Waspadai Dai Zaman Akhir, Orator Kotor Penuh Caci-Maki

200

Pasca reuni 212 di monas Sabtu, 2 Desember 2017 menyisakan desas-desus tentang perkataan kotor seorang orator di panggung tersebut, yang juga berprofesi sebagai dai. Orasinya selain tidak ilmiah juga mengandung unsur caci-maki dengan mengeluarkan kata yang sangat kotor melebihi kotoran hewan. Saya sampai menyangka kata-kata “dancok” dan “matamu picek” itu pantasnya keluar dari mulut hewan.

Dalam hal ini, Lembaga Bahtsul Masail PWNU DIY mengingatkan kepada seluruh umat Islam yang mulia. Menanggapi kata-kata kotor dari mulut si dai, saya ingat sebuah perkataan Ibnu Mas’ud seorang sahabat ahli tafsir yang diriwayat Al-Bukhari dalam kitab al-adab al-mufrad dari jalur Zaid bin Tsabit:

سمعت ابن مسعود رضي الله عنه يقول: “إنكم في زمان كثير فقهاؤه، قليل خطباؤه، قليل سؤاله، كثير معطوه، العمل فيه قائد للهوى، وسيأتي من بعدكم زمان قليل فقهاؤه، كثير خطباؤه، كثير سؤاله، قليل معطوه، الهوى فيه قائد للعمل، اعلموا أن حسن الهدى في آخر الزمان خير من بعض العمل”

“Saya mendengar Ibnu Mas’ud berkata: “Sesungguhnya saat ini kalian hidup di masa banyak ulama (ahli fikih) dan sedikit ahli ceramah, sedikit yang meminta-minta, banyak yang memberi, dan amal perbuatan bisa mengendalikan hawa nafsu. Dan akan datang nanti masa setelah kalian sedikit ulama (ahli fikih) banyak ahli ceramah, banyak yang meminta-minta, sedikit yang memberi, amal perbuatan menuruti hawa nafsunya”. (HR. Al-Bukhari).

Imam Al-Hakim juga meriwayatkan atsar tersebut di dalam kitab mustadraknya dari hadits Huzail, dan beliau berkata sanad atsar ini sahih sesuai dengan Al-Bukhari dan Muslim.

Perkataan Ibnu Mas’ud tersebut menguatkan hadits marfu’ bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إنكم أصبحتُم في زمانٍ كثيرٍ فقهاؤُه، قليلٍ خطباؤُه، قليلٍ سُؤّاله، كثيرٍ معطوهُ، العملُ فيه خيرٌ من العِلمِ. وسيأتي زمانٌ قليلٌ فقهاؤُه، كثيرٌ خطباؤُه، كثيرٌ سُؤّاله، قليلٌ مُعطوهُ،العلمُ فيه خيرٌمن العمل

“Sesungguhnya kalian semua berada pada masa banyak ulama ahli fikih dan sedikit ahli ceramah, sedikit yang meminta banyak yang memberi, amal ibadah lebih baik dari pada ilmu. Dan nanti kalian akan berada pada masa sebaliknya, sedikit ulama ahli fikih, banyak ahli caramah, banyak yang meminta sedikit yang memberi, dan belajar ilmu lebih baik dari pada amal ibadah”. (HR. At-Tabrani)

Dari atsar Ibnu Mas’ud dan sabda Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa pada masa akhir zaman, kita telah diperingatkan terjadinya perubahan peradaban dimana ulama ahli fikih semakin jarang, sedikit yang memahami kitab kuning, sedikit memahami ilmu hadits, sedikit memahami ilmu ushul fikih, kaidah fikih, dan ilmu agama lainnya. Namun sebaliknya, Rasulullah SAW dan Ibnu Mas’ud mengingatkan akan banyak orang ahli ceramah, singa podium, dan dai agama.

Ustadz atau kyai ahli pidato dan ceramah bukan berarti buruk, tapi yang dimaksud adalah ahli pidato dan ceramah yang tidak melakukan apa yang diucapkan dan ahli ceramah yang tidak memahami agama.

Si dai yang berorator “kasar” di reuni alumni 212, pernah berkata saat disodori baca kitab bahwa baca kitab tidak penting dan tidak menjadi syarat berdakwah. Hal ini menunjukkan bahwa, demi Allah, orang yang dimaksud dalam hadits Nabi dan perkataan Ibnu Mas’ud sudah mulai bermunculan. Apalagi telah kita simak bersama bahwa dalam orasi agama selalu mencela dan mencaci orang, tidak ada sedikit pun materi agama yang disampaikan.

Oleh sebab itu, saya meyakini bahwa saat ini benar-benar kita masuk pada masa sedikit ulama yang ahli ilmu agama dan banyak dai penceramah dan pidato. Dan terhadap para dai penceramah yang tidak berilmu, mari kita jauhi mereka, karena dari sanalah akan keluar banyak fitnah agama. Ustad-ustad karbitan dari golongan artis dan pengusaha sebagai contoh, adalah ustad penceramah yang perlu diwaspadai sebab mereka berkata tanpa ilmu yang mumpuni.

Mari kita kembali ke para ulama pesantren, meski para ulama dan kyai pesantren tidak ahli orasi dan pidato, tapi kita diperintahkan untuk mendekati para ulama pesantren. Nabi kerkata: “… Ilmu lebih baik dari pada amal ibadah”, ini menunjukkan bahwa pada akhir zaman seperti ini orang mencari ilmu sudah langka, mereka lebih senang mendengarkan ceramah-ceramah agama, dan ada lagi yang lebih mementingkan amal perbuatan tapi menyampingkan ilmu.

Sekali lagi, sebagai lembaga bidang agama dan keagamaan, LBM PWNU DIY menghimbau agar masyarakat Islam kembali kepada ilmunya para ulama pesantren agar kita tidak terbawa oleh fitnah-fitnah dai ahli ceramah yang sedikit ilmunya sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Nabi kita Muhammad SAW dan Ibnu Mas’ud r.a.

Semoga kita semua terhindar dari fitnah dunia, fitnah agama, dan fitnah akhirat.

KH. Fajar Abdul Bashir, Ketua LBM PWNU DIY, Pengasuh Pesantren Ar-Risalah Bantul

(bangkitmedia.com/suaraislam)