Peradaban Kemarahan

23
Ilustrasi (Google Image)

Karen Armstrong ; Kita hidup dalam masa transformasi sosial dan kegelisahan yang luar biasa. Setiap gambaran tentang peperangan, kemiskinan, bencana alam, dan terorisme disorotkan keruang-ruang tengah kita. Dalam lingkup kecil dimana seyogianya proses mencari kebaikan via pemimpin atau bahkan pelayan masyarakat, disana juga berseliweran fitnah, caci maki, dan ucapan rasis yang makin menggila. Hebatnya ucapan itu keluar dari mulut para intelektual, sehingga pada akhirnya kita menilai mereka mengambil sifat binatang tanpa akal, yang mereka pikirkan cuma memberi makan dan nafsu dan perutnya kemudian berak.

Kita hidup pada masa genius tekhnologi, dan tidak diimbangi oleh genius spiritual, sehingga kita berani mengambil resiko kerusakan lingkungan karena kita tidak lagi memandang bumi sebagai yang kudus, melainkan menganggapnya sekedar sebagai ” sumber daya “. Jika kita tidak dapat menyandingi genius tekhnologi dengan genius spiritual secara revolusioner, maka peradaban manusia akan selesai bersama hancurnya bumi. Sekarang kita sedang merasakan perang kerakusan antar manusia, dan mengabaikan dimana kita seharusnya bisa menghargai kesucian setiap manusia, bukan mengkafirkannya. Apakah ini output dari motivasi agama tradisional yang salah mengartikan sebuah kesalehan melalui kekerasan, intoleran dan menguasai Tuhan secara dominan.

Agama adalah bagaimana kita melakukannya, bukan cuma memegangnya. Eforia panatisme dan rasa berlebihan atas aroma surga seolah kita punya, membuat hati kita buta bahwa disana terhampar kebaikan untuk semua makhlukNya, dan Dia yang memutuskannya, bukan kita, BUKAN KITA!!!.

Fenonema kemarahan yang berlebihan, apalagi didasari seolah agama yang kita pegang telah dilecehkan dan harus dibela, padahal menjalankannyapun kita tak becus, karena marah itu sudah lari dari koridor agama yang kita sucikan itu, jadi dibela dari mana?, wong belanya saja sudah salah. Kemarahan demi kemarahan, menyelimuti batin dan pŕilaku kita, tidak berharap menjadi genius spiritual, tidak bodoh saja sudah sukur. Menurut Armstrong, zaman keemasan genius spiritual hanya dimiliki oleh manusia zaman Aksial ( 900-200 SM) masuk ke zaman nabi malah agama disesaki intrik dan politik dan dipuncaki pembodohan dari doktrin yang menyimpang tentang esensi kebaikan yang dipupuri oleh cara yang radikal serta mengesampingkan bela rasa, dan menafikan kesalehan orang lain dengan jalannya, bukan dengan jalan kita.

Kenapa kita marah kepada orang yang dengan caranya menuju Tuhan, Prof. Quraisy Shihab; bila menuju Tuhan harus genap 10, ada orang memakai 9+1, 8+2, 7+3, dst, karena pada akhirnya akan menjadi 10, kenapa kita paksa 6+4, atau 5+5. Ada apa dengan kita, mungkin sakit jiwa, atau sedang meraba angka mana yang kita punya. Orang lain sudah masuk pada era eksponensial, kita masih berkutat pada emosional.

Marahlah kepada KETIDAKBENARAN, jangan kepada KETIDAKSUKAAN.
Marahlah dengan GENIUS, bukan dengan AMBISIUS.

Iyyas Subiakto

(fbcombiakto/suaraislam)