Tiga Macam Kelompok Pro-Kontra “Islam Nusantara”

Ilustrasi

Islam Nusantara itu kan istilah yang sudah disepakati pada Muktamar 2015 lalu. Dihadiri kiai-kiai sepuh dan ulama-ulama khas. Mbah Maimun, almarhum Mama Kiai Makhtum Hannan, Gus Mus, dan lain sebagainya hadir semua. Artinya bagi orang-orang NU, baik yang kultural dan struktural, seharusnya sudah selesai membahas istilah dan konsep.

Adapun yang di luar NU tidak setuju ya itu mah monggo aja. Sah dan itu hak kalian. Yang tidak setuju adakalanya memang benci sama NU, biasanya orang kategori ini cirinya itu gak pernah tahlilan, tawasulan haram, doakan mayit bidah, dan ada kalanya memang belum paham tentang Islam Nusantara. Bisa jadi dia orang NU kultural yang biasa tahlilan, ziarah kubur. Tapi orang model ini kalau sudah dijelasin dan dikasih tahu ya sudah setuju saja. Kalaupun tidak setuju, ya enggak nuduh yang macem-macem.

Nah, ini ada orang kategori yang ketiga, jiwanya setengh NU, setengah bukan, yang amaliah hariannya tahlilan, ziarah kubur, salaman sama ulama ya cium tangan. Tapi sama Islam Nusantara bencinya sampai ke ubun-ubun, dan tembus lagi sampe ke bool. Cirinya mudah, menuduh Islam Nusantara proyekan dari luar, sehingga pengurus-pengurus NU dianggap memakan uang haram proyekan itu. Jargon kelompok model ketiga ini biasanya, “Ayo kembalikan NU pada NU-nya Mbah Hasyim dan Mbah Wahab”. Ini miripi dengan jargon “Islam itu satu, tidak ada Islam Nusantara, Islam Amerika.” Nah, sama model yang ketiga ini kita harus hati-hati ya kawan-kawan.

Ibnu Kharish

(Fb.Ibnu Kharis/ suaraislam)