Sejumlah Tokoh Agama Serukan Kebhinekaan dan Ingatkan Bahaya Isu SARA

Sejumlah tokoh masyarakat yang terdiri dari berbagai elemen memberikan seruan moral untuk menjaga dan memperjuangkan kebinekaan di Indonesia jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Perwakilan dari Pemikir Islam, Musdah Mulia menyebut dalam menjaga dan memperjuangkan kebinekaan merupakan kewajiban dan tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia. Sehingga, semua pihak harus mengeluarkan segenap upaya yang efektif untuk mencegah dan menengahi setiap ancaman atas kebinekaan tersebut.

“Pada dasarnya merupakan kewajiban seluruh elemen bangsa dari latar belakang primordial berbasis suku atau etnis, agama dan golongan dan daerah,” kata Musdah di Century Atlet, Jakarta Pusat, Selasa (20/2/2018).

Dia juga menyebut pemerintah sebagai pengelola berbagai sumber daya politik hukum dan keamanan harus mengambil tindakan yang tepat dalam merespon setiap upaya pengancam kebinekaan.

Musdah menyebut seringkali Presiden Joko Widodo atau Jokowi sering menegaskan bahwa tak ada tempat bagi intoleransi di Indonesia.

“Maka, standing position presiden dapat memberikan energi tambahan kepada aparat pemerintah dalam penindakan yang mengancam perpecahan elemen bangsa,” ujar dia.

Karena hal itu dalam menghadapi perayaan demokrasi, dia mengimbau agar masyarakat tak menggunakan isu suku, agama, ras dan antar golongan atau SARA. Sebab hal itu dapat mengancam kohesi sosial, kebinekaan dan integritas nasional.

Dia mengatakan, para tokoh dan pemuka agama merupakan simpul utama spiritualitas keagamaan dalam dimensi transendental maupun sosial. Sehingga pendidikan dan pengajaran keagamaan efektif membentuk kepribadian bangsa dan mencegah segala sesuatu yang memecah-belah elemen.

“Tokoh agama memiliki peran sentral dalam merawat, menjaga, dan memperjuangkan kebinekaan dalam kehidupan berbangsa Indonesia,” jelas Musda.

Hindari SARA di Pilkada

Menko Polhukam Wiranto mengimbau agar semua pihak penyelenggara dan pserta pemilu dapat melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. Sehingga dapat tercapainya penyelenggaraan pemilu yang sukses.

Tak terkecuali, antisipasi mengenai adanya isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) yang ditakutkan akan mencuat saat pelaksanaan pesta demokrasi tersebut. Karena hal itu, Wiranto menginginkan semua pihak dapat ikut bertanggungjawab.

Meskipun, lanjut dia, keamanan yang telah mulai bersiap mengamankan kondisi yang ada tidak dapat tercapai bila masyarakat enggan ikut serta.

“Sekarang kita tanya hoax dari mana? dari masyarakat, black champaign dari mana dari parpol dan kontestan pemilu juga. Jangan bermain seperti itu. Aparat keamanan polisi telah siap betul, tapi tidak cukup kalau kontestan kemudian parpol dan masyarakat tidak mau aman,” jelas Wiranto.

(liputan6.com/suaraislam)