Politik dan Puasa Bicara

Ilustrasi

Pasca perhelatan akbar Pemilu 2019 Bulan April lalu, kehadiran Ramadhan seolah menjadi oase di tengah teriknya suhu politik semenjak tujuh bulan berlangsung. Pelbagai narasi negatif masih sering diviralkan menyusul akan diumumkannya rilis resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tanggal 22 Mei 2019 mendatang.

Penyelenggaraan Pemilu aman dan damai yang dibarengi hadirnya bulan puasa, harusnya menjadi motivasi bersama untuk menghadirkan kesejukan dan kedamaian berbangsa. Faktanya justru sebaliknya, tensi politik tersebut semakin meninggi, di tengah hadirnya bulan yang suci. Karenanya, pemaknaan nilai-nilai puasa menjadi penting dalam rangka mengisi kemajuan dan peradaban luhur pasca kontestasi yang sudah berlalu.

Puasa dan Taqwa

Secara kebahasaan, ada kemiripan berarti antara kata shoum dan taqwa. Kedua kata ini dapat berarti menahan, mengendalikan, dan memelihara diri/jiwa. Penekanan maknanya bukan sebatas menahan (dari sesuatu yang buruk) begitu saja, tetapi mencakup adanya upaya serius untuk menjaga dan memelihara diri secara maksimal dari segala perkara yang dilarang.

Kegiatan menahan dan mengendalikan ini memang merupakan perkara yang lumayan sulit. Menahan diri untuk tidak makan, minum, dan memenuhi hasrat libido bisa dikata memberatkan, kecuali semua itu dilakukan atas dasar iman. Persoalannya bukan sebatas menahan pada aspek yang berkaitan dengan perut dan kemaluan saja, akan tetapi pengendalian diri dari segala hal yang dilarang oleh agama. Itulah mengapa, puasa menjadi salah satu cara terbaik dalam menyongsong predikat suci dan takwa di sisi Allah Swt. (QS. al-Baqoroh[2]: 183).

Dalam sebuah hadis hasan, disabdakan bahwa predikat takwa itu digapai tidak hanya dengan meninggalkan perkara yang dilarang, melainkan juga dengan meninggalkan hal yang dibolehkan sekalipun [HR. Tirmidzi]. Berangkat dari ini, puasa tidak makan, minum, dan syahwat kemaluan, semangatnya bertumpu pada upaya pengendalian diri dari perkara yang dibolehkan. Bahwa makan, minum, dan lainnya adalah boleh, bahkan keharusan. Akan tetapi, ketika puasa, ia dilarang. Dari sini, perkara pengendalian dari yang boleh tidak sebatas pada aspek tersebut saja, tetapi mencakup keseluruhan dimensi kehidupan manusia. Sebut saja kebolehan berbicara apa saja. Ketika puasa, kebolehan bicara ini diatur sedemikian rupa sehingga yang keluar dari mulut/lisan mesti sesuatu yang muatannya baik, bermanfaat, dan maslahat. Lain dari itu, ia terlarang. Inilah yang disebut dengan takwa.

Puasa Tidak Bicara

Memang pada mulanya, puasa itu identik dengan kegiatan menahan diri untuk tidak bicara kecuali yang baik, sebagaimana puasanya Siti Maryam, perempuan suci yang namanya diabadikan dalam al-Qur’an (Q.S. Maryam [19]: 26). Hal ini sangatlah beralasan, mengingat bahwa perkara menahan lisan ini menjadi salah satu perkara vital sepanjang proses kehidupan yang dijalani seseorang.

Belajar dari Maryam, puasa tidak bicaranya itu membuahkan hasil yang efektif untuk membendung tebaran fitnah dan hoaks dari kaumnya perihal kandungan dan anak yang dilahirkannya. Malahan, pertolongan Allah muncul lewat perantara lisan buah hatinya, Nabi Isa As. yang dengan lantang memekikkan kebenaran nubuwwat dirinya dan kesucian bundanya.

Puasa ala Maryam ini sangat relevan dalam kehidupan Era Post Truth sekarang. Bahkan, dalam suasana Ramadhan yang suci ini pun, kecapan menahan lisan ini masih menjadi perkara yang sedang diperjuangkan. Padahal, esensi puasa itu, salah satunya bertumpu pada kecakapan menahan bicara.

Pribahasa “Mulutmu harimaumu” menjadi petuah apik agar lisan tak bertulang ini mendapatkan pengawalan berarti dan manajemannya yang paripurna. Kasus ujaran makar dari beberapa oknum, cacian kebencian dari segelintir orang, sumpah-serapah membabibuta, hingga mubahalah politik ‘sang mantan’, menunjukkan betapa problem ketidakcakapan menata lisan dapat menjadi ‘harimau ganas’ yang menerkam kehidupan seseorang.

Kekeliruan lisan menjadikan seseorang terjatuh dalam praktik dosa yang berkepanjangan. Aneka keburukan yang dibagi, kebanyakan berasal dan berpangkal dari lisan ini. Kendati Ramadhan tengah berlangsung, aneka bentuk ujaran kebencian, ghibah, tebaran hoaks, hingga fitnah, kesemuanya masih saja berlangsung. Karena itu, salah satu fokus penting puasa berkaitan dengan kegiatan pengendalian lisan/ujaran.

Signifikansi puasa tidak bicara ini sangat tepat untuk meminimalisir aneka kejahatan lisan di tengah suasana politik nasional yang belum membaik. Narasi ‘people power’ dan sejumlah wacana semisalnya, haruslah di“puasakan” agar kondusivitas kebernegaraan dan keheningan puasa Ramadhan di negeri ini bisa dicapai secara maksimal. Karena itu, mari kita “puasakan” lisan dan diri secara maksimal demi terwujudnya kualitas diri yang bertakwa dan tercapainya kemajuan bangsa dan negara kedepan. Semoga***

Diambil dari FB Satera Sudaryoso (Direktur Kahmi Institut Prov. Bangka Belitung)

(suaraislam)