Sultan, Daerahmu Sekarang Radikal

Slamet Jumiarto pasti bengong..

Pelukis itu tiba-tiba ditolak untuk tinggal di dusun Karet, Bantul, Jogjakarta. Alasannya ?? Hanya karena ia beragama Katolik.

Menurut seorang tokoh di dusun Karet itu, penolakan untuk yang non muslim dan penganut kepercayaan disana, adalah bentuk kearifan lokal dan disepakati semua warga. Aturan itu diawasi oleh Lembaga Pemasyarakatan Desa. Kata tokoh itu seperti dimuat di Tempo, mereka meniru Aceh.

Sejak awal saya sudah mengkhawatirkan situasi seperti ini terjadi. Maraknya bisnis yang bernuansa agama, seperti pemukiman syariah khusus seagama, sampai salon dan laundry saja ada yang khusus untuk seagama, akan meluas dan mengkotak-kotakkan masyarakat kita berdasarkan “apa agamanya”.

Ini adalah bibit-bibit intoleran yang akan berkembang menjadi radikal dan pada satu waktu menyuburkan terorisme. Bantul sendiri bukan hal baru dalam bidang intoleran dan radikal.

Tahun 2018 terjadi pembubaran sedekah laut disana. Juga ada penolakan bakti sosial karena dinilai ada unsur Kristenisasi. Dan yang paling miris tahun 2016 lalu, sebuah bom paku yang dibuang di sawah meledak dan membunuh seekor kerbau dengan tubuh penuh paku.

Sempitnya pemikiran para warga disana tidak lepas dari berkembangnya ormas-ormas agama garis keras yang sibuk membangun sistem berdasarkan pemikiran mereka sendiri. Ormas-ormas itu menurunkan “para ustad” untuk mencuci otak para warga supaya menjadi rasis dan sempit.

Tidak cukup hanya mengajarkan anak2 sekolah tentang toleransi, aparat pemerintahan di Jogjakarta harus turun langsung memberantas pola pikir membangun Bantul menjadi wilayah khusus untuk agama tertentu. Dan ini harus dengan cara keras, kalau perlu penjarakan mereka yang bertindak intoleran dan gerakkan ustad-ustad moderat untuk membersihkan pikiran warga awam.

Kalau tidak dilakukan sekarang, kelak Bantul akan menjadi laboratorium bagi para radikalis untuk mengembangkan cara yang sama di daerah lain. Ditakutkan, keberagaman di negara ini terganggu dan akan terjadi tindakan balas dendam di daerah lain dimana agama yang berbeda menjadi mayoritas.

Sultan, daerah ditempatmu memimpin sekarang begitu radikal..

Jangan biarkan Jogja yang dulu tercitrakan sebagai tempat yang indah dengan sejarah dan kebudayaan yang terjaga, harus hilang dan menjadi daerah yang sibuk menghakimi agama yang berbeda.

Berwibawalah, jika tidak kelak ketika pemikiran intoleran itu menguasai Jogjakarta, engkau akan menyesal karena sudah terlambat.

Jangan sampai lagu KLA Project syairnya berubah, “Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Tidak seperti dulu, tiap sudut menatapku curiga..”

Ahhh.. Jogja. Seruput kopi dulu..

Denny Siregar

(suaraislam)