Tentang Bukalapak dan ACT

Ilustrasi

Sejak kemarin dumay dihebohkan oleh tulisan facebooker bernama Dahono Prasetyo yang berjudul “Bukalapak Bukalah Topengmu”; dicopas di mana-mana, antara lain di [1].

Sebagai ‘martir’ untuk isu Suriah (menulis soal Suriah sejak 2011, habis-habisan dibully, bahkan diancam bunuh, tapi terbukti bahwa kemuliaan tidak akan tertukar; karma itu ada, lihat siapa yang sekarang ketakutan dan tiarap), saya merasa perlu menulis tanggapan.

1. Poin utama kasus ini adalah: BL (dan sangat banyak lembaga lainnya) bekerjasama dengan ACT. Nah, masalahnya, untuk isu Suriah, ACT selama ini secara jelas menunjukkan keberpihakan kepada pemberontak Suriah (oleh fans disebut “mujahidin”). Lihat di foto, bendera pemberontak Suriah-lah yang dipakai saat penggalangan dana ACT (hijau-putih-hitam, bintang 3), bukan bendera resmi Suriah (merah-putih-hitam, bintang 2).

2. Perlu diketahui, ada ratusan kelompok teror di Suriah, mulai dari FSA, Jaish al Islam, Faylaq ar Rahman, Harakat Nour al-Din al-Zenki, dan Harakat Ahrar al-Sham al-Islamiyya, hingga ISIS. ISIS ini adalah “keturunan” dari kelompok teroris yang berafiliasi dengan Al Qaida, namanya Al Nusra. Jadi, di antara mereka ini berkoalisi, lalu pecah, lalu ganti nama, dll. Kalau khilafah berdiri di Suriah, dipastikan mereka akan saling bunuh satu sama lain, rebutan jabatan.

Al Nusra (Hizbut Tahrir pernah berbaiat pada kelompok ini, sebagaimana diakui oleh Jubir HTI, Ismail Yusanto) masuk list teroris oleh AS dan PBB, lalu ganti nama jadi Jabhah Fatah al-Sham lalu ganti lagi jadi Hayat Tahrir al-Sham (HTS).

Mengapa harus ganti nama? Supaya mereka bebas menerima dana dari negara-negara lain, karena “bukan teroris lagi”.

Jadi, jangan pusing soal nama. Yang penting dipahami adalah: ideologi mereka sama saja meski bendera beda, yaitu ingin mendirikan khilafah di Suriah dengan menggunakan cara-cara teror.

3. Yang juga perlu diketahui, HTS pernah bercokol di Ghouta timur. Pada Feb 2018, tentara Suriah mulai melakukan operasi militer untuk mengusir para cecurut teroris itu dari Ghouta (bayangkan kalau ada milisi Al Qaida bersenjata super lengkap, beserta anak-bini, bercokol di Bekasi; tiap hari kirim bom ke Jakarta, apa yang akan dilakukan TNI?).

Nah, ACT pada Februari 2018 pun meluncurkan aksi penggalangan dana untuk Ghouta, memasang spanduk ‘Selamatkan Ghouta’ di hampir seluruh wilayah Indonesia. Wartawan Indopress.id (entah mengapa wartawan lain se-Indonesia tidak ada yang kritis soal ini) mewawancarai langsung ke kantor ACT.

Poin utama: ACT mengaku untuk menyalurkan donasi Indonesia (mereka berhasil menggalang dana lebih dari 11 miliar, untuk isu Ghouta per Maret 2018), bermitra dengan organisasi kemanusiaan Turki, IHH.

Pertanyaan wartawan: trus GIMANA kalian bisa masuk ke Ghouta, yang jaraknya 450-an km dari perbatasan Turki (dan wilayah itu dikontrol penuh oleh tentara Suriah)? Jawab ACT: “Sangat dirahasiakan polanya”.

Yang jelas, ACT mengaku tidak bekerja sama dengan pemerintah Suriah untuk menyalurkan bantuan itu, alasannya, “Bagaimana mungkin kami melapor ke Pemerintah Suriah ketika mereka sendiri mengebom warganya.” [2]

Ini jelas hoax. Mantan Dubes Indonesia untuk Suriah pernah mengklarifikasi, tidak benar pemerintah Suriah mengebom warganya; yang dilawan pemerintah Suriah adalah teroris ISIS & AlQaida [3]

Ketika bulan Maret 2018 saya menulis soal ini, ada 2400 lebih komentar, di antaranya begini: jangan asal nuduh! tabayun dulu! ACT itu sudah kirim bantuan ke korban gempa di sini, longsor di situ, bikin masjid, dst. Lho, apa hubungannya dengan itu semua? Kan kita sedang bicara soal donasi rakyat Indonesia yang dikirim ke Suriah?

Cara ngeles ini juga dilakukan pihak Bakhtiar Nasir ketika terungkap bahwa bantuan donasi rakyat Indonesia (yang dikumpulkan BN) jatuh ke tangan Jaish Al Islam di Aleppo (2016). Kasus ini sampai juga ke polisi. Kepada wartawan, klarifikasinya adalah : kami difitnah.

Mengapa tidak ada satu wartawan pun yang terpikir menanyakan pertanyaan krusial: itu kardus-kardus makanan bertulisan Indonesia, kok bisa sampai ke gudang para teroris, Ustadz?? 
Lihat video kardus itu, di sini [4]

4. Sayangnya, teknik ngeles ini pula yang dipakai BL setelah kasus ini heboh: “jangan percaya hoax!” Lho? Faktanya, BL kerjasama dengan ACT kan?

Sebaiknya, BL buktikan saja kalau memang cinta NKRI dan tidak pro radikalis, dengan cara meminta maaf : “Kami tidak tahu kalau ACT terindikasi kuat berafiliasi dengan pemberontak Suriah, kami minta maaf, dan sebagai bentuk penolakan kami pada radikalisme, kami hentikan kerjasama dengan ACT.”

5. Kasus ini penting dicatat oleh publik dan berbagai lembaga lainnya, karena pengepul donasi untuk Suriah yang rekam jejaknya terkait dengan pemberontak Suriah sangat banyak.

Kalau Anda mengaku cinta NKRI dan antiradikalisme, harusnya bersikap konsisten. Ada ratusan kelompok teror lain di Suriah yang disebut “mujahidin” oleh fansnya di Indonesia. Bukan pro ISIS tidak otomatis bukan pro “mujahidin”. ISIS dimaki-maki, tapi radikalis lain didanai dan diajak kerjasama. Gimana sih??

——

[1] https://www.facebook.com/…/a.81105993898…/2524166601008043/…
[2] https://www.indopress.id/…/nasional/kabut-bantuan-selamatka…
[3] Penjelasan Dubes Indonesia untuk Suriah: https://www.republika.co.id/…/o4cg87320-dubes-ri-untuk-suri…
[4] video: https://www.facebook.com/maulatv/videos/1640479392919896/

Sumber: FB Dina Sulaeman

(suaraislam)