Tasawuf dan Laku Spiritual Sunan Kalijaga (Bagian I)

Tidak banyak orang yang tahu, kalau Sunan Kalijaga sesungguhnya tokoh sufi atau tasawuf—di samping sebagai juru dakwah penyiar Islam—yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Peran dan kiprahnya oleh Widji Saksono (1996) dikatakan sebagai salah seorang dari sunan-sunan lain dalam lingkaran Wali Sanga yang mempunyai andil besar dalam “mengislamkan tanah Jawa”. Karenanya, ia merupakan tokoh fenomenal, yang oleh masyarakat luas diakui sebagai Guru ing Tanah Jawi. Jasanya yang luar biasa besar adalah ketika ia mampu menyampaikan ajaran agama Islam dengan cara wicaksana, dan mudah diterima oleh berbagai lapisan sosial.

Pendekatan Raden Syahid—nama kecil Sunan Kalijaga, atau disebut pula Syaikh Melaya karena dia adalah putera Tumenggung Melayakusuma di Jepara—dalam menjelaskan wejangan dengan berdasarkan kepada tiga hal, yaitu momong, momor, dan momot. Purwadi (2005: 21-22) menjelaskan, bahwa momong berarti bersedia untuk mengemong, mengasuh, membimbing, dan mengarahkan. Sunan Kalijaga memperlakukan pihak yang lebih lemah seperti sikap orang tua yang sedang mengasuh anak, seperti Nyai dengan santrinya, seperti guru dan muridnya.

Momor berarti bersedia untuk bergaul, bercampur, berkawan, dan bersahabat. Hal ini dimaksudkan agar pihak lain bisa merasa akrab. Sunan Kalijaga dihormati oleh segenap masyarakat Jawa karena kebijaksanaanya dalam melakukan pergaulan sehari-hari. Momot berarti kesediaan untuk menampung aspirasi dan inspirasi dari berbagai kalangan yang beraneka ragam. Sunan Kalijaga sangat berhasil menempatkan posisi keagamaan, kekuasaan, dan kebudayaan.

Secara lebih spesifik, ajaran tasawuf Sunan Kalijaga dapat ditemukan dalam berbagai sumber, antara lain dari babat Serat dan Suluk. Ajaran tasawufnya menyangkut beberapa aspek pokok ajaran yaitu mengenai perjalanan pengembaraan tasawufnya, seperti mengenai konsep pancamaya, ilmu hakikat, asal-usul dan tujuan hidup (sangkan paraning dumadi), roh Ilafi (ruh Idhafi), dan ajaran tentang fana, baka, dan nubuat.

Ajaran Tasawuf Sunan Kalijaga

Berikut ini dijelaskan sebagian dari ajaran tasawuf Sunan Kalijaga tersebut. Pertama, ajaran Sunan Kalijaga tentang sangkan paraning dumadi adalah berkaitan dengan “asal-usul” dan dan “tujuan hidup”. Ajaran ini seringkali diinternalisasi oleh para wali dan penganut mistik kejawen. Sunan Kalijaga pernah memberikan wejangan serupa yang tersimpul dalam Tembang Dhandhanggula sebagai berikut:

Urip iku neng donya tan lami/ upamane jebeng menyang pasar/ tan langgeng neng pasar bae/ tan wurung nuli mantuk/ mri wismane sangkane nguni/ ing mengko aja samar, sangkan paranipun/ ing mengko padha weruha/ yen asale sangkan paran duk ing ing nguni/ aja nganti kesasar

Terjemahan:

Hidup di dunia ini tidak lama/ seperti jika kamu pergi ke pasar/ tidak akan ke pasar terus/ pastilah akan kembali juga/ ke rumah asalnya/ maka jangan sampai keliru/ maka ketahuilah/ ilmu sangkan paran/ agar jangan sampai kesasar

Suwardi Endraswara (2006: 45-46) menafsirkan makna tersirat dari ajaran Sunan Kalijaga di atas. Bahwa menurutnya, pesan mistik tembang tersebut menghendaki bahwa hidup di dunia ini tidak lama, ibarat manusia pergi ke pasar, akan segera kembali ke rumah asalnya tadi, karena itu jangan sampai ragu-ragu terhadap asal-usulnya, agar jangan sampai salah jalan. Pesan ini menunjukkan bahwa manusia hidup di dunia sekadar mampir ngombe (singgah untuk minum), karena suatu ketika akan kembali kepada Tuhan. Tuhan adalah tumpuan sangkan paraning dumadi.

Kedua, tentang fana, baqa, dan nubuat. Sebagai seorang guru makrifat, Sunan Kalijaga juga mengalami apa yang disebut dalam dunia sufi atau tasawuf “fana dan baqa”. Fana dan baqa merupakan puncak spiritual seorang sufi dalam perjalanan rohani atau spiritualnya. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan fana dan baqa itu? Sunan Kalijaga sebagai “pelaku” dari ajaran ini memberikan penjelasan menarik, sesuai dengan kapasistasnya seorang sufi Jawa. Ia memberikan wejangan tentang persoalan itu dengan mengaitkan apa yang ia sebut denngan nubuat (cahaya kenabian).

(bersambung)

Syaifan Nur, Dosen Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga dan Ali Usman alumnus Magister Agama dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

(bangkitmedia/suaraislam)