Polisi Saudi Menangkap Seorang Pedagang Bendera

Ilustrasi

(Jakarta, 2018) Polisi anti terorisme Saudi Arabia menangkap seorang pedagang bendera yang dicurigai ikut andil dalam pemasangan bendera hitam di rumah kontrakan Rizieq Shihab. Pedagang yang masih disembunyikan namanya itu ditenggarai sebagai pihak yang menyuplai bendera yang kini jadi masalah.

Kepala Kepolisian Saudi mengungkapkan pihaknya kini menyita gerobak milik pedagang beserta bambu dan setumpuk bendera sebagai barang bukti.

Ketika diwawancarai, pedagang itu mengaku bendera-bendera tersebut adalah sisa penjualan untuk acara Agustusan. “Setiap Agustus saya selalu jualan bendera. Rakyat disini merayakan Agustusan dengan menggelar berbagai lomba seperti balap karung dan adu onta,” ujar pedagangnya.

Pria kelahiran Thaif itu mengaku sudah 20 tahun berprofesi sebagai penjual bendera setiap Agustus. “Kalau tahun baru saya biasanya menjual terompet.”

Pedagang itu mengaku tidak hapal siapa saja yang membeli dagangannya. Dia juga tidak bisa memberikan kuitansi transaksi. “Belinya dengan uang kas, 10 riyal. Bukan dengan kartu kredit,” ujarnya.

Sampai saat ini pedagang bendera itu masih diinterogasi pihak keamanan Saudi. Apabila terbukti melanggar aturan Kerajaan dengan memasang bendera hitam di rumah Rizieq, pedagang itu terancam hukuman dikirim ke Petamburan untuk mempertanggungjawabkan tindakannya.

Di Indonesia, beredar khabar organisasi pengusung Rizieq di Indinesia menginformasikan akan menurunkan agen-agennya untuk menginvestigasi persoalan yang menimpa Imam Besarnya tersebut. Langkah pertama adalah dengan membuka rekening sumbangan untuk ongkos agen-agen tersebut berangkat ke Saudi.

“Sekarang baru terkumpul sumbangan sedikit. Belum cukup untuk ongkos naik pesawat,” ujar seorang juru bicara.

Sambil menunggu terkumpulnya ongkos pesawat agen-agen itu untuk sementara diperbantukan di sebuah agen elpiji dan air mineral di Kramat Jati dan Cililitan. “Kami siap ditempatkan di mana saja,” ujar mereka. “Sebagai agen, moto kami jelas, pelayanan konsumen adalah nomor satu.”

Eko Kuntadhi

(www.ekokuntadhi.com/suaraislam)