Prabowo Bertemu Jokowi, Rizieq Mana?

Akhirnya Jokowi bertemu Prabowo. Dari lebak bulus, mereka naik MRT menuju Senayan. Ngobrol santai di gerbong kereta. Sampai Senayan, mereka nge-mall. Makan sate.

Di stasiun MRT Senayan, keduanya turun. Lalu memberikan keterangan pada warga yang ada. “Saya bagaimanapun ada ewuh pakewuhnya. Kenapa saya belum memberikan selamat pada Pak Jokowi. Karena saya mau memberikan selamat secara langsung. Selamat, pak,” ujar Prabowo, lalu ia menyalami Jokowi.

Pertemuan kedua tokoh ini, melucuti stempel Cebong dan Kampret diantara pendukung. Cebong sudah bermetamorposis menjadi katak. Bukan Cebong lagi. Sedangkan Kampret juga sepertinya berubah. Mungkin jadi Codot. Mungkin jadi Kalelawar. Gak tahu deh.

Tapi yang menarik disini adalah, pertemuan Jokowi-Prabowo sama sekali tidak menyenggol-nyenggol nama Rizieq. Padahal di Saudi, mungkin lelaki itu sedang nongkrong di depan TV internet, menunggu hasil pertemuan ini. “Kok, nama gue gak disebut sih. Pigimane nih!”

Rizieq memang bukan variabel penting bagi Prabowo. Dulu ia menggagas Ijtima Ulama yang merekomendasikan seorang ulama sebagai Cawapres untuk mendampingi Prabowo. Tapi apa usulan itu didengar Prabowo? Gak!

Prabowo malah mengangkat Sandiaga sebagai Cawapres. Gak peduli sama Rizieq.

Rizieq juga pernah merekomendasikan beberapa orang jadi calon pemimpin daerah. Salah satunya La Nyalla di Jawa Timur. Apa mereka dapat rekomendasi Gerindra? Gak tuh. Padahal Rizieq yang minta loh.

Artinya bagi Prabowo, Rizieq itu bukan faktor penting yang perlu dipertimbangkan. Sebagai orang yang dimanfaatkan untuk kampanye memang penting. Pengikut Rizieq lumayan banyak. Tapi gak lebih dari itu.

Jadi gak heran jika pertemuan Jokowi-Prabowo gak nyolek-nyolek Rizieq sama sekali. Emang dia siapa?

Terus bagaimana nasib Rizieq di Saudi padahal dia harus bayar denda overstay. Sedangkan rekonsiliasi ternyata gak menyebut-nyebut namanya. Dalam rekonsiliasi, nama Habib gak ada. Bahkan huruf ‘H’-nya saja gak disebut.

Kita akhirnya tahu, di Saudi Rizieq juga bukan siapa-siapa. Bukan tamu kerajaan. Bukan orang penting juga. Boro-boro dianggap sebagai ulama. Kalau ia overstay harus bayar denda juga.

Kenapa dia harus bayar denda? Karena ia gak dapat visa seumur hidup. Jadi masalahnya ada pada visa yang sudah kadaluarsa.

“Mas, kalau masalahnya cuma visa, kan gampang. Dulu Novel Bamukmin anak buah Rizieq pernah kerja di visa. Minta tolong dia aja,” saran Abu Kumkum.

“Visa apa Kum?”

“Visa Hats!”

Sumber: FB www.ekokuntadhi.id

(suaraislam)