Sarankan Prabowo Boikot Pilpres, Aktivis 98 ‘Tampar’ Andi Arief Wasekjen Demokrat

Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief berpelukan dengan bakal capres Prabowo Subianto (kanan), Jakarta (12/9/2018). (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Jaringan Aktivis (Jari) 98 menilai, pernyataan Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief yang menyarankan capres Prabowo Subianto untuk Boikot Pilpres 2019, merupakan signal kuat kekalahan pasangan capres nomor urut 02.

“Itu kode jelas dari Andi Arief buat Prabowo-Sandiakan kalah telak di perhelatan Pilpres 2019,” ujar Ketua Presidium Jari 98, Willy Prakasa, Senin (7/1/2018).

Willy menyakini, Andi menyampaikan hal tersebut karena mempunyai  data-data soal kekalahan Prabowo- Sandiaga Uno, sehingga dia menyarankan boikot Pilpres.

“Saran Andi Arief itu bukan soal kecurangan, tapi terkait angka-angka kekalahan Prabowo-Sandisudah jelas di depan mata. Dan Andi melihat sudah tidak ada gunanya melakukan apapun, sebab elektabilitas Prabowo-Sandi sudah tidak bisa dikatrol dengan apapun,” paparnya.

Namun, lanjut Willy, jika Prabowo-Sandi sampai mengikuti saran tersebut, maka sejarah yang akan mencatat, bahwa di Indonesia ada pasangan capres-cawapres pengecut yang mundur sebelum bertarung.

“Kalau sampai mengikuti, ya jadi catatan sejarah bangsa ini. Saran saya, walaupun sudah tahu dan sadar bakal kalah, Prabowo – Sandi tidak usah gubris saran Andi Arief itu. Lebih baik tetap sebagai Capres saja sampai bulan April, toh setelah itu juga game over,” ucap dia.

Lebih jauh Willy menyarankan, sebaiknya saat ini Prabowo-Sandi intropeksi diri dan segera bertaubat, sebab sudah banyak membuat kehebohan dengan narasi-narasi politik yang menyesatkan dan mengakibatkan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat.

“Lebih baik Prabowo duduk manis sembari belajar ngaji dan belajar jadi imam sholat biar hidup berkah. Soal Pilpres lupakan saja, toh Andi Arief saja sudah mencium aroma kekalahan,” tandas Willy

Sebelumnya, Andi Arief menyarankan agar Prabowo bertanya pada rakyat apakah harus terus mengikuti pilpres ini. Pasalnya ia menilai ada keanehan sistematis dalam pemilu 2019.

“Usul saya buat Pak Prabowo untuk berpidato di hadapan rakyat dan bertanya: Apakah saya harus terus mengikuti pilpres dengan keanehan yang tersistimatis ini?” tulis Andi di akun Twitternya, @AndiArief, Senin (7/1/2019).

Wasekjen Partai Demokrat ini juga mempertanyakan soal bisa tidaknya capres petahana Joko Widodo (Jokowi) menjabat dua periode, apabila Prabowo memboikot Pemilu.

“Kalau Pak Prabowo menggunakan hak boikot pemilu dengan alasan keanehan yang tersistematis, memangnya Pak Jokowi bisa menjadi presiden untuk kedua kalinya?” katanya.

(netralnews/suaraislam)