Vaksinisasi untuk Politisi

Ilustrasi, Sejumlah politisi PSI gagas acara Patungan Rakyat Akbar di Jakarta, Sabtu (3/3/2018).

Penyakit 5 tahunan pas musim pilkada dan pilpres di Indonesia makin terasa beraroma SARA. Suara murahan para pembacot yang menentang kebenaran dan membelokkan kebaikan ke jalan kesesatan makin menjijikkan.

Peran medsos dan media picisan tdk bisa diabaikan bila kita mengatakan bahwa mereka juga termasuk pemalak kebenaran untuk dialihkan hanya demi kepentingan. Editan demi editan, bahkan setan dijadikan teman untuk membantu agar mereka bisa laku jualan janji palsu.

Lihat Jakarta sekarang tikusnya gemuk-gemuk karena sampah menumpuk, banyak makanan sebagai santapan. Gitu kok Anies mau di dapuk jadi capres. Bodoh ya cukup sekali, kalau diulang jadi bodoh dan gila namanya. Biarlah JK dan PS yang punya selera rendah melihat Anies bak anak emas. Jangan kita ikut rabun mengikuti mata tua yang ” belek ” nya mengaburkan segalanya. Presiden itu untuk ngurus Indonesia bukan mandiin kuda dan menata kata-kata saja.

Sekarang ini ibarat penyakit menular semua bicara presiden seperti menyiapkan sayur lodeh, bumbunya cuma dikira-kira, cicip sana sini, nanti kalau kurang tambah lagi. Mereka lupa menyiapkan pemimpin harus ada persiapan dan pengamatan. Dari mulai ilmu, akhlak dan moral serta militansinya terhadap negara. Jangan mentang-mentang bekas tentara terus bisa menguasai darat, laut dan udara. Wong sapta marga saja dia lupa, sumpah prajurit diletakkan disudut sempit. Mereka cuma komat kamit, kita yang amit-amit.

Wabah murah yang dijual rendah bakal merusak marwah, bangsa ini dibangun dengan darah bukan dengan hadiah. Pemimipinnyapun harus yang amanah, kalau cuma pemimpin gagah, sapi dipakein kaca mata juga gagah. Kalau cuma berilmu, setan gudangnya ilmu, tapi kalau akhlak dan moral tidak bisa dipungut di pinggir jalan atau dibeli karena tidak ada yang menjual. Akhlak dan moral tumbuh dari pendidikan, ketauladanan, merasakan, dari sanalah tumbuh ketokohan dalam sosok yang benar-benar berpemahaman tentang kebenaran dan kebaikan.

Sosok berilmu yang meniru setan banyak dan mewabah. Lihat di Senayan, perhatikan prilaku kepala daerah, simak kelakuan politisi. Mana yang bisa dijadikan pegangan, nyaris seperti mencari jarum ditumpukan jerami.

Vaksin adalah benda yang disuntikkan kedalam tubuh agar membantu menolak serangan virus yang mematikan atau minimal melemahkan. Revolusi mental yang dicanangkan Jokowi adalah ibarat vaksin awal agar rencana penguatan SDM dalam 5 tahun kedepan menguatkan Indonesia menghadapi kemajuan dunia yg tdk bs dihadapi hanya dengan retorika saja, tidak bisa dihadapi hanya dengan orientasi duniawi atau orientasi spiritual saja. Makanya, harus disuntikkan kedua-duanya. Maju bersama peradaban dunia, dan kuat secara spiritual demi menolak kebathilan.

Sistim kepartaian di Indonesia harus diakui turut membuat carut marut kondisi sosial dan mental bangsa yang cenderung koruptif dan bermental curang, malas dan culas. Generasi milenia harus berubah secara pasti tidak lagi diembel-embeli pemain-pemain tua yang banyak bicara kerjanya cuma cerita masa jayanya, namun celaka dihari tuanya karena pikirannya cuma mau tetap berkuasa dan kaya raya.

Vaksinisasi buat politisi harus segera dieksekusi. Partai-partai harus memulai. PSI dan NASDEM bisa dijadikan contoh awal agar anggotanya tidak jadi begal. Walau masih perlu review dan pembuktin apakah mereka tahan godaan. Indonesia butuh ketahanan mental spiritual yang seimbang dengan keduniawian agar tidak menjual sorban demi jabatan, dan membangun perkoncoan yang memalak kebenaran dan kebaikan.

Indonesia harus segera ditangan anak muda agar perubahan bisa dilakukan.

Iyyas Subiakto

Sumber: https://www.facebook.com/biakto/posts/2011304195560304

(suaraislam)