Pamer Ibadah di Ruang Publik

Ada orang mau pamer ibadah biar dibilang paling syari hidupnya. Dia pergi nonton ke bioskop, di theater XXI. Di sana sebetulnya ada mushola yang bersih. Tapi saking mau demonstratifnya, ia menggelar sholat di lobby. Di tengah orang yang berlalu lalang.

“Kenapa gak sholat di mushola saja?”

Karena kalau sholat di mushola, gak akan ada orang yang liat. Buat apa sholat kalau gak keliatan orang? Padahal dia adalah tokoh. Tokoh 212. Wajahnya sering tampil di TV. Jadi orang harus tahu jika dia sholat.

“Lho, sholat kan untuk Allah, bukan untuk ditonton manusia?”

“Hahahahahaha… Pikiranmu kayak santri polos. Coba bayangkan jika sholat di mushola, efek apa yang didapat? Gak ada. Orang sembahyang di mushola itu biasa. Berbeda kalau sembahyang di lobby. Semua mata memandang. Dia jadi pusat perhatian. Orang menyangka dia manusia paling sholeh sebioskop. Sambil memamerkan, gue dong sholat. Lu kagak.”

“Tapi lobby itu kotor. Sepatu hilir mudik disana. Apakah sholatnya syah?”

“Gak penting syah atau tidak. Yang penting jadi tontonan. Ini bukan sekadar ibadah. Ini adalah drama. Penonton Indonesia suka sinetron.”

“Ada nasehat yang bilang, jika kamu menunjukan kealiman berlebihan, sebetulnya kamu sedang menyembunyikan sesuatu. Apa betul?”

“Iya. Orang-orang jenis itu beranggapan Tuhan buta. Gak bisa melihat ke dasar hati manusia. Dia suudzon sama Tuhan.”

Saya pernah menyaksikan wajah orang ini di ILC. Berkoar-koar soal syariat. Berkoar-koar soal agama. Ternyata semua cuma drama.

Sumber: FB Eko Kuntadhi berjudul “Pamer”

(suaraislam)