Surat Terbuka dari Mantan Wartawan untuk Prabowo Subianto

Prabowo marah besar….

Acara yang direncanakan sejak lama dan mungkin berbiaya besar, sama sekali tidak mendapat liputan yang diharapkan. Jangankan headline, halaman pertama saja mengabarkannya sungkan. Mau taruh di berita kematian kok gada yang meninggal. Mau taruh di iklan, kok gak layak jual.

“Saya sarankan kalian tidak usah hormat sama wartawan lagi, mereka hanya antek orang yang ingin menghancurkan Republik Indonesia,” raung Prabowo. Apa pasal? Karena menurut Prabowo, wartawan tidak mau mengabarkan ada 11 juta orang yang kumpul di Monas. “Kalian tidak berhak menyandang predikat jurnalis lagi!” Teriaknya dengan kencang.

Aneh?? Jelas….

Wahai Prabowo Subianto, Capres nomor 02 dengan hasil survei yang sulit beranjak dari angka 30 persen, semoga Anda mau membaca surat ini….

Saya mantan wartawan dan saya punya akal sehat. 11 juta orang, Pak?? Data dari mana itu??

Penduduk Jakarta saja menurut Badan Pusat Statistik tahun 2017 berjumlah 10,37 juta jiwa. Bagaimana mungkin jumlah orang yang kumpul di Monas jumlahnya lebih banyak dari total penduduk Jakarta? Ini siapa yang gila??

Anda boleh berhalusinasi. Anda boleh beretorika. Silakan kalau Anda mimpi. Tapi tidak perlu ajak-ajak wartawan untuk memberitakan kebohongan yang Anda dan koalisi Anda ciptakan. Wartawan harus mengabarkan sesuai kenyataan. Kalau cuman 40 ribu orang atau 100 ribu orang yang kumpul di Monas menurut polisi, trus Anda mau wartawan menulis 11 juta orang?

Anda mau wartawan berbohong demi menyenangkan pemimpi di siang bolong? Anda mau para wartawan mengisi headline beritanya dengan berita propaganda demi keuntungan pencapresan semata?

Menjadi wartawan itu tidak mudah, Pak, semudah Anda mengejek kami dengan gaji kecil dan tidak sepadan dengan Anda yang berpendapatan raksasa. Prosesnya berliku dan kemampuan kami diuji di lapangan dengan peluh dan banyak waktu terbuang karena harus mengejar narasumber dari segala bidang. Belum lagi kejar-kejaran dengan deadline….

Dan karena proses panjang itu, kami menjadi pintar. Pintar bukan karena dicekoki propaganda hasil retorika dari mulut yang berbusa-busa. Kami harus menyajikan fakta. F A K T A. Kalau cuman 100 ribu maksimal, masak kami harus mbacot di publik bahwa yang datang di Monas 11 juta??

Tidak usah mengurusi apa yang diberitakan wartawan apalagi ditambah dengan ancaman supaya memberitakan sesuai dengan apa yang Bapak inginkan. Anda kok jadi seperti di masa Orde Baru, Pak Prabowo? Main ancam supaya orang tidak menghormati wartawan lagi?

Wah, jangan-jangan kalau Anda memerintah nanti Anda mau menghidupkan kembali Departemen Penerangan. Kalau media tidak mau memberitakan sesuai keinginan penguasa, maka dicabut izinnya. Seperti apa yang terjadi pada majalah Tempo, Editor dan Detik di masa Soeharto berkuasa.

Seharusnya Bapak sadar, bahwa wartawan sendiri muak dengan model pengerahan massa seperti reuni-reunian yang tidak jelas apa maksudnya, apa tujuannya, selain kumpul-kumpul supaya diliput media. Apa yang mau diberitakan? Kumpulan orang berjumlah sekian? Apa urgensinya?

Wartawan juga butuh bobot dalam isi di beritanya, bukan cuma pandangan mata. Kalau cuman pandangan mata doang, sewa aja wartawan abal-abal, kasi amplop sekian ratus ribu per orang, biar mereka beritakan di media blogspot yang mereka punya, gampang kan? Kalau cuman berita pandangan mata doang, kredibilitas media sebagai penyaji fakta dan berita, bisa runtuh di mata penonton dan pembaca.

Kalau mau diliput besar-besaran berikan kami ISI, bukan cuma rame-rame doang. Jangankan reuni 212, wong berita Jokowi kumpulkan massa sebanyak 65 ribu orang untuk menari poco-poco di Monas diberitakan seadanya. Tidak headline dan bukan berita utama. Lalu apa yang istimewa dari sebuah reuni yang tidak ada maknanya??

Cukup sekian dulu surat ini, nanti kepanjangan.

Kalau Bapak Prabowo Subianto bilang bahwa para wartawan yang tidak sesuai dengan keinginan Bapak, “tidak berhak menyandang predikat Jurnalis lagi…” boleh dong kami bilang bahwa calon yang bicara tidak sesuai fakta “tidak berhak menyandang predikat Calon Presiden lagi??”

Mari kita seruput kopi, biar cerdas sedikit. Karena kecerdasan datang dari proses, bukan karena hasil doktrin omongan basi….

Dari mantan Wartawan

Yang bangga pernah menjadi pengabar berita

Denny Siregar

(tagarid/suaraislam)