Strategi Dakwah Hadapi Salafi

Kita menyebut mereka wahabi, di negara asalnya pengikut Muhammad bin Abdul Wahab dikenal dengan Muwahidun. Mereka juga mengaku Ahlus Sunnah seperti halnya kita. Pertengahan 80-an, mulai terkenal dengan sebutan Salafy. Kalau (di) Masjidil Haram atau masjid Nabawi, kita menjadi ma’mum mereka, jadi tidak elok kalau dengan kelompok tersebut saling hujat menghujat. Kalau kita dihujat sebaiknya tidak usah melayani, dengan tetap dengan dakwah bil hikmah dan seterusnya.

Strategi yang tepat antara lain dilakukan oleh PWNU JATIM yang menerbitkan kitab berisi dalil tentang ajaran-ajaran yang sering menjadi amalan kaum aswaja misalnya ziarah kubur, tahlilan dan lain-lainnya. Kitab-kitab itu bisa menjadi rujukan dalam menjawab tuduhan-tuduhan bid’ah. Kita layani tantangan mereka dengan debat berdasarkan dalil dan hal itulah yang dilakukan KH. Wahab Hasbullah dan KH. Asnawi Kudus melayani perdebatan dengan Syaikh Surkati.

Kita sering mendengar kalimat ukhuwah Islamiyah. Yakni persaudaraan sesama muslim. Dalam hal ini kita bersaing dengan kaum muwahidun atau Salafi dalam konteks dakwah dengan prinsip “Fastabikhul Khoirot “ atau berlomba dalam kebajikan. Kita harus yakin kita yang benar dan yang banyak pendukungnya. Berbagai sumber mengatakan, jumlah kaum Salafi itu hanya 80 juta sedangkan ahlus sunnah semacam kita ini 1,5 milyar.

Sebaiknya juga perlu mengetahui bahwa mereka terpecah. Ada Kelompok Salafi kelompok Nashirudin Albany yang menganggap Salafi yang menjadi aliran resmi di Saudi bukanlah Salafi karena masih mengakui mazhab ( hambali ) karena dalam pandangan mereka Salafi tidak boleh mengikuti mazhab manapun. Ada juga salafi yang berpolitik ( salafi sururi ) yang dianggap keluar dari salafi oleh ulama Salafi Arab Saudi. Apalagi kelompok salafi jihadi ( usama bin Ladin ) mereka anggap sesat. Di antara sesama Salafi juga saling sesat menyesatkan. Untuk diketahui saja, mereka itu menganggap kita “ bodo”. Jadi strategi yang tepat adalah kita lindungan umat kita dengan menyediakan dalil-dalil seperti saya singgung di atas dan kita layani debat dengan mereka. Untuk diketahui juga bantuan dari jazirah Arab untuk kelompok salafi di Indonesia, sejak pangeran Mohamad bin Salman menjadi putera mahkota berkurang sekitar 70 persen. Ayo, fastabikhul Khoirot, siapa yang paling banyak pengikutnya dan siapa yang paling dulu masuk sorga.

Saya menyimak FB banyak dari saudara-saudara kita

KH. As’ad Said Ali

(bangkitmedia/suaraislam)