Putra Mbah Moen: Abah Biasa Salah Panggil

Restu Kiai Maimoen Zubair atau Mbah Moen selalu menjadi rebutan para politisi yang berlaga di pemilu. Mengunjungi kiai karismatik ini seolah menjadi agenda wajib, baik sebelum atau sesudah terpilih.

Nama Mbah Moen kembali melambung dan menjadi pembicaraan khalayak ketika ia selip lidah saat berdoa dalam Bahasa Arab di samping Jokowi. Meski sudah mengklarifikasi dengan mengatakan ia “luput karena sudah tua, berumur 90 tahun lebih”, salah ucap itu membuat sebagian orang ragu soal siapa yang sesungguhnya benar-benar direstui Mbah Moen.

Pengaruh Mbah Moen kini menurun ke anak-anaknya yang berjumlah 10 orang. Salah satu dari mereka, Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), kini menjabat Wakil Gubernur Jawa Tengah mendampingi politisi PDIP Ganjar Pranowo.

Kepada kumparan, Jumat (8/2), Gus Yasin menceritakan bagaimana sosok Mbah Moen di mata anak-anaknya. Ia juga menyesalkan soal salah ucap doa yang kemudian ditafsirkan terlalu jauh oleh sebagian orang. Berikut petikan perbincangan dengan Gus Yasin:

Sebetulnya apa yang terjadi ketika Mbah Moen salah ucap saat mendoakan Jokowi?

Kalau di hati, saya enggak tahu. Kalau lihat dhohir (tampakan luar) atau dawuh (titah) beliau kepada kami, para putra dan santri, itu kami merasakan bahwa dukungan beliau ya memang kepada Pak Jokowi.

Ya mungkin itu ya, (soal doa) salah ucap saja, hanya terselip, kayak Abah biasa salah manggil. Saya sama kakak saya itu paling sering salahnya. Kadang saya dipanggil Majid, kakak saya dipanggil Yasin.

Setelah selip lidah itu, Mbah Moen kan jadi bulan-bulanan sebagian warganet. Seperti apa Anda melihatnya?

Sebenarnya bukan bulan-bulanan atau bully-an, tapi lebih kepada saling menguatkan dukungan ke masing-masing kubu. Cuma masalahnya, ada konteks-konteks yang tidak disadari, tidak sengaja atau disengaja, saya enggak tahu, yang jelas menimbulkan keresahan di lingkungan pesantren, NU, para alumni, para muhibbin (pengagum).

Itu memang seperti ada klaim, pemotongan doa, terus konten-konten puisi yang diperdebatkan.

Permasalahannya di sini adalah, kan dipotongnya (video) itu jadi diabaikan. Jadi seolah-olah Kiai Maimoen klarifikasi itu didikte (oleh orang lain).

Kalau kita lihat videonya secara utuh, tidak ada loh rebutan mik dengan Mas Romy (Ketua Umum PPP Romahurmuziy). Sebenarnya, setelah jedanya itu, setelah berdoa, sudah bicara pembawa acara. Lalu di belakang itu ada Gus Kamil (Majid Kamil Maimoen, anak Mbah Moen), ada Mas Romy, itu berembug, “Kok doanya seperti ini ya? Baiknya seperti apa?”

Setelah itu, Mas Romy ke depan, menghampiri Abah, menyampaikan. Mbah Moen dengan memegang mik itu bicara. Kami yang di belakang paham, mendengarkan, tapi kan audiens banyak, ramai, akhirnya butuh suara mik untuk menjelaskan kepada peserta.

Setelah Mbah Moen bicara, agak lama suara miknya enggak jelas. Baru Mas Romi bicara sama Mbah, “Mbah, miknya belum nyala” sabil mik itu dikasihkan lagi (ke Mbah Moen). Mbah bicara lagi, mengulangi apa yang sudah disampaikan tanpa mik. Jadi tidak benar kalau ada perebutan mik (antara Romy dan Mbah Moen). Kemudian klarifikasinya (disebut) seolah Abah didikte.

Kalau enggak dipotong, sebenarnya sudah klir karena itu live. Makanya saya sudah minta sama teman-teman untuk di-share saja yang secara utuh aslinya seperti apa.

Menurut Anda, seberapa besar pengaruh Mbah Moen di perpolitikan tanah air?

Kalau secara langsung, saya mengikuti capres itu 2009, pada saat Pak SBY (menjabat), karena 2002-2007 saya kan di Suriah. Saya melihat, memang (Mbah Moen) jadi rujukan, dan memang Kiai Maimoen diperhitungkan karena suara beliau berpengaruh di kalangan santri.

Beliau ketika Pak Jokowi pada periode pertama, tidak mendukung. Sekarang (ketika Jokowi jadi presiden) juga menghormati, tidak terus menjelekkan, tidak menjadi oposisi yang harus oposisi terus. Jadi kalau ada kebaikan, ya kita bicarakan kebaikannya. Kalau memang tidak baik, ya bilang tidak baik.

Saat Jokowi dan Prabowo sowan ke Mbah Moen, apa pesan beliau?

Pesan yang disampaikan ya soal kerukunan, saling menghormati. Itu yang paling utama dan selalu ditegaskan, termasuk saya dengan Mas Ganjar (Pranowo, Gubernur Jawa Tengah) juga selalu diberi wejangan, harus bisa mewarnai, harus ada perubahan, apa yang bisa kamu berikan ke masyarakat. Itu yang sering ditekankan kepada kami.

Bagaimana Anda menilai sosok Mbah Moen?

Yang paling mendasar, beliau selalu menanamkan kepada santri-santri dan putra-putranya, bagaimana mencintai negara, hubbul wathan minal iman (mencintai negara adalah sebagian dari iman).

Selama beliau ikut politik juga memberikan pemahaman kepada kami, bahwa konflik itu tidak selamanya harus ditempuh dengan benturan. Beliau selalu memberikan gambaran kepada kami, ayo kita mewarnai ya dengan santun, dengan kearifan, tidak melukai satu dengan yang lainnya. Jadi kalau ada ketidakcocokan, beliau tidak langsung mengutarakan. Selama puluhan tahun diempet (ditahan), dipendam saja sendiri. Tapi tetap komunikasi, silaturahmi dijaga.

Beliau suatu kali memang pernah bercerita kepada kami, kalau memang ada permasalahan ya diceritakan. Tapi kejadian itu biasanya sudah beberapa tahun yang lalu, baru diceritakan. Misalnya, beliau tidak setuju dengan kebijakan itu dan ini, ya sudah dipendam sendiri saja. Tapi sambil mengawal kebijakan itu.

Kyai Haji Maimun Zubair. Foto: Facebook/@Syaikhuna Maimoen Zubair

Kyai Haji Maimun Zubair. Foto: Facebook/@Syaikhuna Maimoen Zubair

Didikan Mbah Moen yang seperti apa yang Anda rasa paling mengena?

Sampai saat ini yang mengena di saya adalah bagaimana mengurai konflik, tidak hanya di politik tapi juga di kehidupan keseharian. Beliau juga welcome, jadi walaupun tidak cocok ya tetap ditemui, walaupun tidak senang tetap ditemui. Ini yang selalu diceritakan kepada saya pribadi dan mungkin juga kepada kakak-kakak saya.

Juga dalam keluarga orang lain pun, misal beliau selain mengajar di ponpes dulu juga mengisi dakwah di lingkungan lain, pernah suatu saat di sebuah pengajian, beliau tahu bahwa di tempat pengajian itu ada dua saudara yang tidak cocok. Misalnya yang bikin acara kakaknya, terus adiknya tidak dilibatkan.

Beliau langsung menangkap (aroma ketidakakuran) itu, dan untuk mengakrabkan langsung ambil inisiatif, mobil itu tidak berhenti di tempat kakaknya, tapi langsung ke adiknya. Adiknya waktu itu bingung kan, waktu itu enggak dilibatkan, jadi enggak punya suguhan atau apa. Karena beliau ada di adiknya, kakaknya pun akhirnya ke sana. Akhirnya mencairkan suasana, bisa ada komunikasi. Ini yang diterapkan beliau kepada kami.

Artinya, mencairkan suasana ketegangan ini enggak perlu terus kita tabayun secara terang-terangan, enggak perlu dicari sebabnya, tapi bagaimana solusinya. Ini yang penting.

Ustad Abdul Somad bersilahturahmi ke Kyai Haji Maimun Zubair. Foto: Dok. Pribadi

Ustad Abdul Somad bersilahturahmi ke Kyai Haji Maimun Zubair. Foto: Dok. Pribadi

Apa yang paling diingat dari masa kecil Anda bersama Mbah Moen?

Mbah Moen tidak otoriter, tapi tegas. Ketegasan beliau itu, misal, ketika menentukan suatu pilihan, kami sebagai putra-putranya tidak cocok dengan pemikiran beliau, akhirnya kami mengusulkan untuk merayu beliau supaya bisa menerima pendapat kami.

Kita rayu, kita ajak bicara, Abah ya mengikuti alur kita. Setelah kita puas, seolah-olah kita dituruti, lalu beliau bilang, “Lha kalau pendapat ini baiknya menurut kamu apa?”

Artinya kita diajak musyawarah, artinya beliau tetap menunjukkan bahwa sikap beliau ya begitu. Tetapi tidak memaksakan, tapi biarkan dulu menjelaskan. Kalau sudah selesai, baru kembali ke pendapat beliau.

Putra-putra Abah ini mayoritas enggak ada yang dekat dengan orang tua sebenarnya. Saya juga enggak dekat (dengan beliau). Saya kebanyakan dengan ibu karena kesibukan Abah, tapi Abah selalu memantau melalui guru-guru yang ditunjuk untuk menemani kami. Mereka selalu diminta keterangan. Sekecil apapun itu, beliau selalu tanyakan.

Sebagai anak, apa yang membuat Anda kagum dengan Mbah Moen?

Sikap ngemongnya Abah itu yang saya kagumi.

(kumparan.com/suaraislam)