Refleksi Pilpres dan Pileg 2019: Kecewa tapi Bersyukur

Pileg dan pilpres 2019, yang merupakan ajang demokrasi terakbar dalam sejarah politik Indonesia, sudah usai. Mari kita renungkan bersama opini Sumanto al Qurtuby berikut ini.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, proses pilpres dan pileg kali ini dilakukan serentak pada tanggal 17 April sehingga sangat melelahkan. Jumlah pemilih di pemilu tahun ini ada lebih dari 190 juta orang. Sementara jumlah TPS lebih dari 800 ribu yang tersebar di berbagai penjuru.

Jadi memang sangat wajar kalau pemilu 2019 ini merupakan yang terbesar di Indonesia dan bahkan di dunia, dan yang paling melelahkan.

Tapi alhamdulilah, puji Tuhan, haleluya, semua proses pemilu yang rumit dan melelahkan itu pun berhasil dilalui dengan damai (minimal untuk sementara ini), meskipun riak-riak gelombang kekecewaan dan kekesalan tetap ada disana-sini, terutama dari kubu yang kalah bertarung atau gagal menjadi anggota dewan.

Meskipun hasil resmi pilpres dan pileg akan diumumkan secara resmi oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) sekitar 22 Mei mendatang, berbagai lembaga survei kredibel sudah memprediksi hasil pilpres dan pileg berdasarkan sistem Quick Count (QC) atau Parallel Vote Tabulations (PVT), sebuah metode survei ilmiah yang diadopsi oleh National Democratic Institute, Washington, D.C., untuk membantu warga memonitor proses pemilu.

Metode ini sudah diterapkan di berbagai negara di dunia. Biasanya hasil QC selalu konsisten dan akurat dengan hasil Real Count (RC). 

Untuk sementara, berdasarkan hasil QC berbagai lembaga survei tersebut, pasangan Joko Widodo–Ma’ruf Amin mengungguli pasangan Prabowo Subianto–Sandiaga Uno dengan selisih suara sekitar 10 persen. Jokowi-Ma’ruf memperoleh sekitar 55-56 persen, sedangkan Prabowo-Sandi mendapat 44-45 persen. Hasil RC sementara yang dilakukan oleh KPU pun kurang lebih sama seperti hasil QC yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survei tersebut.

Jika hasil akhir RC KPU nanti konsisten dengan QC lembaga-lembaga survei, maka dapat dipastikan Joko Widodo akan menjadi Presiden RI lagi untuk masa bakti 2019-2024. 

Bersyukur Meskipun Kecewa

Meskipun kecewa, saya bersyukur Presiden Joko Widodo (dipastikan) kembali menahkodai “kapal jumbo” Indonesia untuk kedua kalinya. Harapan saya Indonesia akan menjadi lebih maju dan tambah gemilang di masa mendatang.

Meskipun begitu ada beberapa hal yang membuat saya cukup kecewa dengan pilpres dan pileg 2019 ini. Pertama, saya kecewa karena perolehan suara Jokowi “hanya” berkisar 55-an persen.

Melihat hasil pembangunan, dedikasi, komitmen, dan kerja kerasnya yang luar biasa selama ia menjabat Presiden RI periode 2014-2019 ini, idealnya atau seharusnya ia bisa meraup lebih dari 70 persen suara.

Saya belum pernah melihat ada presiden yang seserius dan seberhasil Jokowi dalam membangun dan menata Indonesia. Oleh karena itu sangat wajar kalau berbagai kepala negara dan lembaga internasional (seperti Bank Dunia) memuji kesuksesan Jokowi. Apalagi kini ia didukung oleh banyak parpol dan banyak tokoh agama. Bahkan cawapresnya kini juga seorang ulama dan tokoh agama. Tapi apa daya. Cuma dapat segitu.

Hasil ini sejatinya sama dengan pilpres 2014. Dulu, pasangan Joko Widodo–Jusuf Kalla mendapat sekitar 53 persen suara. Padahal waktu itu Jokowi dikeroyok oleh banyak parpol dan tokoh Islam. Tapi ia mampu menjungkalkan ambisi Prabowo Subianto yang kini, diperkirakan, kembali tersungkur.    

Keputusan Jokowi menerima desakan sejumlah elite parpol pendukung pencapresannya untuk (terpaksa) menggandeng Kiai Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya ternyata tidak berdampak signifikan pada perolehan suara. Awalnya, Kiai Ma’ruf diharapkan mampu mendulang suara kaum muslim kota atau bahkan kelompok Islamis dan kaum muslim formalis-konservatif. Kenyataannya tidak demikian. Basis-basis kelompok ini, berdasarkan hasil QC, tampak memilih pasangan Prabowo-Sandi.

Pasangan Prabowo-Sandi tampak menang mutlak di Aceh, Sumbar, Sumsel, Jabar, Sulsel, NTB, dlsb, yang dulu menjadi kantong-kantong Masjumi, partai Islamis-formalis-konservatif di zaman Orde Lama yang dibekukan oleh Bung Karno dan “dimumikan” oleh rezim Orde Baru. Bahkan di Banten sendiri, daerah asal Kiai Ma’ruf, pasangan Prabowo-Sandi dikabarkan menang mutlak. Pola pemilu 2019 ini mengingatkan pada pemilu 1955 yang penuh dengan “politik identitas” berbasis etnis, agama, dan kedaerahan.

Itu artinya faktor Kiai Ma’ruf tidak cukup signifikan untuk menambah dan mendulang suara pada pilpres 2019 ini, meskipun barangkali beliau bisa “mengerem” sebagian pemilih muslim khususnya yang awalnya memutuskan untuk memilih Prabowo-Sandi kemudian berpindah haluan. Harapan awal kalau Kiai Ma’ruf bisa menggaet para tokoh muslim radikal juga tidak terbukti secara empiris, signifikan, dan meyakinkan.

Kekecewaan saya berikutnya, kedua, adalah banyaknya masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, yang gampang termakan hoaks, informasi-informasi tidak akurat, berita-berita menyesatkan, serta kampanye hitam dan propaganda busuk yang dihembuskan untuk mendiskreditkan Jokowi. Para korban itu akhirnya memutuskan untuk memilih Prabowo-Sandi, bukan karena mereka adalah paslon hebat, serasi dan ideal untuk memimpin Indonesia tetapi karena tidak ada paslon lain yang menjadi kontender Jokowi guna melampiaskan kekesalan dan kebencian mereka dengan “wong Solo” ini.

Para pemilih muslim berhaluan Islamis-formalis-konservatif tahu betul kalau Prabowo-Sandi bukanlah paslon agamis-Islami, meskipun mereka “membungkusnya” setengah mati dengan simbol dan jargon-jargon keislaman. Tetapi mereka terpaksa mendukung Prabowo-Sandi karena tidak ada pilihan lain, disamping lantaran didorong oleh kebencian yang membuncah terhadap Jokowi.  

Jelas sekali bahwa mayoritas pendukung Prabowo bukanlah para “pecinta Prabowo” (Prabowo lovers), melainkan kerumunan pembenci Jokowi (Jokowi haters), sedangkan mayoritas pendukung Jokowi adalah para pecintanya (Jokowi lovers) yang semata-mata memilih Jokowi sebagai pemimpin yang memiliki prestasi gemilang dalam memimpin bangsa dan negara Indonesia, selain bersahaja, berkomitmen, idealis dan nasionalis sejati. 

Ketiga, saya juga kecewa karena banyak pihak, termasuk kelompok elite politik, yang belum dewasa dalam bersikap dan berpolitik. Misalnya, pihak-pihak yang kalah dalam kontes pemilu selalu menuduh yang menang telah melakukan kecurangan. Tidak mau menerima kenyataan dengan sikap ksatria dan legowo.

Harusnya, siapapun yang kalah memberi ucapan selamat kepada yang berhasil memenangkan kontes pilpres, seperti yang terjadi di negara-negara Barat. Di sinilah kedewasaan kita sebagai sebuah bangsa akan diuji.

Apresiasi para pejuang pemilu

Apapun hasil pilpres dan pileg, saya mengucapkan selamat dan apresiasi yang tinggi kepada siapa saja para “pejuang pemilu” yang telah menjaga keberlangsungan “pesta demokrasi” ini dengan cukup meriah dan damai. Secara khusus saya ingin mengucapkan selamat kepada TNI-Polri yang telah bekerja keras dan sukses menjaga keamanan dan kenyamanan proses pileg dan pilpres.

Begitu pula, saya ingin memberi apresiasi kepada para petugas pemilu, khususnya KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara atau biasa disingkat KPPS) yang telah bersusah payah mengawal proses pilpres dan pileg. Dikabarkan ratusan petugas KPPS ini wafat, sementara ribuan lainnya sakit. Itu semua terjadi disamping faktor kelelahan akibat maraton bertugas mengawal proses pemilu, juga lantaran banyak medan yang sangat berat, khususnya di luar Jawa, menuju kampung-kampung dan lokasi pemungutan suara. Mereka sangat layak untuk diapresiasi dan diberi penghargaan oleh pemerintah. Mereka bahkan jauh lebih terhormat ketimbang para elit politik yang hobinya mengeksplotasi massa. 

Saya juga ingin mengucapkan selamat kepada jutaan pemilih yang bisa menjaga keamanan, kedamaian, dan ketentraman pemilu. Meskipun mereka gontok-gontokan secara brutal di dunia maya (misalnya antara “kelompok cebong” pendukung Jokowi versus “kelompok kampret” pendukung Prabowo) tetapi mereka tidak melakukan kekerasan fisik di dunia nyata. Ini juga sesuatu yang harus diapresiasi.

Akhirul kalam, saya ingin mengucapkan selamat kepada paslon terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI masa bakti 2019-2024, (insya Allah) Bapak Ir. H. Joko Widodo dan Bapak KH Ma’ruf Amin. Setelah Pilpres usai, tidak ada lagi “nomer satu” dan “nomer dua”. Yang ada adalah “nomer tiga”, yaitu Sila Ketiga Pancasila: Persatuan Indonesia.

Juga ucapan selamat saya ucapkan kepada para anggota dewan terpilih dari parpol manapun, baik yang berbasis sekuler-nasionalis, agamis-nasionalis, maupun formalis-Islamis. Semoga kelak kalian semua menjadi pemimpin politik dan petinggi negara yang sehat, waras, berdedikasi, nasionalis, dan tidak korup. Ingat: jabatan bukanlah “nikmat” yang harus dirayakan dengan pesta-pora, melainkan “amanat” dan “mandat” yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Sumanto Al Qurtuby

(dw.com/suaraislam)