Pengamat Politik: Tim Hukum Prabowo-Sandiaga Tidak Konsisten dalam Bersikap

Bambang Widjojanto ketua tim kuasa hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno. (ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK A)

Bambang Widjojanto Ketua Tim hukum Prabowo-Sandiaga dalam sidang sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK), kini menjadi sorotan publik. Pasalnya, jauh berbeda dengan sikap dulu dengan sekarang, terlihat  kontras. 

Akibat sikap yang kontras, BW yang dulu lantang ingin memenjarakan Prabowo dalam kasus penculikan aktivis 1998. Namun sekarang BW menjadi salah saksi di sidang gugatan sengketa Pilpres yang diajukan oleh pasangan calon presiden dan wakil presiden, Prabowo-Sandiaga. 

Melihat sikap BW yang demikian, Pengamat Politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin menilai Tim hukum Prabowo-Sandiaga itu tidak konsisten dalam bersikap. 

“Tentu kita harus melihat dari konsistensi sikapnya ya. Kalau kita ingin konsisten, maka bisa saja pak BW itu dianggap tidak konsisten. Dulu katakanlah menyerang dalam konteks pelanggaran HAM, tapi hari ini dia mendukung dalam konteks membela Prabowo,” kata Ujang Komarudin kepada Tagar, Kamis 20 Juni 2019.  

Saya melihat tentu ada perubahan cara berpikir dan perilaku. Tapi itu kembali pada pak BW sendiri. Tapi saya melihatnya adalah ketika  itu berbeda yang dulu dan hari ini berbeda, tentu itu sebuah keputusan politik yang sifatnya pribadi. 

Mengapa BW bisa berubah sikap dari dulu yang kontra menjadi pro dengan Prabowo di sidang sengketa Pilpres 2019 sekarang ini. Itulah yang kini menjadi pertanyaan oleh kebanyakan masyarakat. 

Ujang menduga BW sudah tak respect dengan pemerintah sekarang. Sehingga mengambil keputusan melakukan pembelaan terhadap Prabowo dalam sidang gugatan. 

“Mungkin dugaan saya dia ada kekecewaan terhadap pemerintah hari ini .Jadi itu mungkin sikap pribadi. Dia mungkin ingin tampil begitu memperjuangkan Prabowo sebagai bagian untuk memenangkan sengketa karena dianggap kubu 01 curang. Itu mungkin bisa jadi melihat bahwa ketidaksenangannya terhadap pemerintah yang dianggap berpolitik curang. Itu baru dugaan. Bisa jadi begitu,” ucap dia. 

Begitu juga dengan pandangan aktivis dan mantan Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD) Petrus Hariyanto yang kini juga tak simpatik dengan BW yang sekarang ini telah menjadi pendukung Prabowo. Padahal sosok BW yang dikenalnya selama ini merupakan pejuang HAM yang menentang keras Prabowo yang telah terlibat dalam kasus penculikan aktivis 1998. 

“BW seorang yang paling lantang menyuarakan agar proses kasus penculikan aktivis tahun 1998 yang dilakukan Prabowo harus diselesaikan melalui pengadilan, tidak sebatas dipecat dari kemiliteran,” ucap Petrus. 

Semakin aku tidak simpati ketika langkah tersebut dilanjutkan dengan menjadi Tim Pemenangan Prabowo-Sandi. Bukan saja mendukung isu politik identitas yang semakin brutal, dengan strategi kampanye berbau hoaks, tetapi juga sama saja telah mengubur apa yang pernah dilakukannya dulu semasa kediktaktoran Orba.

Petrus juga mengakui dirinya juga memang sudah mulai tak simpatik dengan BW sejak menjadi bagian Tim Pemenangan Anies-Sandi dalam pencalonan Gubernur DKI. 

“Tak bisa disangkal kubu yang dibela BW menggunakan politik identitas, memainkan isu SARA. Sebagai eksponen pejuang HAM dan gerakan demokrasi ia tahu betul isu SARA adalah upaya untuk melawan kemanusiaan. Ia tahu di berbagai negara isu itu telah menciptakan pelanggaran HAM yang luar biasa,” katanya. 

(tagar.id/suaraislam)