Adat dan Aurat

Sesaat setelah posting foto para ibu semangat berkebaya, muncul sebuah status dengan background merah menyala milik seorang kawan lama. Begini bunyinya: “dulu masih santri berhijab leher tidak kelihatan. Eee sekarang sudah jadi emak2 berhijab pamer leher. Waras antunna?”_ Cukup banyak yang melike juga komen, antara lain ada yang menulis: “santri gadungan”. Begitulah bila emosi di depan, si arif ketinggalan. Merdu bukan?!

Padahal pesan jilbab itu mulanya, untuk menciptakan keamanan bagi: perempuan keluarga Nabi dan wanita mukmin lain, yang kadang diganggu karena disangka budak oleh para pria iseng (alAhzab:59). Juga, agar tidak memamerkan hal yang membuat para suami cemburu di masa itu (anNur: 31). Manusia terus membangun peradabannya.
Lebih seribu tahun kemudian, hampir semua sepakat konsep hidup ideal adalah yang merdeka, lepas dari penjajahan apalagi perbudakan. Semua manusia memiliki hak asasi. Pria dan wanita dididik untuk sama-sama menjunjung etika. Bila kini ada perempuan menggugah budaya kebanggaan bangsanya malah dihina. Antum kenapa?

Apakah antum juga menyalahkan para ibu dan guru dahulu. Yang mungkin semua jadi tidak senonoh bagi antum, karena tak berhijab syar’i ala muslim hijrah jaman now? Sekalian silahkan antum gugat para ulama sepuh yang anak, istri dan santrinya mengajar dan belajar mengaji dengan pakai baju tradisional saja dan lehernya terbiar tanpa khimar.

Ini Indonesia. Nusantara. Hanya di sini islam punya pewayangan, kisah negara Hastinapura diiring langgam Jawa dan gamelannya. Silahkan menganggap santri gadungan. Bila antum juga menyesalkan adaptasi seni budaya Wali Sembilan. Dahulu Islam diterima karena membawa angin kedamaian, bukan kebekuan ajaran. Pakaian antum boleh syar’i. Tapi hafalan hadits tentang hakikatnya ingat-ingat lagi, bahwa: sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh-tubuh kalian, tidak pula melihat gambar diri kalian. Tetapi Allah melihat hati-hati kalian.

Lalu hadir di ingatan saya sosok wanita terpelajar, yang memperoleh anugrah ‘medali ilmu pengetahuan’ atas disertasinya dari Presiden Mesir Gamal Abdel Naser: Ibu Zakiyah Daradjat. Saya beruntung dapat berguru padanya langsung saat kuliah Psikologi Agama. Beliaulah perempuan pertama yang pernah dipercaya menjadi salah satu ketua Majelis Ulama Indonesia.

Dan sang Guru Besar di UIN Jakarta ini setiap datang mengajar senantiasa berkain dengan baju kurung atau kebaya. Selembar selendang tersampir halus di kepala. Sebagian rambut dan lehernya nampak dan itu biasa saja. Beliau nyaman dengan dirinya, yang di hadapan bersikap hormat padanya. Ibu Zakiyah (almarhum) selalu seperti itu. Membawa serta aura perempuan independen yang berbudi, berseni, dan berilmu.

Sampai di sini cemoohan antum tadi seperti tong kosong saja. Itu baru satu cermin dari Ibu Profesor yang menggali ilmu tinggi di negeri para mufti. Mustahil soal aurat beliau tidak mengerti. Sama mustahilnya bila para Kyai ratusan tahun membiarkan istri, anak dan santrinya berdosa dengan tidak memaksa mereka melilitkan kerudung ke seluruh tubuh.

Lalu apa yang mereka lakukan? Para ulama teladan itu bersikap cerdas dan bijak. Tak sekedar menelaah teks, tapi juga memahami konteks. Sehingga tidak saklek menghakimi tubuh wanita. Mereka melihat diantara adat dan aurat ada dialog budaya dalam tatakrama. Diantara syariat dan hakikat ada realitas peradaban manusia. Yang disyariatkan di masa perbudakan, tidak untuk dipaksakan di jaman berbeda yang tak lagi mengenal kultur budak belian.

Faktanya barulah di era belakangan ini hijab dan jilbab menjadi ornamen kesolehan baru. Begitu gegap gempitanya inovasi fashion busana muslim. Beriringan dengan kemunculan para ustad/ustadzah seleb yang melengkapi arena pop culture. Banyak yang merasa ini pertanda ghiroh beragama naik. Meski soal disiplin buang sampah masih rendah, dan fenomena korupsi tetap tinggi.

Jarang yang menyadari, bahwa setiap celah dalam agama telah dibidik industri. Hukum pasar di sana bisa berselancar. Tak heran bisnis syar’i berkelindan. Aneka rupa gamis, tunik, khimar, manset, ciput, bros, hingga kaos kaki, salon perawatan, make up, masker, shampoo, dll dibranding syar’i, gaya hidup islami. Komodifikasi agama, adalah fakta yang tak terbantahkan, berada di garis depan.

Maka, kalem-kalemlah, Breder. Orientasi berpakainmu seperti apa itu hanya permukaan saja. Cek kedalaman hati dan jiwa. Itu lebih mendasar ketimbang menakar spiritualitas orang lain dengan kacamata kuda. Lelaki auratnya hanya dari pusar dan lutut saja. Tetapi bila telanjang dada ke kantor kelurahan, tentu sudah tak sopan. Itulah konteks. Sama halnya aurat perempuan, jangan kode etikmu secara kaku dipaksakan.

Terakhir, madzhab pemikiran islam sejak awal sejarahnya tidaklah seragam. Perbedaan telah diyakini sebagai rahmat. Tentang satu hal saja, semua madzhab memiliki hujjah. Sehingga mereka terlepas dari klaim paling benar atau paling salah. Pakaian memang perlu dikenakan aman, nyaman dan sopan. Bila kamu yakin pakaianmu bernilai ibadah, apalah guna ibadah itu bila membuatmu melihat orang yang berbeda: rendah.

Nisa Alwis

Sumber: https://www.facebook.com/nisa.alwis/posts/10213323957917955

(Suara Islam)

Loading...