AHOK, Cahaya Purnama Penerang Jakarta

Hari ini RPTRA ke 184 di DKI Jakarta, Kalijodo diresmikan.

Terimakasih Pak Ahok, yang telah merubah Kalijodo, sarang lokalisasi prostitusi, judi dan preman menjadi taman yang dilengkapi dengan fasilitas dari arena bermain seperti arena skate park dan BMX, lapangan futsal, amfiteater hingga fasilitas publik seperti mushala, area berdagang, ruang serba guna, terminal parking electronic, outdoor gym hingga toilet ber-AC, bahkan untuk penyadang difabel pun disediakan toilet khusus.

Target Ahok membangun 500 RPTRA, menuntaskan normalisasi sungai, membangun rusun, membangun masjid-masjid dan mengumrohkan marbotnya, melayani warga DKI dengan proses birokrasi yang bersih dan profesional, menyediakan sarana transportasi yang nyaman, bahkan gratis untuk kamu lansia, menyediakan fasilitas KJP dan KJS yang sudah dinikmati warganya, menyehatkan dan memberikan gizi yang baik dengan mengadakan pasar murah dimana harga daging sapi Rp. 35,000/kg, menyediakan beasiswa bagi lulusan SMA yang masuk Universitas Negeri. Dan masih banyak lagi hal yang sudah dilakukan Ahok bagi kamu, warga DKI.

Pengabdian yang mungkin tak bisa kamu dapatkan di sebagian besar wilayah negeri ini.
Pengabdian yang menjadi impian begitu banyak warga di daerah-daerah yang hanya bisa menelan ludah setiap menyaksikan betapa hidup kalian begitu dinyamankan bagai seorang majikan kesayangan, sambil mereka berkata,” Ah seandainya Ahok ada di kampung saya Mbak Niluh, tak akan sia-siakan, sesak dada saya dan maaf jika saya berkata, warga Jakarta tak bisa melihat kebaikan gubernurnya dan mereka tak ngerti kalau mereka itu begitu beruntung punya Ahok.”

Pengabdian yang menjadi cerminan anak bangsa yang bertekad untuk menjadi pelayan rakyat.

Pengabdian yang tulus dari hati tanpa disandera kepentingan politik karena cita-cita dia sangat sederhana : Otak, Perut, dan dompet warga DKI harus penuh.

Ibarat kalian mencampakkan berlian yang sudah ditangan dan sibuk memunguti batu kerikil, dengan harapan akan bisa bercahaya dan memberikan manfaat yang sama. Itulah perasaan saya saat ini sambil menarik nafas panjang, karena bagaimanapun cara saya menyampaikan semua program kerja dan beruntungnya kalian punya Ahok jadi pelayan rakyat, mata dan hati seakan tertutup dengan dengungan Ahok si penoda agama.

Mungkin untuk menyadari betapa kita kehilangan seseorang yang memberi arti bagi hidup kita adalah saat kita melepaskan dia.
Mungkin saat dia pergi kita akan merasakan betapa hidup kita tak lagi semudah dan senyaman saat dia masih bersama kita.
Dan nomor-nomor telpon itu tak lagi menjawab pertanyaan kalian disaat kalian berceloteh dan bercerita atas semua yang terjadi dan solusi yang kalian tanyakan atas semua permasalahan yang kalian alami.

Dan kitapun berbisik lirih ,” Seandainya waktu bisa kuputar kembali, kan kuberi dia kesempatan untuk membahagiakanku lagi, atas kesalahannya, sebagai manusia yang tak luput dari dosa, kan kubuka pintu maaf yang sebesarnya untuknya.”

Akankah rasa itu hinggap di hati kalian warga Jakarta ?
Akankah pintu maaf itu bisa kalian bukakan untuknya ?
Tidakkah kalian melihat, merasa, menyadari semua pengabdiannya yang dia lakukan atas dasar ketulusan sepenuh hatinya ?

Atau akankah penyesalan datang saat kalian menyingkirkannya ?

Ikuti kata hatimu warga Jakarta.
Aku sayang kalian semuanya. Jakarta adalah rumah keduaku.
Dan kalian adalah saudara-saudaraku.

Jangan biarkan cahaya purnama itu pergi.

Love, Niluh.

Loading...