Program Banjir Bersyariah Bisa Dimulai dari Jakarta

Ki Tata kedatangan dua tamu yang pilihan politiknya dalam Pilgub Jakarta kemarin berseberangan, si Sugeng mendukung Ahok dan si Ahmadi memilih Anies. Karena Jakarta lagi musim banjir, jadilah topik yang cukup seru kali ini.

“Coba Ki Tata lihat sendiri, 3-5 tahun lalu Jakarta tidak pernah banjir separah tahun 2018. Yang masih hangat saja tahun 2017 kemarin tidak ada kolam air di seluruh penjuru Jakarta, kenapa sekarang bisa parah seperti itu?”

Ki Tata baru menghela nafas panjang, Ahmadi langsung menjawab dengan sedikit emosi.

“Perlu saya luruskan dulu pemikiran yang tidak benar itu, BANJIR itu bukan masalah sehingga tidak perlu panik untuk segera diatasi. Kata Bang Anies, banjir itu BERKAH DARI ALLAH yang harus disyukuri bukannya disesali, apalagi menyalahkan Gubernurnya.”

“Oh begitu ya, jadi banjir itu memang tidak perlu digubris karena berkah Allah, dibiarin saja walau warganya pada ngungsi?” sahut Sugeng dengan mimik keki atas jawaban Ahmadi.

“Kenapa harus alergi dengan banjir? Bang Anies bukan Ahok, yang mengatasi banjir dengan cara marah-marah, memaki sana-sini, menyalahkan bawahannya, menyalahkan kabel, sampah, dan warga sekitar sungai. Bang Anies lebih manusiawi karena beliau memang KEBERPIHAKANNYA pada warga sangat besar sebagai cerminan dari agamanya. Beliau mempunyai kelebihan daripada Ahok. Bang Anies bisa mengajak dialog banjir dengan santun, diiringan lantunan doa-doa yang lembut, cara seperti itu bisa menyurutkan banjir dengan lebih cepat tanpa konflik!”

“Hebat ya gubernurmu itu? Sepertinya lebih hebat dari Nabi Nuh atau Musa, padahal pernah bilang Nabi Nuh saja tidak bisa mengatasi banjir masak dia harus disuruh mengatasi banjir hahahahahaha……”

“Eh eh dilihat konteksnya dulu secara utuh saat beliau memberikan penjelasan soal Nabi Nuh. Beliau pastinya sudah faham sejarah Nabi Nuh kok tidak bisa mengatasi banjir saat itu, karena Nuh TIDAK BISA BERDIALOG DENGAN AIR BANJIR. Sementara Nabi Musa bisa membelah Laut Merah karena bisa berdialog dengan Air Laut. Dari situlah Bang Anies menemukan cara mengatasi banjir Jakarta!”

“Wah, wah, hebat sekali GABENER-mu itu, bisa mempunyai ilmu setingkat Nabi hahahahaha….Bagaimana menurut Ki Tata?”

Sambil tersenyum Ki Tata menjawab : “Saya di sini tidak untuk membela Ahok atau Anies dalam kasus banjir di Jakarta ini, tapi kita lihat fakta yang sudah dilakukan 2 Gubernur itu dalam menghadapi problem banjir ini.”

“Era Ahok banyak merekrut PASUKAN ORANGE, BIRU, UNGU, MERAH, dan lain sebagainya itu. Tujuannya untuk SETIAP HARI BEKERJA menjaga Ibukota dari berbagai problem sampah, tanaman, selokan, sungai-sungai agar selalu bersih. Sekarang pasukan kebersihan Ahok itu dikemanakan?”

“Nah itu Ki, sepertinya ini menyangkut ANGGARAN yang “ingin disunat” Anies untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Coba berapa ratus milyar anggaran untuk pasukan kebersihan itu sekarang di alihkan kemana? Mereka sepertinya dinganggurkan dan anggarannya masuk ke program OK OC yang dikelola saudara-saudaranya Sandi, dan ke PAUD yang dikomandani istrinya Anies. Lalu hasilnya program-program itu mana yang berhasil?”

Sebelum Ki Tata menjawab, Ahmadi menyahut duluan.

“Jangan su’udzon dulu lah, begini lho, soal banjir ini menurut Bang Anies sangatlah mudah, kata beliau ini hanya soal keberpihakan. Dimana ada keberpihakan, maka di sanalah ada solusi. Ini penting! Karena itu, Bang Anies berencana membangun dialog dengan banjir supaya ada komunikasi saling pengertian dengan banjir. Nantinya menghasilkan penandatanganan Memory of Understanding (MOU) dengan banjir.”

“Hahahahaha…..ouw luar biadab sekali! Solusi super duper GENIUS dari Gabenermu itu!” potong Sugeng sambil ngakak.

“Dengarkan dulu kalau saya bicara Bro, banjir akan dirangkul dan diajak bicara dari hati ke hati sama Bang Anies.”

“Lalu apa manfaat realnya buat warga Jakarta58?” tanya Sugeng ketus.

“Jadi begini menurut Bang Anies saat banjir datang itulah, warga58 artinya beroleh berkah menikmati nasi bungkus, renang GRATIS, nobar dan berfoto selfi. Bahkan Bang Anies sudah perintahkan Dishub untuk memfasilitasi warga58 menikmati wisata air dengan naik becak. Tolong dicatat itu”

“Wakakakaka……Gabenermu benar-benar membuat warga Jakarta yang kebanjiran jadi BAHAGIA ya?” sahut Sugeng tak henti-hentinya tertawa sampai airmatanya keluar. Ki Tata manggut-manggut sambil tersenyum.

“Bang Anies dalam pertemuan empat mata dengan banjir, beliau sudah meminta banjir untuk terlibat dalam program pelatihan Oke Oce supaya warga58 tahu gaya renang yang benar saat banjir datang. Genius bukan Bang Anies?”

“Maaf dik Ahmadi, apakah itu yang dimaksudkan dengan PROGRAM BANJIR BERSYARIAH?”

“Tepat sekali Ki Tata!” jawab Ahmadi spontan dengan mata berbinar. “PROGRAM BANJIR BERSYARIAH BISA DIMULAI DARI JAKARTA betul kan Ki?”

Sugeng garuk-garuk kepala tidak gatal, Ki Tata geleng-geleng kepala sambil tertawa.

Sekian.

Diambil dari KataKita https://www.facebook.com/pageKataKita/posts/1660346607390051

(suaraislam)