Pendeta Andreas: NU Sangat Tegas Soal Pancasila dan Nasionalisme

(foto: NUOnline)

Ketua Majelis Pertimbangan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Andreas Yawangoe menilai, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki semangat nasionalisme yang tinggi.

“NU memiliki pandangan bahwa nasionalisme tidak bertentangan dengan iman Islam. Bagi kami, itu sebuah ketegasan. Dengan demikian, nasionalisme diberi makan oleh iman itu,” kata Pendeta Andreas saat menjadi narasumber dalam acara peluncuran buku “Miqat Kebinekaan: Sebuah Renungan Meramu Pancasila, Nasionalisme, dan NU sebagai Titik Pijak Perjuangan” di Gedung PBNU, Jumat (9/6).

Ia juga menilai, NU juga memiliki sikap yang tegas terhadap Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. “Menurut NU, Pancasila sudah final. Oleh karena itu, tidak boleh diotak-atik. Namun yang harus diperhatikan lebih lanjut adalah bagaimana mengimplementasikan Pancasial dalam kehidupan sehari-hari,” urainya.

Baca:

Selain itu, ia juga mengaku tertarik dengan Islam Nusantara yang ditawarkan oleh NU. menurutnya, itu bisa menjadi tameng dari serbuan aliran-aliran Islam yang datang dari luar Indonesia. Ia juga mengaku sadar, jika Islam Nusantara dididik di dalam pesantren. Oleh karena itu, ia menilai, pesantren memiliki peranan yang penting.

“Ini (Islam Nusantara) adalah tameng kita dari aliran Islam yang datang dari luar,” ucapnya.

Mengutip apa yang disampaikan KH Said Aqil Siroj di dalam Buku Miqat Kebinekaan, Pendeta Andreas mengaku tertarik karena Kiai Said menempatkan persaudaraan sesama anak bangsa (ukhuwah wathoniyah) berada di atas persaudaraan sesama umat Islam (ukhuwah islamiyyah).

Hal itu, menurut dia, tidak berarti mengecilkan persaudaraan sesama umat Islam, tetapi ini adalah sebuah bentuk penegasan bahwa nasionalisme bukanlah bertentangan dengan Islam.

“Saya kira ini tidak mengecilkan ukhuwah islamiyyah, tetapi ini adalah sebuah penegasan bahwa nasionalisme itu bukan sesuatu yang asing, bukan bertentangan dengan Islam,” tutupnya.

(nuorid/suaraislam)