Wow! Ini Kesaksian Pendeta Kristen tentang Kiai Ma’ruf Amin

1738

Saya termangu-mangu, takjub mendengarkan uraian bernas dari KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum MUI, yang sangat sejuk dan mengayomi. Mengawali paparannya pada Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Fornas Bhinneka Tunggal Ika, beliau mensyukuri Bung Karno yang telah mempersatukan Indonesia dengan ideologi Pancasila. “Saya mensyukuri tokoh agama yang toleran dan para pemimpin yang mampu merawat NKRI dengan dasar Pancasila, walau potensi perpecahan besar”, demikian Pak Kyai berujar dengan lembut, pada acara Deklarasi pembentukan Fornas BTI Kota Bekasi, Sabtu, 7 Oktober 2017, di GOR Yayasan Fisabilillah, Bekasi.

Lebih lanjut beliau berkata, “Memang ada hambatan karena masih ada yang belum memiliki komitmen kebangsaan, seperti kelompok Islam radikal dan intoleran. Tapi jumlah mereka kecil”. Menurutnya, sesungguhnya Islam dan kebangsaan di Indonesia sudah selesai. “Islam dan Pancasila saling menguatkan dan tidak berbenturan. Kalau ada benturan, pasti ada yang salah, entah tafsir dalam Islamnya atau tafsir Kebangsaannya!”, pungkasnya.

Menurutnya, mispersepsi ini yang harus diselesaikan.

“Bagi umat Islam sudah final: Indonesia bukan negara Islam, tapi juga bukan negara kafir; bukan negara perang tapi negara kesepakatan. Itu sebabnya Islam di Indonesia telah menyepakati untuk membangun paradigma persaudaraan dengan tiga ukuwah, yakni ukuwah islamiah, ukuwah watoniah dan ukuwah insaniah. Hubungan kewarganegaraan adalah hubungan saling berjanji, untuk hidup berdampingan secara damai. Saling menolong dan saling membantu karena kita saling membutuhkan. Di sini perlunya kita membangun Teologi Kerukunan, agar kita dimampukan hidup berdampingan secara damai dan tolong menolong.”

Menanggapi makin tingginya aksi-aksi intoleran dan radikalisme, Kyai Ma’ruf berkata, “Kelompok yang ingin mengubah dasar negara muncul karena cara berpikir yang intoleran. Menurut mereka negara RI harus seperti yang mereka maui. Jangankan pada agama lain, yang seagama saja mereka kafirkan. Intoleransi ini melahirkan radikalisme dan selanjutnya terorisme.”

Menurutnya, akar dari semua itu adalah cara berpikir tekstual dalam membaca dan memahami Kitab Suci. Lebih lanjut beliau berkata bahwa cara berpikir tekstual selamanya adalah kesesatan dalam beragama. “Ini yang melahirkan intoleransi dan pada gilirannya akan melahirkan radikalisme, bahkan terorisme, yang memperoleh momentum ketika ada ketidak-adilan.”, demikian Kyai Ma’ruf. Lanjutnya, “Yang bisa toleran itu adalah yang berpikir kontekstual. Dalam tradisi Islam, jika ada hal yang tak bisa diselesaikan secara konvensional, maka yang ditempuh adalah solusi fiqih. Ini banyak ditempuh dalam solusi kebangsaan……”

Menghadapi fenomena ini, Kyai Ma’ruf menyarankan perlunya dikembangkan hubungan yang saling mencintai dan bukan yang saling membenci. “Deradikslisasi dan Kontra Radikalisme itu harus merupakan gerakan bersama dan masif dengan prinsip tri ukuwah tadi. Deradikalisasi tidak hanya oleh BNPT, tapi oleh kita semua. Dan sumbernya harus dikikis. Salah satu sumbernya kini adalah perguruan tinggi seperti STAN, IPB dan ITB. Lembaga pendidikan negeri yang melahirkan calon-calon pemimpin kini melahirkan orang-orang radikal dan melakukan penyebaran. Ini perlu dicuci dan ditahirkan. Umat Islam punya tanggung-jawab besar untuk menjaga kerukunan.”

Sementara itu, Romo Frans Magnis Suseno menyebutkan, sesungguhnya intoleransi adalah gejala universal, ini sifat yang buruj dari manusia, ini ada di mana-mana. Tetapi belum tentu semua mewujud menjadi radikalisme. Menurutnya, radikalisme adalah sikap ekstrim karena ajaran agamanya. “Maka yang kita butuhkan adalah agama yang menjadi rahmat, bukan agama yang menakutkan. Dan saya berbahagia hari ini, karena lewat Dialog Kebangsaan hari ini saya menyaksikan agama yang ramah dan rahmat”, demikian Romo Magnis.

Sementara saya sendiri lebih banyak mengungkapkan keprihatinan atas marjinalisasi nilai-nilai Pancasila paska Reformasi 1998. “Sejak 1998, kita bukan hanya meminggirkan Orde Baru, tapi juga Pancasila. Tak ada lagi pengajaran tentang Pancasila dan Kebangsaan di sekolah-sekolah. Lagu-lagu daerah dan lagu-lagu perjuangan pun tak lagi diperkenalkan”. Lebih lanjut saya mengungkapkan bahwa mereka yang berusia 3 tahun pada 1998 dan yang lahir sesudahnya kini menjadi TUNA PANCASILA. Dan jumlah mereka ini kini 40 persen penduduk Indonesia atau setara 120 juta.

Lebih lanjut saya mengaakan: “Mereka yang Tuna Pancasila atau nir-ideologi ini, dalam kesehariannya berhadapan dengan realitas kemiskinan dan ketidak-adilan. Maka mereka mudah sekali teriming-iming dengan ideologi lain di luar Pancasila. Apalagi dengan iming-iming sorga. Ini menjadi lahan subur bagi radikalisme, bahkan aksi terorisme”

Dalam kaitan inilah saya melihat pentingnya acara semacam ini, di mana anak-anak muda menggali ulang dan memaknai nilsi-nilai Pancasila.

Hal kedua yang saya sampaikan adalah posisi dan sumbangan Islam Indonesia kepada peradaban dunia di masa depan. Saya katakan, di masa depan, saya memprediksi, peradaban dunia akan sangat banyak dipengaruhi oleh peradaban Islam. Hal ini tak terelakkan melihat demografi dunia yang memperlihakan kecenderungan pertambahan umat Islam di dunia yang begitu signifikan dibandingkan dengan umat beragama lain. Jumlah besar ini ditambah dengan penyebaran yang meluas akibat arus pengungsi yang terus menerus demi mengindari konflik Timur Tengah yang bekepanjangan, akan menempatkan Islam pada posisi yang strategis dalam mempengaruhi peradaban dunia di masa depan.

“Yang menjadi pertanyaan adalah Islam yang bagaimana yang akan mempengaruhi peradaban dunia tersebut? Saya melihat, Indonesia, bisa menyumbang besar bagi peradaban dunia dengan memperkenalkan model Islam Indonesia. Islam Indonesia sudah membuktikan diri sebagai agama yang mampu mengakomodasi budaya lokal sebagai bagian dari Identitas Islam Indonesia yang toleran dan moderat. Islam Nusantara atau Islam berkemajuan sangat kompatibel dengan penegakan HAM dan sejalan dengan demokrasi, berbeda dengan model Islam di Afganistan, Pakistan, bahkan dengan Islam di Timur Tengah sendiri.

Menurut saya, posisi Islam Indonesia sebagai penduduk Islam terbesar di dunia sangat strategis dalam mempengaruhi peradaban dunia di mass depan. “Oleh karena itu, tugas kita semua merawat dan mempertahankan Islam Indonesia yang toleran dan akomodatif dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika”, demikian saya menyimpulkan.

Pdt Gomar Gultom
Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI)

(suaraislam)