Ahok Lagi, Ahok Terus, Ahok Selalu

Sering saya merasa geli sendiri melihat gencarnya pembahasan tentang “sosok fenomenal” yang sangat ramai diperbincangkan selama beberapa bulan terakhir ini. Tentu yang saya maksud bukan Awkarin atau Donald Trump, melainkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Tidak hanya di media online, koran, televisi atau radio. Di berbagai media sosial, forum diskusi bahkan obrolan di warung kopi, topik seputar Ahok rasanya tak pernah habis dibahas. Sikap pro dan kontra mengalir berseberangan, bahkan cenderung militan.

Adalah fakta bahwa banyak orang yang simpati kepada Ahok. Juga merupakan fakta bahwa banyak pula yang tidak suka kepada Ahok. Masing-masing pihak tentu mempunyai alasan bahkan motifnya sendiri. Dalam demokrasi, masing-masing pendirian seperti itu sangat wajar.

Saya mencoba melihat dari sisi berbeda, dari pemahaman dan isi kepala saya sendiri. Saya tidak ingin mengkultuskan Ahok, karena dia bukan Tuhan. Saya juga tak ingin mendiskreditkan Ahok, karena dia makhluk yang tak sempurna, sama seperti saya. Masalah Ahok mencalonkan diri menjadi gubernur, itu hak politik dia. Masalah saya mendukung pencalonan Ahok, itu adalah hak politik saya. Yang lain tentu saja boleh berbeda pandangan maupun pilihan.

Benar saat ini Ahok sedang tersandung masalah hukum. Namun dinamika yang terjadi membuat saya tertegun, karena cenderung tidak sehat, di luar koridor hukum, bahkan tidak etis. Masalah politik, hukum dan etika dicampur aduk, dibolak-balik untuk menyasar Ahok, kemudian dikemas dalam konteks persaingan pilkada. Saya ragu tujuan pihak-pihak yang melawan Ahok tersebut adalah untuk penegakan hukum. Saya teringat pada pepatah yang mengatakan “Niat baik bila dilakukan dengan cara yang salah, akan menjadi salah. Apalagi kalau niatnya jahat.” Sebuah kesalahan mestinya tidak dibalas dengan kesalahan lainnya. Misalnya soal Ahok yang dianggap sering berkata kasar, sehingga diberi predikat “si mulut jamban”. Bagi saya, orang yang memberi predikat itu, menjadi sama saja kualitasnya dengan orang yang diberi predikat, atau tegasnya sama-sama “mulut jamban”. Menuduh orang lain kasar dengan cara yang kasar, tidak membuat dirinya sendiri menjadi tampak lebih baik.

Yang membuat saya garuk kepala padahal tidak gatal adalah kasus yang membelit Ahok dan saat ini sedang disidangkan. Sependek pemahaman saya, masalah pidana, demikian juga tanggung jawab pidana adalah masalah personal. Apalagi kasus Ahok ini tidak ada kaitannya dengan jabatan yang disandang. Kasusnya pun bukan kejahatan jabatan. Saya menjadi gagal paham ketika persoalan ini akhirnya dikait-kaitkan dalam persaingan pilkada, yang sejatinya untuk saling beradu program kerja antar kandidat maupun para pendukungnya.

Terakhir yang menjadi polemik panas dalam seminggu ini adalah soal keabsahan dan tuntutan untuk menonaktifkan Ahok dari jabatannya sebagai Gubernur karena statusnya sebagai terdakwa. Terlepas dari perdebatan hukum yang terjadi (saya juga punya pandangan sendiri dalam hal ini), momentum untuk menyampaikan alasan seperti ini terkesan dipaksakan, bahkan dicari-cari. Bagaimana tidak, tuntutan tersebut semestinya langsung disampaikan pada hari pertama Ahok duduk sebagai terdakwa. Soal saat itu Ahok telah non aktif sementara untuk mengikuti cuti masa kampanye merupakan persoalan lain. Dengan tidak mendesak tuntutan tersebut, menimbulkan dugaan bahwa hal tersebut disengaja, karena mungkin saja saat itu masih ada isu lain yang bisa digunakan untuk menyerang Ahok. Jika dugaan tersebut benar, maka tak dapat dipungkiri bahwa motifnya adalah untuk kepentingan politik, bukan demi penegakan hukum.

Melihat sejumlah indikasi tersebut, rasanya tidak berlebihan jika akhirnya saya menjadi khawatir bahwa apapun yang nantinya akan dilakukan oleh Ahok dapat menjadi permasalahan baru. Bukan saja tindakannya, tutur katanya, bahkan bila perlu saat Ahok melotot pun bisa menjadi sumber permasalahan. Saran saya, sebaiknya Ahok tetap fokus pada pelaksanaan program kerja, serta tidak lupa menjaga pola makan, karena tidak ada jaminan Ahok tak akan dituntut dengan tuduhan pencemaran udara kalau (misalnya) ketahuan sedang kentut.
Duuhhh…, Ahok.

Gloria Tamba
Jakarta, 18 Februari 2017.

Loading...