Prof Quraish Shihab: Penafsiran Berbeda-Beda, Akhlak Titik Temunya

Prof. Dr. Quraish Shihab

Islam memandang perbedaan sebagai keniscayaan. Hal ini berdasarkan sebuah relitas dalam kehidupan, bahwa Allah Swt menciptakan makhlukNya beraneka macam. Artinya, Allah Swt menghendaki keberagaman di muka bumi ini, bukan keseragaman. Meskipun demikian, seandainya Allah berkehendak, niscaya Allah mampu menciptakan makhluk-makhlukNya secara seragam. Tetapi, Allah lebih memilih keberagaman, agar manusia berpikir dan mengimani kebesaran Allah Swt.

Walaupun kita hidup di muka bumi ini dengan perbedaan-perbedaan, bukan berarti perbedaan yang ada menjadi problem, apalagi konflik di antara sesama umat manusia. Perbedaan yang ada hendaknya menjadi rahmat dan memperkuat kearifan kita untuk menerima keberagaman. Begitu halnya dengan penafsiran. Begitu banyak penafsiran terhadap Islam yang bermacam-macam dari kalangan ulama sejak klasik hingga kontemporer. Keberagaman penafsiran itu tidak menjadi konflik di antara ulama, karena perbedaan yang ada dijembatani oleh akhlakul karimah dan sikap toleran atas penafsiran yang berbeda-beda, selama penafsiran itu tidak melenceng dari ajaran-ajaran Islam.

Menurut pakar tafsir terkemuka asal Indonesia, Prof Dr Quraish Shihab, perbedaan-perbedaan yang ada hendaknya dijembatani oleh moralitas yang luhur dan akhlak di antara sesama. Perbedaan adalah keniscayaan, tetapi akhlak adalah titik temu (kalimatun sawa). “Penafsiran Islam itu bisa berbeda-beda. Kita harus sadari kecenderungan orang bisa berbeda-beda,” jelas Quraish Shihab saat Halalbihalal dan Milad ke-47 Dewan Masjid Indonesia (DMI) di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (17/7).

Ia mencontohkan tentang kecenderungan setiap manusia berbeda-beda dalam semua hal. Tidak mungkin setiap manusia disama ratakan, baik keinginan maupun perilakunya. Karena itu, ia menekankan agar umat mengambil hikmah dan kearifan atas keberagaman di muka bumi ini. “Tadi, Pak Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa Nawawi Banten berbeda dengan Imam Syafii,” katanya.

Selain itu, pendiri Pusat Studi Al-Quran itu juga menambahkan, agar akhlak menjadi paradigma sekaligus jalan hidup setiap orang untuk membangun kerukunan dan kedamaian di antara perbedaan yang ada. Apabila seseorang telah keluar dari perilaku yang baik dan akhlak mulia, maka orang tersebut sulit untuk menemukan titik temu. “Usul saya kita bertemu pada rahmat dan akhlak. Selama sudah keluar dari akhlak dan rahmat kita berkata anda tidak bersama saya,” pungkasnya.

(islamramah.co/suaraislam)