Para Joker Perencana Bom

Para pensiunan Jenderal dan gerombolan garis keras bertemu kepentingan. Mereka mau mengubah negara ini sesuai kemauan mereka.

Para pensiunan ingin agar MPR kembali seperti dulu. Presiden dipilih MPR. Gak ada lagi pemilihan langsung. Katanya mereka itulah sejatinya demokraasi Pancasila. Rakyat cuma jadi bebek, yang harus nurut apa kata elit di Senayan.

Sedangkan gerombolan garis keras, seperti biasa, tujuannya khilafah. Caranya sama, ganti sistem yang ada sekarang. Bukan dengan Pemilu, tetapi dengan kekuatan penekan. Kekuatan militer dan kerusuhan dijadikan jembatan.

Untung TNI solid. Mereka menolak ajakan Purn. Slamet Subianto, bekas KSAL untuk ikut aksi. Bukan hanya Slamet, ada juga Sunarko, bekas Danjen Kopasus yang disebut-sebut seiring dengan Slamet dalam kelompok ini. Ada juga Sony Harsono, pensiunan jenderal yang jadi Caleg partai Berkarya, milik keluarga Cemara.

Sunarko sendiri pernah berurusan dengan polisi karena pengiriman senjata. Kizlan Zein, juga pensiunan Jenderal, kini masih berkutat dengan kasus yang menyeret nama Soenarko itu.

Kasus Soenarko adalah sambungan dari aksi 21-22 Mei di depan kantor Bawaslu kemarin.

Gagal ngompori TNI, mereka ingin bikin aksi sendiri. Disinilah dua kepentingan bertemu. Ada Abdul Basith, dosen IPB dan beberapa orang lain. Bersama Abdul Basith, mereka merencanakan aksi meledakkan Jakarta.

Caranya dengan menunggangi aksi massa. Mahasiswa dan pelajar kemarin sedang hobi selfie di jalanan sambil lempar-lempar batu. Kemudian ada rencana aksi Mujahid 212. Nah, pada aksi Mujahid 212 inilah rencana peledakan Jakarta disusun.

Sasarannya adalah sentra-sentra bisnis seperti Otista, Glodok, Senen, atau Roxy. Targetnya toko-toko milik warga keturuna Tionghoa. “Agar mereka gak betah bisnis di Indonesia,” ujar Basith kepada wartawan.

Jika diperhatikan, aksi kemarin gak jauh beda polanya dengan aksi 21-22 Mei lalu. Pola kerusuhanya juga mirip. Titik-titik yang dijadikan sasaran juga serupa.

Bedanya pada aksi kali ini, ada mahasiswa yang mendahului. Lalu pelajar yang barbar itu.

Biasanya aksi dimulai sesikit sore agar bisa merembet sampai malam. Nah, pada malam inilah polisi pasti mulai keras karena aturannya sebuab demonatrasi tidak boleh lebih dari jam 18.00. Bentrokan. Itulah yang dicari.

Dengan demikian akan menyulut kerusuhan dimana-mana. Apalagi bila nanti ditambah dengan ledakan bom yang direncanakan Basith dan gerombolannya.

Sepertinya gerombolan ini bukan hanya menyiapkan bom molotov saja. Tetapi juga bom bersaya ledak lumayan dengan menambahkan paku di dalamnya. Artinya langkah membuat Jakarta rusuh bukan main-main lagi.

Wajar saja kemarin saban malam mahluk-mahluk gak jelas berusaha membakar Jakarta. Dengan menunggangi aksi mahasiswa. Pelajar dari Bogor, Tanggerang dan Bekasi dikerahkan. Digiring ke pejagalan.

Mereka mau dijadikan martir kelompok ini untuk menyulut kerusuhan lebih besar lagi. Tidak ada yang peduli dengan keselamatan anak-anak itu. Mereka memang senjata hidup yang diharapkan membuat kekacauan.

Mungkin di balik suasana itu, ada gerombolan-gerombolan lain yang sudah menunggu. Gerombolan khilafah pasti berharap massa makin beringas. Lalu bentrok meluas. Lalu mereka bisa tampil di panggung.

Gerombolan pensiunan Jenderal yang terkena sindrom Post Power berharap bisa eksis di masa tuanya. Atau keluarga kaya raya yang 32 tahun merampok bangsa ini, tidak mau terusik kenikmatannya. Mungkin juga mereka mau balik lagi setelah babak belur di Pemilu.

Apapun alasannya, gerombolan-gerombolan ini bertujuan merusak Indonesia dengan cara inskonstituional. Mereka menggunakan aksi massa dan kerusuhan sebagai pembukanya. Bisa dibayangkan berapa nyawa, harta benda, dan jerit tangis yang mereka akan korbankan.

Alhamdulillah. Allah masih menyayangi negeri ini. Kelakuan jahat mereka ibarat Joker. Disebabkan karena menderita kebencian dan kekalahan politik terus menerus. Pemilu kalah. Jadi Caleg kalah. Mau jualan khilafah, orang muak.

Akibatnya begitu. Selalu berusaha bikin kerusuhan dimana-mana.

Untung keburu dicokok.

“Mas, mau bikin Indonesia rusuh kok, modalnya cuma molotov. Mereka ngecilin banget, sih?,” kata Abu Kumkum, protes.

www.ekokuntadhi.id

(suaraislam)