Poligami Bukan Perintah Tuhan

81

Mumpung maljum, daripada sibuk membunuh yahudi, enaknya bahas poligami. Poligami ini dari jaman ke jaman menjadi pro dan kontra di dalam Islam sendiri. Ayat untuk berpoligami memang ada, tetapi benarkah poligami itu sendiri perintah Tuhan?

Kalau kita melihat konteksnya -saat ayat-ayat di turunkan- bukan teksnya, maka kita akan paham bahwa ayat-ayat turun dalam situasi kejahiliyahan bangsa Arab saat Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW datang.

Pada masa itu bangsa Arab dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, bodoh dan barbar. Banyak sejarah yang berbicara bahwa ada ketidak-teraturan pada masa itu. Bahkan bangsa Arab pada masa itu terkenal suka menguburkan hidup-hidup anak perempuannya, karena malu sebab tidak bisa mewakili garis keturunan mereka.

Nah, turunnya Islam adalah mengatur ketidak-teraturan itu menjadi aturan. Poligami sendiri bukanlah tradisi Islam, tetapi tradisi bangsa Arab pada masa jahiliyah. Pada masa itu, mengawini ratusan wanita adalah hal yang biasa.

Karena selain sebagai penyaluran seksual, wanita juga bisa melahirkan keturunan-keturunan supaya klan-klan mereka semakin besar. Kepemilikan terhadap wanita pada masa itu dianggap sebagai simbol kemakmuran. Semakin banyak isteri, maka dianggap semakin kaya.

Pahami itu dulu.

Lalu turunlah Nabi Muhammad Saw dengan berbagai peraturan. Karena beliau adalah “penyampai pesan” maka identifikasi pesannya adalah firman dari Tuhan.

Nabi lalu mengatur supaya wanita mendapat kehormatan yang sangat tinggi dan tidak dijadikan sebagai budak, alat maupun aksesoris saja. Perintah Tuhan supaya para lelaki tidak menyalurkan syahwatnya semena-mena dibukukan dalam kitab suci. Dengan garis bawah tebal bahwa sang lelaki harus berlaku adil.

Jadi kita bisa simpulkan, bahwa poligami itu sudah ada sejak lama dan Nabi Muhammad Saw hanya mengatur semua ketidak-teraturan pada masa itu. “Kalau begitu poligami bukan sunnah dong bang?” Tanya seorang teman pada waktu itu.

Sunnah itu bisa diartikan “mengikuti perilaku dan perkataan Nabi”. Kalau melihat konsep poligami yang ada, sebenarnya tidak tepat bahwa poligami dikatakan sunnah Nabi, karena toh poligami itu sudah ada sejak masa sebelum Nabi.

Nabi Muhammad SAW sendiri tidak pernah berpoligami ketika bunda Khadijah, isteri pertama yang sangat dicintai beliau, masih ada. Tidak ada satu kabarpun yang menceritakan bahwa Nabi punya isteri lebih dari satu ketika isteri pertama beliau masih ada. Nah, jika disebut sunnah maka seharusnya keberadaan tetap bersama isteri pertama sampai akhir hayatnya, itulah sebenar-benarnya sunnah.

Ketika bunda Khadijah wafat, maka dikabarkan Nabi Muhammad Saw menikah lagi dengan beberapa wanita selama hidup beliau. “Nah tuh, kok Nabi bisa menikah dengan banyak wanita seenaknya ??”

Kembali lagi kita harus melihat konteks, atau situasi pada masa itu. Itu masa dimana banyak janda-janda yang ditinggal mati suaminya saat perang. Nabi pun menolong janda-janda itu supaya tetap selamat secara ekonomi juga supaya keturunan mereka tetap mendapat nama keluarga.

“Bantu ya bantu aja, ngapain dinikahi segala..”

Ya jangan samakan situasi sekarang dengan masa itu. Masa itu banyak fitnah yang ingin dialamatkan ke Nabi Muhammad Saw. Jika ada berita Nabi bahwa Nabi dekat dengan seorang wanita maka stigma penzina akan melekat pada beliau. Jika begitu, maka kesucian beliau akan dipertanyakan sepanjang masa…

Selain itu banyak faktor yang menbuat Nabi harus menikah lagi – sesuai kondisi pada masa itu. Mulai dari penguatan persahabatan dengan bangsa lain sampai membangun klan juga supaya musuh tidak mudah menyerang.

Dari sana kita seharusnya bisa menyimpulkan, yang disebut SUNNAH itu adalah “menikahnya” atau “alasan dibalik menikahnya”?.

Beda dengan sekarang yang sama sekali tidak mengikuti sunnah Nabi. Isteri pertama masih sehat dan cinta, eh sudah menikah dua, tiga sampe empat. Mereka emoh menunggu isteri pertama wafat dulu, baru menikah lagi dengan alasan yang kuat.

Pokoknya RUKUN, itu koentji.

Memang beda cara penafsiran berdasarkan nafsu dengan penafsiran berdasarkan logika dengan melihat semua aspek sebelum menemukan makna. Yang pake nafsu, ngelihat teks langsung bicara dengan kengacengan-nya, “Poligami itu perintah Tuhan!!”.

Padahal itu sifatnya himbauan kepada orang Arab jahiliyah pada masa itu, bukan perintah. Kalau itu perintah, Nabi Muhammad Saw yang seharusnya pertama kali melakukannya dengan berpoligami ketika bunda Khadijah masih ada.
Begitu, sooonnn.. ngerti ora?

“Sial, gagal lagi dong gua mau kawin ma si Entim yang semlohai tetangga sebelah dengan alasan perintah Tuhan..”

Ya kalau mau kawin lagi sih, kawin aja.. Bilang kalau itu petunjuk nafsumu. Halal kok, asal semua memahami dan menerima. Tapi jangan bawa-bawa sunnah Nabi apalagi nama Tuhan, itu aja..

“Mana kopinya? Gua puyeng nih kalau isteri gua baca ginian dia pasti langsung merasa terwakili…”

Aku sudah menghilang dikegelapan. Sudah saatnya temanku itu yang bayar. Nanti aku tinggal bliang saja, bahwa membayari seorang teman yang lagi bokek itu perintah Tuhan. Beres, dah..

Denny Siregar

(dennysiregarcom/suaraislam)