Terungkap! Inilah Latar Belakang Dodik si Penghina Ibu Negara Iriana

1031
Penghina Ibu Negara Iriana Jokowi pakai topi kotak-kotak tiba di Bandung. (Dony/detikcom)

Dodik Ihwanto diciduk polisi atas dugaan penghinaan terhadap Ibu Negara Iriana Joko Widodo. Annas Effendi selaku Ketua RT tempat tinggal mahasiswa Dodik Ihwanto, mengaku tidak ada pemberitahuan saat penangkapan.

Padahal, menurutnya kakak kandung Dodik adalah polisi dan keluarganya dikenal sebagai warga yang aktif di kalangan komplek.

“Sampai saat ini tidak ada pemberitahuan sama sekali saat penangkapan tadi malam. Dia anak haji Juremi dan saya juga kaget dengar kabar kalau dia ditangkap polisi. Padahal kakak sulungnya juga anggota polisi yang dinas di daerah Sumsel,” ujar Annas saat ditemui detikcom di Komplek Perumahan Semen Baturaja, Palembang, Selasa (12/9/2017).

Annas merasa sedih dan kecewa jika benar Dodik ditangkap atas dugaan penyebaran ujaran kebencian terhadap Ibu Negara Iriana Joko Widodo. Menurutnya, apa yang dilakukan Dodik tidak ada gunanya sama sekali dan hanya akan merugikan diri sendiri karena harus berurusan dengan pihak kelolisian.

“Kalau memang menyebarkan kebencian seperti yang dimaksud, saya rasa tidak ada gunanya. Itu akan merugikan diri sendiri apalagi kakak Dodik juga anggota kepolisian,” tutupnya.

Rumah orang tua Dodik -lokasi penangkapan- dalam keadaan kosong dan pagar terkunci dari dalam namun tidak menggunakan gembok. Beberapa kali Annas memanggil nama orang tua Dodik, namun tidak terlihat adanya aktivitas sama sekali di rumah pensiunan Perusahaan PT Semen Baturaja tersebut.

Karena tidak ada respon, Annas mencoba membuka kunci pagar rumah dan mengetuk pintu utama secara langsung. Tak juga ada respon, Annas mengetuk pintu samping dan memang sudah dalam keadaan terkunci.

“Sepertinya sudah tidak ada orang, padahal kemarin masih terlihat ada aktivitas saat saya melintas di depan rumah ini. Karena kemarin masih ada ngurusin orang, saya nggak tahu itu cucunya atau keponakannya yang jelas masih ada orang kemarin sore,” sambungnya lagi.

Annas mengaku sedih jika benar Dodik ditangkap karena kasus ujaran kebencian. Selain itu, dirinya akan mempertanyakan penangkapan ini kepada polisi, mengingat keluarga Dodik sudah tinggal sejak puluhan tahun lalu di komplek tersebut.

Menurut Annas, dalam keseharian Dodik dikenal sebagai pemuda yang aktif sejak SMA. Bahkan setelah lulus dan melanjutkan pendidikan sarjana di luar kota Palembang pun beberapa kali Dodik mengikuti kegiatan remaja masjid saat pulang kampung termasuk saat kegiatan Ramadan.

“Kalau sehari-hari dipanggil Dodik atau Odik, terakhir saya jumpa saat Ramadan lalu dan tidak pernah jumpa lagi. Memang orangnya dikenal baik dan tidak ada cacat nama sama sekali,” terangnya.

Dodik merupakan anak bungsu dari empat bersudara pasangan Juremi dan Yuswani yang sedang melanjutkan pendidikan sarjana. Dodik ditangkap Satreskirm Poltabes Bandung pada Senin (11/9) malam terkait ujaran kebencian di Instagram.

(detikcom/suaraislam)