Politisi PKS Diperiksa KPK sebagai Tersangka Korupsi, Masihkah PKS Ngaku Partai Islam?

706
Wakil Ketua Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Yudi Widiana Adia di gedung KPK, Jakarta, Selasa (27/12/2016)(Lutfy Mairizal Putra)

Semua pemeluk Islam pastilah tahu bahwa tindakan korupsi, menerima suap dan menyalahgunakan kewenangan untuk memperkaya diri sendiri adalah perbuatan haram. Perbuatan setan. Maka, yang mengaku bertuhan Allah dan berasul Nabi Muhammad Saw sudah dipastikan tidak akan melanggar doktrin ini.

Namun tidak dengan polisi PKS yang juga anggota DPR, Yudi Widiana Adia. Ironisnya, parpol Yudi, PKS, mengaku sebagai partai Islam, partai dakwah.

Seperti yang diberitakan oleh kompas.com, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terhadap anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR Yudi Widiana Adia, Senin (19/6/2017).

Yudi akan diperiksa terkait kasus suap proyek di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai tersangka,” ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi.

Yudi telah ditetapkan sebagai tersangka sejak awal Februari 2017. Ia diduga menerima uang lebih dari Rp 4 miliar dari pengusaha So Kok Seng alias Aseng.

Menurut jaksa, uang yang diberikan Aseng ditujukan agar Yudi mengupayakan proyek-proyek dari program aspirasi DPR RI disalurkan untuk proyek pembangunan atau rekonstruksi jalan di Maluku dan Maluku Utara.

Selain itu, uang diberikan agar mantan Wakil Ketua Komisi V DPR itu menyepakati Aseng dan pengusaha lainnya, yakni Abdul Khoir, dipilih menjadi pelaksana proyek tersebut.

Yudi telah berulang kali diperiksa dalam penyidikan di Gedung KPK dan bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

Namun, Yudi selalu membantah keterlibatannya dalam kasus tersebut.

Yudi disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Diperiksanya Yudi sebagai tersangka penerima suap oleh KPK membawa pertanyaan pada PKS, yang merupakan parpol Yudi, karena PKS mengaku sebagai partai Islam.

Dalam Islam sendiri telah jelas-jelas diharamkan memberi, menerima atau menjadi perantara suap. Sudah nyata ancamannya siapa pun yang terlibat dalam risywah atawa suap akan dilemparkan ke neraka.

Tidak malukah PKS yang masih mengaku-ngaku partai Islam tapi elit-elit politiknya, hingga presiden PKS saat itu, Luthfi Hasan Ishaaq ditangkap KPK karena perkara suap.

Subeki Jalali

(suaraislam)