Tuan Zakir, Agama Bukan Pertarungan

Zakir Naik. Saya tidak mengenal mendalam lelaki berjenggot putih ini, saya hanya mengenalnya lewat video You tube yang mempertontonkan bagaimana ia mempermalukan pemeluk agama lain di hadapan publik. Ia menjadi Da’i selebritis. Ketenarannya menembus ruang batas umur, golongan dan lintas negara.

Menonton cara Zakir naik berceramah saya seperti menyaksikan wajah saya sendiri ketika sedang berdebat, ego ingin mengakhiri debat pandangan dengan kemenangan dan membuat lawan menyerah. Yah, kita terlalu sering beronani dalam debat. Perdebatan bukan lagi soal kebenaran tetapi bagaimana menang dan kalah. Kita kerap terjebak dalam logical falacy. Dan sialnya itu yang kita gemari. Menyaksikan zakir naik saya melihat agama menjadi begitu dangkal. Agama bukan lagi soal kesalehan, tetapi bagaimana Agama mampu menaklukan yang berbeda.

Bagi orang yang menghayati Agama sebagai sebuah ‘lelaku’ dan sumber pencerahan bathin, rasanya akan sulit menemukan adanya Tuhan saat menonton video Zakir. Bagaimana pencerahan bathin akan di peroleh jika kita terlalu asyik memuaskan diri dengan mengalahkan dan mempermalukan yang berbeda. Tapi Zakir naik adalah kita. Wajah kita sendiri yang memuaskan diri dengan menaklukan.

Bagi para pelaku sufi, pemburu cahaya hati, Agama adalah alat untuk menaiki tangga rohani. Bagi mereka Tuhan adalah tujuan akhir, tidak lagi penting wujud dan rupa karena kemanusiaan dan belas kasih adalah wujud dari hasil olah bathin. Mereka rasanya sulit untuk memperoleh cahaya itu jika menempuh jalan Zakir naik, ia adalah ironi bagi para sufi. Agama di maknai sebagai sebuah perebutan, perang tanding,pertandingan. Ini bukan lagi soal kesucian tapi bagaimana meraih kemenangan. Egoisme adalah hal yang sangat di hindari bagi rohaniawan.

Tapi sekali lagi, melihat Zakir naik saya seperti melihat wajah sendiri. Sorak kemenangan setelah mengalahkan, kepuasan menundukan menjadi ekstase , orgasme syahwat keegoan. Sialnya, saya tidak sendiri, Zakir naik adalah idola. Riuh tepuk dan peluk kebanggaan menyambutnya di negeri ini. Mendadak kita menjadi bangsa yang begitu miskin, hingga seorang dai pun kita mengimpornya. Cadangan ulama kita seperti habis hingga harus mendatangkan dari jauh. Atau jangan-jangan kita beragama karena memburu kepuasan untuk menundukan yang berbeda itu, kita sedang beronani dengan pikiran itu bukan?.Dan Zakir apakah dildo untuk mencapai orgasme itu, bukan bukan pencerahan yang kita butuhkan tapi kepuasan menunjukan bahwa kita yang terbaik. Tepat seperti tepuk tangan bergemuruh bagi Zakir naik saat ia mampu mengalahkan argumentasi agama lain. Kita mengundangnya untuk berburu kepuasan yang sama.

Dalam konteks ke Bhinekaan negara kita yang merayakan perbedaan, pikiran banal seperti ini membahayakan. Dialog lintas iman akan sulit tercapai jika tujuan akhirnya adalah menjatuhkan yang berbeda. Friksi dan gesekan perbedaan akan terus menajam, hingga puncaknya friksi itu akan berubah menjadi perang dalam arti sesungguhnya. Dialog lintas iman hakikinya adalah mengupayakan titik temu, apa yang menyatukan hingga bisa jadi batu pijak untuk melangkah bersama. Dialog tentang perbedaan hanya memberi ruang permusuhan. Musuh abadi kita sebenarnya bukan Yahudi, Nasrani, melainkan rasa permusuhan itu sendiri. Rasa permusuhan itulah yang telah mengalirkan banyak darah bahkan dari kaum Muslimin, mengalir menjadi kubangan darah sesama saudara. Sesama saudara pun bisa saling berbunuhan kalau ada permusuhan di antara mereka. Kenapa mereka berbunuhan? Politik, kekuasaan, nafsu ingin menaklukan. Dan hari ini saya melihat syahwat itu hadir bersama Zakir naik.

Mengundang Zakir Naik, kita tidak sedang beronani dengan syahwat menaklukan mereka yang berbeda bukan? Semoga.

Sumber: FB Teguh ‘awan’ Kurniawan

(suaraislam)