PAN “Kehabisan Darah”, Karma buat Amien Rais?

Partai Amanat Nasional (PAN) loyo, bak kehabisan darah. Segala upaya menthok sehingga akhirnya memutuskan balik ke kubu Presiden Joko Widodo. Apakah ini karma bagi Ketua Majelis Kehormatan PAN Amien Rais?

Upaya Amien Rais menjadikan sebagai kekuatan utama kubu oposisi sebenarnya hampir berhasil. Bermodalkan 49 kursi DPR, PAN memiliki daya tawar tinggi kepada kubu oposisi yang semula hanya berisikan Gerindra dan PKS.

Amien Rais memulainya tidak dengan membawa bendera PAN, melainkan kelompok ulama, terutama Persaudaraan Alumni (PA) 212. Mantan Ketua MPR ini sangat agresif membawa PA 212 ke panggung politik, terlebih setelah Habib Rizieq Shihab yang menjadi imam besarnya, “mengungsi” ke Arab Saudi karena terancam dijerat berbagai macam kasus yang oleh pendukungnya disebut sebagai kriminalisasi terhadap ulama. Anggapan ini hampir benar setelah kepolisian memberikan SP3 terhadap kasus dugaan chat mesum dan penistaan terhadap Pancasila.

Amien Rais menjadikan PA 212 sebagai kendaraan politik untuk “menekan” tokoh dan partai-partai oposisi, terutama Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto. Gerak Amien Rais semakin terang karena beberapa kali kegiatan PA 212 sukses mempertemukan pentolan kubu oposisi. Saat itulah pendiri PAN ini mulai berani mendeklarasikan diri sebagai capres, terlebih setelah melihat kemenangan Mahatir Mohamad di pemilu Malasyia. Alhasil PAN mulai ikut digunakan sebagai alat tawar untuk melobi partai lain.

Puncaknya terjadi ketika Amien Rais mencoba mempertemukan seluruh kekuatan kubu oposisi di Hotel Sultan. Namun rencananya gagal total karena tidak ada ketua umum atau sekjen yang hadir, kecuali Prabowo yang langsung “kabur” karena mungkin baru mengetahui maksud pertemuan tersebut.

Posisi Amien kian terpinggirkan setelah Habib Rizieq memilih menggunakan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama — sebelumnya MUI, untuk kendaraan politiknya. Saat ijtima ulama di Hotel Peninsula, Amien Rais nyaris tidak diberi panggung hingga akhirnya keluar rekomendasi untuk Prabowo, Ustadz Abdul Somad (UAS) dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri yang bgersih dari campur tangan Amien Rais.

Dengan asa tersisa, Amien memutar strategi agar PAN tetap memiliki posisi tawar di kubu oposisi karena saat ini Prabowo sudah kuat menyusul dukungan Partai Demokrat. Hanya saja Prabowo belum berani frontal menolak jagoan PKS, terutama Salim Segaf karena masih membutuhkan suara dari kelompok ulama yang banyak “bermukim” di PKS dan bernaung di bawah Habib Rizieq.

Tarik ulur apakah Prabowo mengikuti feeling-nya dengan menggandeng Komandan Kogasma Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) atau memenuhi janjinya dengan PKS, dimanfaatkan Amien Rais dengan mendorong UAS yang sebenarnya sudah menolak.

Namun upaya Amien Rais kembali menemui jalan terjal. UAS tetap dianggap sebagai “wakil” GNPF Ulama, bukan PAN. Hal itu terlihat ketika Prabowo mengundang perwakilan GNPF Ulama dan juga Amien Rais, Senin malam kemarin, yang ditengarai untuk memberitahukan jika Prabowo sudah final menggandeng AHY.

Pupus sudah harapan Amien Rais. Pagi tadi Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan langsung menemui Jokowi di Istana untuk “menyerahkan badan”, mendukung Jokowi. Hal itu terbaca dari pernyataan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan Sekretaris Kabinet yang juga politisi PDIP, Pramono Anung.

Sinyal merapatnya PAN semakin kuat setelah Tenaga Ahli kedeputian IV Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin bersuara lantang meminta agar PAN “menertibkan” mulut Amien Rais yang disebutnya comberan, jika memang serius bergabung ke kubu Istana.

Memang masih ada kemungkinan PAN batal bergabung ke kubu Jokowi jika tiba-tiba Prabowo menggandeng UAS. Tetapi kemungkinan itu sangat kecil.

Mari kita andaikan PAN benar-benar bergabung ke kubu Jokowi. Apakah ini karma bagi Amien Rais yang selama ini menganggap pemerintah, tidak ada benarnya, bahkan pernah menyebut Jokowi akan diturunkan dari kekuasaannya oleh Allah? Terlebih Amien juga pernah mengkritik keras ketika Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB) ketika menyeberang ke kubu Jokowi dan belakangan meninggalkan Partai Demokrat.

Jika pun bukan karma, Amien mungkin perlu me-review kembali perjalanan politiknya sebelum kemudian madeg pandhito, lengser dari hiruk-pikuk politik karena masanya telah lewat.

Salam @yb

Yon Bayu

(kompasiana.com/suaraislam)