Pesantren, Humor, dan Perdamaian

Ilustrasi

Pesantren dan humor itu ibarat air dan ikan. Tidak bisa dipisahkan. Pesantren penuh dengan guyonan, joke, dan celetukan yang membangun. Nasihat, wejangan, doktrin agama, dan hikmah sering diajarkan lewat humor. Tentu humor yang dimaksud di sini bukanlah humor yang mengolok-olok atau menghina, tapi humor yang penuh dengan pesan moral.

Konsekuensi adanya humor, agama di pesantren tidak kaku, saklek, dan membosankan. Humor membuat kehidupan dalam pesantren jadi membaur dan lebih kolektif. Sekat-sekat perbedaan santri bisa ditembus dengan humor. Sebab, humor adalah bahasa universal yang bisa masuk ke mana dan kapan saja. Joko-joke dan guyonan pesantren membuat wajah agama lebih ceria, berwarna, dan riang-gembira.

Di tengah kondisi semangat beragama yang membara di ruang publik, humor adalah salah satu yang hilang. Agama yang dipertontonkan oleh penganut dan pemuka agama di media adalah agama yang kaku, rigid, dan hitam-putih.

Asef Bayat, sosiolog dari Universsity of Illionis, AS, mengatakan bahwa humor sangat penting dalam beragama. Sebab dengan humor bisa meminimalisir ketegangan dalam beragama. Menurutnya, salah satu ciri kaum fundamentalis, radikal, dan teroris adalah hilangnya “fun” dalam kehidupan mereka.

Hilangnya selera humor membuat itu membuat beragama itu jadi sensitif, menegangkan, cepat curiga, dan mudah terprovokasi. Jika sudah demikian, maka keharmonisan mudah koyak, dan kedamaian cepat rusak. Penelitian terakhir menunjukkan, bahwa virus radikalisme sangat sulit masuk bagi manusia yang suka humor.

Dua Orientasi Beragama

Mengapa humor tumbuh subur di pesantren? Jawaban sementara bisa kita dibilang sebab orientasi beragamanya yang khas. Dalam fenomenologi agama, umat beragama itu dibagi ke dalam dua orientasi, yakni orientasi hukum dan orientasi cinta. Pesantren memilih orientasi beragama yang kedua, yakni cinta.

Beragama dengan orientasi hukum adalah beragama yang dikotomis, salah-benar, halal-haram, dan mukmin-kafir. Orientasi beragama yang seperti inilah yang meninmbulkan benih-benih takfirisme dan radikalisme, yang pada akhirnya menimbulkan aksi terorisme. Cara pandang legal-formal yang kaku, pihak yang berbeda dengan diri/kelompoknya dikafir-sesatkan. Selain kami adalah salah.

Pesantren lebih memilih orientasi cinta. Dengan cinta, manusia lebih luwes, bisa masuk ke mana saja, adem, mendamaikan, dan tidak mudah mengafir-sesatkan yang lain. Sekalipun, di pesantren pembahasan fikih menjadi pokok, ia selalu dibasiskan pada cinta.

Fikih ala pesantren bukanlah fikih yang kaku dan tegang, melainkan fikih yang manusiawi. Pesantren selalu menggabungkan antara tataran legal dan tataran etis. Akibatnya, hukumnya lebih membumi dan bisa diterima masyarakat.

Orientasi cinta dalam beragama ini, menyebabkan figur-figur humoris menjadi bahan kelakar dalam pesantren. Abu Nawas, Nasaruddin Hoja, dan Gus Dur sangat familiar di kalangan pesantren sebagai sumber hiburan.

Humor dan Perdamaian

Konstruksi sosiologis pesantren ini sangat penting untuk dikampanyekan ke ruang publik. Beragama itu sejatinya sangat asyik. Agama bukanlah sesuatu yang membosankan. Agama adalah manifestasi dari rasa syukur dan gembira manusia.

Lewat humor, kita lebih akrab; dengan humor sekat-sekat di antara kita hilang; lewat humor juga rasa persaudaraan semakin kokoh. Keakraban, persaudaraan, dan hilangnya sekat-sekat adalah kunci menuju perdamaian.

Perdamaian hanya bisa terwujud bila ada prinsip saling menggembirakan. Menggembirakan dengan cara tidak mencederai perasaan pihak lain. Merasa benar sendiri, kebencian, intoleransi, dan ucapan yang mengafir-sesatkan kepada pihak lain adalah biang kerok dari rusaknya perdamaian. Humor tidak mungkin melakukan kerja-kerja yang merusak kedamaian.

Gus Dur yang disebut Doktor Humoris Causa itu pernah dipanas-panasin. “Gus, ada yang mengkafir-kafirkan jenengan?” Bukannya marah atau balik mengkafirkan orang itu, Gus Dur malah dengan enteng menjawab, “ Lho yang nggak apa-apa, tinggal ngucapin dua kalimat syahadat lagi, kan sudah Islam lagi. Gitu aja kok repot.”

Jawaban Gus Dur itu adalah jawaban khas pesantren, yakni agama yang menggembirakan. Sebab bagi di pesantren, agama itu menggembirakan dan mendamaikan, bukan memanas-manasin atau membuat suasana kacau. Tradisi pesantren bukanlah tradisi, dikit-dikit marah, dikit-dikit boikot, atau dikit-dikit demo. Bukan! Tradisi pesantren selalu menempatkan agama sebagai sumber untuk menebar kedamaian.

Ahmad Kamil

(jalandamai.org/suaraislam)