Siaran Pers: Aktivis Muda NU Guntur Romli Bergabung dengan PSI untuk Perjuangkan Kepentingan Orang Banyak

73
@GunRomli

Aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU) yang terkenal gigih memperjuangkan toleransi dan kebhinekaan, Guntur Romli, mengajukan diri sebagai calon legislatif (caleg) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada Selasa, 12 September 2017 di Jakarta.

Dalam konferensi pers di Kantor DPP PSI, Guntur menyatakan ia memilih terjun menjadi menjadi calon anggota DPR karena nasehat tokoh yang menjadi panutannya, KH Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal Gus Dur, bahwa politik merupakan pekerjaan mulia karena memperjuangkan kepentingan orang banyak.

“Karena itu bila saya ditanya mengapa saya masuk politik? Saya akan jawab, saya ingin mengembalikan politik pada khittahnya, pada dasar dan habitatnya, yakni memperjuangkan kepentingan orang banyak,” ujar Guntur di hadapan wartawan.

Kehadiran Guntur di PSI nampaknya akan semakin memperkuat imej keterbukaan partai muda ini. Sepekan sebelumnya, artis muda Giring Nidji juga sudah mendaftarkan diri sebagai caleg PSI.
Guntur selama ini dikenal sebagai aktivis keislaman dan kebudayaan yang dekat dengan Gus Dur. Ia pernah memandu acara Kongkow Bareng Gus Dur di Radio KBR 68H dari tahun 2005 sampai 2009, menjelang Gus Dur wafat.

Guntur lahir di Situbondo, Jawa Timur pada 17 Maret 1978. Ayahnya KH Achmad Zaini Romli adalah Pengasuh Pondok Pesantren Darul Aitam Arromli, Jangkar, Situbondo. Ibunya, Hj Sri Sungkawa Ningsih, seorang guru. Guntur menikah dengan Nong Darol Mahmada, seorang aktivis Perempuan, dan memiliki dua orang putri: Andrea Azalia Ardhani dan Alexandria Hypatia Mohamada.

Guntur memiliki latar belakang pendidikan keislaman sangat kuat. Ia menyelesaikan pendidikan tingkat dasar dan menengah umum serta pendidikan keislaman di pesantren ayahnya, untuk kemudian dilanjutkan di Tarbiyatul Muallimin al-Islamiyah Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura. Pada tahun 1998 Guntur memperoleh beasiswa dan masuk Fakultas Ushuluddin, Jurusan Aqidah Falsafah Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Di sana ia menjadi Pengurus Cabang Istimewa NU Mesir, dari tahun 1999 sampai 2004. Tahun 2002-2004 ia menjabat sebagai Wakil Ketua Tanfidziyah NU Mesir.

Guntur juga dikenal sebagai intelektual produktif. Ia menulis lebih dari sepuluh buku dan puluhan artikel di berbagai surat kabar terkemuka, terutama tentang isu-isu politik Timur-Tengah, keislaman, dan kebudayaan. Ia pun lazim diundang stasiun televisi untuk menganalisis politik Timur-Tengah serta isu-isu radikalisme dan terorisme.

Sebagai aktivis kebudayaan, Guntur bergabung dengan komunitas kesenian dan kebudayaan Komunitas Utan Kayu (2005-2008) dan Komunitas Salihara (2008-2017). Selain itu ia juga aktif dalam organisasi lintas agama, advokasi hak-hak sipil, toleransi, dan hak-hak asasi manusia. Ia juga salah satu pendiri organisasi Garda Satwa Indonesia (GSI) sejak tahun 2012 yang peduli terhadap hak-hak dan kesejahteraan satwa.

Menurut Guntur, ia ingin berpolitik secara bersih dan benar. “Politik bukan intrik yang menghalalkan segala macam cara hanya untuk memperoleh kekuasaan semata,” ujarnya. “Politik adalah membuat kebijakan yang berdasarkan kepentingan orang banyak.”

“Politik menarik bagi saya selama terkait maslahat orang banyak,” katanya. “Politik itu baik selama di tangan politisi baik, tapi politik akan buruk kalau jatuh dalam kekuasaan politisi busuk.”

Menurut Guntur, selama ini dia juga sebenarnya sudah melakukan kerja-kerja politik di jalur kultural. “Saat saya masuk partai politik, berarti saya menyempurnakan kerja-kerja politik saya sebelumnya,” tambahnya.

Ia memilih bergabung dengan PSI karena ia merasa visi dan misi perjuangan PSI sesuai dengan apa yang ia perjuangkan selama ini: melawan intoleransi dan melawan korupsi. “Ini politik sebagai kebajikan. Saya percaya PSI adalah kumpulan politisi-politisi muda yang memperjuangkan prinsip politik sebagai kebajikan,” kata Guntur.

Keputusan Guntur bergabung dengan PSI disambut gembira oleh para pimpinan partai muda ini. “Guntur adalah sosok muda yang progresif, setia pada nilai-nilai toleransi dan keberagaman, serta dilahirkan dari komunitas Islam sangat terhormat, yaitu Nahdlatul Ulama,” ujar Grace Natalie, Ketua umum PSI. “Dengan profil selengkap itu, Guntur akan menambah bobot PSI sebagai rumah bagi mereka yang ingin membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.”

Seketaris Jenderal DPP PSI Raja Juli Antoni menyetujui pandangan itu. “Guntur adalah salah seorang kader terbaik yang dilahirkan di komunitas NU, ormas Islam moderat terbesar di Indonesia. Karena itu, bergabungnya Guntur ke PSI adalah berkah bagi PSI,” ujar Raja. “Saya berharap bergabungnya Guntur akan mendorong sosok-sosok hebat dari komunitas NU dan komunitas keislaman lain untuk bergabung dengan PSI.”

Jakarta, 12 September 2017

Akhir Siaran Pers

CP: Rintis (0813-1456-3178)