengorbankan jiwa kaum muslim-mukmin dalam jumlah yang tidak kecil, lagi-lagi semua itu hanya untuk tujuan politik semata yang dibalut oleh sentimen loyalitas terhadap agama. Di antaranya adalah, pertama, peristiwa perang terhadap ahlu al-riddah (hurub al-riddah) yang dipimpin oleh Khalifah pertama Abu Bakar al-Shiddiq. Peristiwa ini dilakukan untuk memerangi kaum muslim yang tidak membayar zakat tahunan (‘iqal). Peristiwa yang kontroversial ini sebenarnya dikritik oleh Umar bin Khattab.

Dalam sebuah riwayat Umar berkata pada Abu Bakar: “Wahai Abu Bakar apakah Anda akan memerangi mereka, sementara Anda pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Aku diperintahkan memerangi manusia hingga mereka mengucapkan “La Ilaha illa Allah.” Jika mereka telah mengucapkannya, berarti mereka telah melindungi darah dan harta mereka dariku. Perhitungan mereka ada di tangan Allah.” Padahal, sebagaimana diketahui, bahwa orang-orang yang diperangi oleh Abu Bakar ini bukan saja masih mempertahankan ketauhidan mereka, tapi mereka juga masih menjalankan shalat. Abu Bakar dalam hal ini telah mempersempit makna kemurtadan dengan membatasi hanya pada orang-orang yang tidak membayar zakat pada baitul mal.

Menurut Syahrur, kasus ini tidak murni terkait dengan persoalan agama, tapi juga adalah soal wibawa politik dan faktor ekonomi yang dibalut dengan loyalitas keagamaan. Abu Bakar ingin agar loyalitas umat terhadap dirinya—sebagai khalifah pengganti Rasul—tidak berubah sama halnya dengan loyalitas umat terhadap Rasulullah sebelum beliau wafat. Maka ia menuntut agar ketaatan yang selama ini telah dilakukan oleh umat terhadap Nabi dalam bentuk membayar zakat tahunan, juga bisa terus dilakukan semasa kepemimpinan beliau sebagai pengganti Nabi Muhammad. Namun demikian, keadaannya tidaklah seperti itu. Umat sangat sadar, bahwa Abu bakar dan sahabat lain bukanlah nabi seperti Muhammad SAW. Di lain pihak, Nabi Muhammad juga tidak pernah mewariskan kepemimpinannya kepada siapa pun secara tegas. Sebagaimana dikutip oleh al-Thabari, Al-Huthai’ah, seorang penyair yang dianggap murtad pada saat itu menyatakan kekesalannya:

“Kami tunduk kepada Rasulullah selama beliau berada di antara kita
Wahai hamba-hamba Allah, apa pedulinya dengan Abu Bakar
Apakah Beliau mewariskannya kepada Abu Bakar setelah beliau meninggal?
Demi Allah, itu merupakan kehancuran.”

Kedua, al-Fitnah Kubra yang telah menyebabkan kematian sahabat Usman bin Affan. Peristiwa ini sebagaimana disampaikan oleh Thaha Husain merupakan perseteruan kesukuan (tanazu’ al-walla al-’asyairi) antara elit Arab saat itu, yakni antara Bani Hasyim dan Bani Umayah.

Ketiga, Perang Jamal yang merupakan buntut dari tragedi terbunuhnya Usman bin Affan ini juga berpangkal dari perselisihan elit politik Arab yang memperhadapkan antara orang-orang terdekat dan kader terbaik Nabi, antara kelompok Aisyah dengan Ali bin Abi Thalib. Menurut al-Thabari, dalam peperangan ini tak tanggung umat Islam yang terbunuh sebanyak kurang lebih 15.000 jiwa terdiri dari penduduk Basrah dan penduduk Kufah. Jumlahnya menurut Thabari sepuluh kali lipat dari jumlah korban meninggal pada semua peperangan yang dilakukan pada masa Nabi hidup. Dalam hal ini loyalitas agama dijadikan tameng terhadap perebutan loyalitas antar elit Arab saat itu.

Keempat, Perang Shiffin yang lagi-lagi sebagai buntut dari terbunuhnya Usman bin Affan. Loyalitas kesukuan dan pembangkangan antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah menjadi lebih runcing terjadi dalam perang Shiffin ini. Namun demikian, seperti pola yang terjadi pada pertikaian sebelumnya, penggunaan simbol agama dan loyalitas keagamaan membalut dalam peperangan ini, sehingga membuat umat pada saat itu gamang dan terbagi pada dua kelompok besar antara pendukung Khalifah Ali dan Gubernur Mu’awiyah yang melakukan perlawan kepada Ali. Munculnya proses Tahkim di Daumah al-Jandal adalah sebentuk politisasi atau manipulasi simbol-simbol agama yang tejadi dalam perang ini. Menurut para sejarawan, korban tewas akibat perang ini mencapai angka 60.000 jiwa. Angka yang cukup besar.

Empat peristiwa besar ini telah membuktikan bahwa loyalitas (al-walla) terhadap agama dapat dikalahkan oleh loyalitas terhadap elit-elit politik. Loyalitas terhadap ketuhanan telah ditundukkan pada loyalitas terhadap kekuasaan. Bukan hanya telah mengorbankan jiwa dan kemanusiaan, tapi juga mengorbankan Islam itu sendiri, bahkan mengoyak ajaran-ajaran luhur dalam Islam, seperti persaudaraan, cinta kasih, dan perdamaian. Maka menjadi tidak aneh, jika di kemudian hari ajaran al-walla wa al-barra ini dalam batas-batas yang sangat jauh telah berubah menyimpang menjadi fanatisme buta dan gerakan mengkafirkan (takfir) terhadap kelompok di luar kelompoknya sendiri, dan berujung pada mudahnya mengalirkan darah saudaranya sendiri atas dasar fanatisme buta tersebut.

Kehendak al-Quran

Al-walla wa al-barra merupakan konsep yang terdapat dalam al-Quran, namun dalam perjalanan sejarah umat, implementasinya tidak selalu sejalan dengan apa yang dikehendaki oleh al-Quran itu sendiri. Kemunculannya malah cenderung terjerumus dan mudah dimanipulasi menjadi praktek fanatisme buta (ashabiyyah) tribalistik dan sektarian, serta fanatisme kelompok (thaifiyyah) demi pertarungan politik meraih dan mempertahankan kekuasaan.

Padahal, al-walla sepatutnya diartikan dan diejawantahkan dalam bentuk loyalitas pada kemanusiaan, dan loyalitas pada nilai-nilai kebenaran, keadilan, kesetaraan, non-diskriminasi, dan melestarikan perbedaan. Sedangkan al-barra hendaknya ditafsirkan ulang sebagai upaya berlepas diri dari berbagai keburukan, kejahatan, penindasan, pemberangusan kebebasan, dan berbagai kezhaliman dalam berbagai aspek kehidupan di dunia ini.

Apa yang terjadi pada konsep al-walla wa al-barra juga terjadi pada konsep dan ajaran kunci lainnya seperti jihad, khilafah, bay’ah, amar ma’ruf nahi munkar, bughah, qisas, riddah, dan lain-lain. Beberapa konsep ini mengalami manipulasi dan boleh juga dikatakan politisasi dalam artian dimanipulasi untuk kepentingan politik dan kekuasaan tertentu. Wallahu a’lam! *)

Muhammad Abdullah Darraz, Kader Intelektual Muhammadiyah, Alumni Pondok Pesantren Darul Arqam Garut

Sumber: https://ibtimes.id/al-walla-wa-al-barra-tafsir-manipulatif-kaum-jihadis/

(suaraislam)

Loading...