Pemimpin Berkain Sarung

136

Pada zaman penjajahan Belanda, sarung identik dengan perjuangan melawan budaya barat yg dibawa para penjajah. Kaum santri merupakan masyarakat yg paling konsisten menggunakan sarung, sedangkan kaum nasionalis abangan hampir meninggalkan sarung.

Sikap konsisten penggunaan sarung juga dijalankan oleh salah seorang pejuang yaitu KH Abdul Wahab Hasbullah, seorang tokoh penting di Nahdhatul Ulama (NU).

Suatu ketika, KH Abdul Wahab Hasbullah pernah diundang Presiden Soekarno. Protokol kepresidenan memintanya untuk berpakaian lengkap dgn jas dan dasi. Namun, saat menghadiri upacara kenegaraan, ia datang menggunakan jas tetapi bawahannya sarung. Padahal biasanya orang mengenakan jas dilengkapi dengan celana panjang.

Sebagai seorang pejuang yang sudah berkali-kali terjun langsung bertempur melawan penjajah Belanda dan Jepang, Abdul Wahab tetap konsisten menggunakan sarung sebagai simbol perlawanannya terhadap budaya Barat. Ia ingin menunjukkan harkat dan martabat bangsanya di hadapan para penjajah.

Kini seorang Pemimpin, mencoba mengembalikan harkat dan jatidiri bangsa dengan membangun Negeri ini secara adil. Pemimpin berkain sarung itu, sangat menghormati para Ulama.

-TYVa-

(fbcomrizaliqbal/suaraislam)