Puisi Gus Nadir: Negeri Islam Itu…

20502
Ilustrasi (courtesy: Google)

Negeri Islam itu….

sungainya bersih, kalinya jernih dan pantainya indah
jalanannya tertib, tak ada motor dan mobil yang berlomba mendahului
gedungnya bersih, mentereng dan tidak bau pesing dimana toiletnya pun bersih dan wangi dengan keran air yang tidak pernah macet

Negeri Islam itu….

urusan surat-menyurat perijinan lancar dalam hitungan menit, kita tidak perlu menunggu lama.
antriannya pun tertib dan tak ada yang menyalip
tak perlu ada uang jasa atau amplop untuk memperlancar urusan
petugasnya pun senyum ramah selalu siap membantu
setiap komplen ditangani dengan penuh perhatian

Negeri islam itu….

perempuannya memakai pakaian terhormat, ditempatkan dengan penuh hormat dan diperlakukan penuh rasa hormat
tak ada pelecehan di bis kota, dan tak ada pula gangguan saat perempuan berjalan sendiri di tengah malam sekalipun
perempuanya boleh sekolah setinggi-tingginya
perempuannya boleh bekerja sesuai keinginannya entah bekerja di rumah atau di luar rumah
perempuannya merasa aman dan nyaman

Negeri Islam itu…

hasil zakat dan pajak terlihat jelas dalam berbagai fasiitas publik
mau jalan-jalan ke taman gratis, mau ke pantai gratis
udara bersih dan tak ada polusi
tak ada kebisingan suara klakson
atau asap knalpot yang bikin dada sesak
mau naik bis pun nyaman
mau naik sepeda pun aman

Negeri Islam itu….

masjid berdiri dengan gagahnya disamping rumah ibadah yang lain; rukun dan damai tak ada kekerasan
Masing-masing dijamin beribadah menurut apa yang mereka yakini
tak ada seorangpun yang boleh mengganggu ibadah warga –apapun agamanya
jaminan keamanan dan kenyamanan diberikan oleh negara
tak ada orang diusir hanya karena beda keyakinan
tak ada orang di-fentung hanya karena beda mazhab

Negeri Islam itu….

semua berhak mendapatkan pekerjaan
yang belum punya pekerjaan tinggal minta uang hasil zakat ke baitul mal
yang belum punya keahlian akan dikursuskan oleh negara
orang-orang miskin dan tertindas mendapat jaminan sosial security dari negara

Negeri Islam itu….

ulama dan umaranya kompak duduk bersama saling berdiskusi demi bangsa
tak ada ulama yang latah ingin jadi umara
tak ada pula umara yang latah bertingkah polah seperti ulama
masing-masing tahu porsinya dan mereka saling bekerjasama
ulama menegur bila umara berbuat khilaf
umara menyediakan fasilitas kepada ulama untuk terus berkhidmat tanpa rebutan honor dari umat

Negeri Islam itu….

perpustakaan penuh dengan buku-buku dari abad klasik sampai abad modern
dari kitab kuning sampai kitab putih
semua buku dari berbagai mazhab ada di sana
semua disiplin keilmuan lengkap koleksinya
pintunya begitu lebar karena tak sanggup memuat pengunjung yang datang
rak-rak perpustakaan bertingkat-tingkat sehingga harus pakai tangga hanya untuk mencari sebuah buku
ruangannya dingin dan akses internetnya cepat
rugi rasanya cepat-cepat keluar kalau sudah berada di dalam perpustakaan

Negeri Islam itu…

kampusnya merupakan kampus ternama
para professor begitu ramah meski punya nama besar
ruangan kelasnya begitu nyaman, bersih dan lengkap fasilitasnya
gaji dosennya begitu cukup
tanda negara memperhatikan dunia ilmu
kampus begitu asri dan rimbun
rasanya rugi cepat-cepat pulang ke rumah jikalau tengah berada di dalam kampus; tak terasa sudah tengah malam

Negeri Islam itu…

tatap mata warganya begitu ramah
senyum selalu mengembang bila berpapasan
entah kenal atau tidak selalu menyapa: “apa kabar?”
warganya saling tolong menolong
tak tahan melihat tetangga kesusahan apalagi sampai kelaparan
tak ada rasa iri antar tetangga
semuanya bekerjasama menjaga lingkungannya

Negeri Islam itu….

ada dimana sekarang? kemana aku harus mencarinya, Ya Rabb?

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia – New Zealand

Baca:

(suaraislam)