Waspadalah! Felix Siauw, HTI, dan Slogan Indonesia Bertauhid

Indonesia Negara Bertauhid. Demikian bunyi tema dalam banner itu. Sebuah acara tabligh akbar yang akan segera dihelat pada Minggu, 9 Desember lusa di Yogyakarta. Sekilas, narasi dalam tema ini nampak biasa saja, apalagi tidak memperhatikannya secara detail.

Tapi coba perhatikan lagi sedikit lebih detail sembari kita hadirkan kembali ingatan tentang HTI dengan segala kegiatan kampaye khilafahnya. Acara tersebut akan dihadiri oleh felix siauw, sebagaimana namanya tertulis dan fotonya terpampang dalam banner itu.

Pertanyaannya, apa motif di balik narasi Indonesia Negara Bertauhid itu?. Apakah ini pernyataan biasa? Atau ada agenda tertentu di baliknya?

Agak aneh jika pernyataan itu dianggap kalimat biasa dan nir kepentingan.

Mungkin pernyataan tersebut sebatas penegasan dan kalimat berita jika tidak terkait dengan felix siaw yang telah maklum keberadaannya sebagai tokoh HTI. Perkumpulan yang menolak konsep negara pancasila karena tidak dianggap islami.

Dahulu, dalam kampanye Khilafahnya, HTI secara terang-terangan menggunakan istilah khilafah dan sesekali menggunakan istilah lainnya, syariah atau syar’i. Namun pasca pelarangannya, Istilah khilafah tidak lagi dipakai. Ya, mungkin saja strategi mereka untuk menghindari keributan dan konfrontasi dengan pihak pemerintah atau pihak – pihak yang tidak sepakat dengan mereka.

Istilah syar’i sendiri, pada akhirnya menjadi bias dari jargon HTI karena istilah tersebut juga dimanfaatkan oleh para pelaku ekonomi. Para pebisnis terutama di bidang fashion, beramai-ramai melabeli produk fashion mereka dengan istilah syar’i, cukup signifikan memang raupan keuntungan mereka dengan embel-embel itu. Begitu juga para praktisi perbankkan, mereka tidak mau ketinggalan memanfaatkan menggeliatnya gairah para pemburu label syar’i sehingga bank-bank konvensional pun disulap seolah berubah menjadi bank konvensional syar’i.

Entahlah, siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan. Yang jelas, label syar’i itu belakangan jarang lagi dimunculkan oleh HTI karena banyak juga pihak-pihak di luar HTI menggunakan istilah yang sama namun lebih lengkap, syariah. Lembaga pendidikan tinggi pun kemudian beramai-ramai menawarkan jurusan baru, ekonomi syariah. Tentu ini dapat berdampak semakin membiasnya jargon politis mereka.

Belakangan, setelah mereka bertapa dan melakukan penyamaran-penyamaran di tengah masyarakat, akhirnya beberapa bulan yang lalu mereka melahirkan istilah baru yaitu tauhid. Launching istilah itu dilakukan dengan memanfaatkan moment hari santri dengan melakukan penyusupan mengibarkan bendera mereka di tengah-tengah peserta acara hari santri di Garut, jawa barat. Hasilnya cukup menggembirakan bagi mereka, masyarakat awam termakan issue yg mereka goreng bahwa yg dibakar adalah bendera tauhid, bukan bendera HTI. Benarkah klaim itu? Tentu itu kebohongan belaka.

Masyarakat harus jeli tentang pola(h) tingkah felix dan kawan-kawannya. Mereka sudah biasa melakukan adaptasi saat dirasa dalam pantauan dan ancaman, atau saat jualannya kurang mendapatkan respon yang bagus.

Kok berubah-ubah? Tidak konsisten. Bagi orang-orang yang punya kepentingan seperti mereka ini, dalam istilah saya, sikap tidak konsisten itu adalah bentuk konsistensi. Karena yang penting dan utama adalah tercapainya tujuan meski dengan cara yang tidak elegan dan tidak halal seklaipun, menyebarkan hoax misalnya.

Istilah Indonesia Negara Bertauhid jika dirunut dan dikaitkan dengan peristiwa – peristiwa beberapa waktu lalu, sangat mungkin erat hubungannya dengan agenda felix dan kelompoknya, khilafah. Mereka memanipulasi istilah saja agar nampak baru, dan bukan lagi HTI yang terlarang itu. Bungkus beda isinya tetap sama saja. Tapi apakah semua orang bisa mereka bohongi? Tentu tidak lah. Di negeri ini masih banyak orang – orang yang sehat jasmani dan rohani. Akal sehatnya terpelihara dan nalar kritisnya masih menggelora.

Namun demikian, bagi siapa pun yang tidak sejalan dan berpihak pada mereka, tetap harus dapat menempatkan diri pada posisi yang seharusnya.

Cara paling aman dan kondusif untuk menghadang laju gerakan kampanye mereka ini adalah memberikan informasi dan edukasi yg baik kepada masyarakat awam agar faham atas misi-misi ambisius mereka yang rentan menuai konflik di tengah damainya kehidupan di negeri kita ini.

KH Dr Tajul Muluk, MA., Dosen STAI Sunan Pandanaran, Yogyakarta

(bangkitmedia/suaraislam)