Yusuf Muhammad: UAS dan “Jin Kafir”

“Ada Jin kafir di dalam patung salip,” begitu ucap ustad Abdul Somad (UAS) dalam sebuah video ceramah yang viral di media sosial.

Entah UAS hanya bercanda atau sengaja menghina, yang jelas saya sangat menyayangkan ceramah UAS karena telah melenceng dari kaidah dakwah Islam yang sebenarnya.

Mengatakan ada “Jin Kafir” pada simbol agama saudara yang bukan seiman adalah sesuatu yang tidak tepat. Kata-kata itu lebih tepat jika diucapkan oleh orang yang tak punya pendidikan agama. Lha, ini yang bilang seorang UAS, gelarnya Lc, MA.

Kita boleh tidak setuju, tidak sepaham, dan tidak terima keyakinan atau ajaran agama lain, namun mengatakan sesuatu yang dapat menumbuhkan kebencian terhadap pemeluk agama lain adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan.

Sebagai warganegara yang baik, yang hidup dalam bingkai Pancasila dan nilai-nilai keluhuran, maka sudah semestinya kita harus saling menghormati, serta menghargai satu sama lain. Bukan hanya menghormati sebagai sesama makhluk sosial, namun juga sebagai makhluk yang ber-Ketuhanan.

Bukankah dalam kitab suci Al-Qur’an surah Al-Kafirun dikatakan, “Laa a’budu maa ta’buduun” ( Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah) ?

Bukankah juga dikatakan, “wa laa antum ‘aabiduuna maa a’bud” ( dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah) ?

Dan bukankah sudah dipertegas dengan ayat penutup, “Lakum diinukum waliyadiin.” (Bagimu agamamu dan bagiku agamaku ?

Sungguh demi Allah banyak ayat suci Al-Qur’an yang mengajarkan tentang toleransi dan perdamaian, namun mengapa banyak oknum ustadz yang lebih memilih untuk mengajarkan tentang kebencian dan permusuhan?

Dalam kasus “Salip dan Jin Kafir” ini, mungkinkah lidah UAS sedang kesleo? Wallahu a’lam (hanya Allah yang tahu).

Atas ucapan UAS yang diduga telah menista agama, Brigade Meo Nusa Tenggara Timur (NTT) melaporkan UAS ke Kepolisian Daerah NTT terkait video salib dan patung yang dinilai telah menistakan agama Kristen.

Sebagai negara hukum, apa yang dilakukan oleh Brigade Meo NTT saya kira sudah tepat. Tidak perlu menggerakkan masa berjilid-jilid, tapi cukup dengan melaporkan kepada penegak hukum. Semoga hukum benar-benar dapat ditegakkan.

Kedepannya, saya berharap kepada semua penceramah, agar lebih mengedepankan dakwah yang menyejukkan, menjaga persatuan dan toleransi antar umat beragama.

Sebagai bangsa yang besar seperti Indonesia, yang memiliki beragam suku, agama dan budaya maka hendaknya selain menjaga ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama umat muslim), juga harus menjaga ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebagai bangsa), dan ukhuwah basyariyah/insaniyah (persaudaraan sesama umat manusia).

Banyak bangsa lain yang saling bermusuhan akibat provokasi agama. Semoga dihari kemerdekaan yang ke 74 ini, kita bangsa Indonesia dapat mengambil hikmah dan menjaga persatuan. Aamiin.

Kejadian pembacokan anggota polisi kemaren sore di polsek Wonokromo, Surabaya juga bisa kita jadikan renungan bersama, betapa a sudah bahayanya provokasi dan doktrin sesat yang mengatasnamakan agama. Pelaku berinisial IM dan istrinya diketahui mengalami perubahan perilaku setelah mengikuti satu kelompok pengajian.

Perubahan itu bisa dilihat dari istri IM yang sebelumnya tidak bercadar kemudian sekarang bercadar. Selain itu, mereka juga jarang berkumpul dengan tetangga kos. Dugaan sementara, pelaku pembacokan terpapar paham radikal.

“Beragama itu dengan akhlaqmu, bukan semata dengan merubah berpakaianmu. Jangan sampai yang masuk Surga cuma pakaiannmu, sementara kamu hanya masuk angin.”

Sumber: FB Yusuf Muhammad

(suaraislam)