Waspadalah! Teroris ‘Menyelundup’ Lewat Politik

Ilustrasi, Anggota Tim Densus 88 Antiteror tengah menangkap terduga teroris.

Teroris menyelundup ke dunia politik bukan isapan jempol. Pengamat terorisme Al Chaidar menyebut mereka bahkan masuk dalam proses demokrasi demi mendapatkan kekuasaan.

“Dia (masuk) lebih elegan dan saat ini sudah mulai bermain,” kata Al Chaidar saat dihubungi, Jumat, 12 Juli 2019.

Chaidir tak menampik ada kelompok teroris yang masuk sebagai salah satu pendukung calon presiden. Bahkan, mereka turut mendanai agenda-agenda tertentu. 

“Ini kenyataan yang saya juga tidak mau membantah karena malas berurusan dengan orang-orang seperti itu,” ungkap dia.

Mantan anggota kelompok teroris Negara Islam Indonesia (NII) ini menyebut teroris sudah masuk dengan cara berbeda. Mereka memanfaatkan bisnis, pariwisata, hingga politik.

Chaidar meminta pemerintah bergerak cepat. Pemerintah harus mengidentifikasi sedari dini.

“Lalu lakukan track record, harus diikuti terus menerus dan tidak boleh putus. Itu kewajiban negara untuk memperbarui terus-menerus informasi sekecil apa pun,” ujar dia.

Sebelumnya, pengamat terorisme Noor Hadi mengatakan jaringan terorisme Jamaah Islamiah (JI) bisa saja menyusup melalui berbagai saluran. Saat ini, teroris mulai aktif di berbagai gerakan sosial maupun politik.

Teroris mulai menunggangi proses demokrasi melalui pemilu. Gelagat ini juga sudah lama dilihat Pengamat Intelijen Universitas Indonesia Ridlwan Habib. Teroris benar-benar memanfaatkan politik pecah belah pada Pemilu Serentak 2019.

Pada dasarnya, konflik kubu Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menjadi saluran mereka memicu konflik. Mereka tak pusing siapa yang menang. Teroris hanya memanfaatkan gesekan antarkubu.

“Bagi mereka perhelatan pemilu atau acara demokrasi tidak terkait langsung dengan organisasinya,” ujar dia.

Organisasi teroris itu, terang Ridlwan, hanya bisa berhasil menancapkan ideologinya di satu negara jika terjadi konflik antara dua pihak. Ridlwan mencontohkan di Suriah ada konflik antara Islam Sunni dan Syiah.

“Mereka hanya mementingkan momen konflik dua kubu,” ujar dia.

(medcom/suaraislam)