Obituari: Menimba Spirit KH. Tolchah Hasan

  • Sekitar tahun 80-an, beliau bersama beberapa alumni IPNU, sekitar 10 orang, menggagas berdirinya Universitas Islam Malang (UNISMA). Ia sendiri didapuk jadi rektornya.

Kabar mengejutkan datang di kala puasa Ramadan 1440 H, memasuki hari ke-24. Seorang ulama kharismatik asal Malang, KH. Tolchah Hasan diberitakan menghembuskan nafas terakhirnya.

Beberapa waktu sebelumnya, tokoh Nahdlatul Ulama yang dikenal memiliki konsen tinggi pada dunia pendidikan itu, memang telah opname. Namun, tak mengira jika beliau bakal kepundut pada hari ini.

Mendengar kabar duka tersebut, saya langsung teringat pada peristiwa tiga tahun silam. Akhir Januari 2016. Saat itu, saya mengikuti Rapat Kerja Pengurus Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur. Kebetulan bertempat di SMK Tek Al-Ma’arif, Singosari, Malang. Salah satu lembaga pendidikan yang beliau kembangkan.

Kiai kelahiran Tuban, 10 Oktober 1936 itu, pun didaulat untuk memberi semacam nasehat. Ular-ular, kata orang Jawa.

Saya mendengar nama mantan Menteri Agama zaman Gus Dur itu, langsung tertarik untuk mengikutinya. Namanya memang tak asing. Selain beberapa karya tulisnya yang pernah saya baca, nama juga mudah diingat dalam benak saya. Mirip dengan nama pendiri IPNU, Tolchah Mansur. Awalnya, saya kira kedua tokoh ini adik kakak.

Benar juga dugaan saya. Orang sekaliber beliau, pasti memiliki memori hidup yang inspiratif untuk diteladani. Ada letupan spirit yang patut disematkan dalam jiwa generasi muda. Seperti halnya saya kala itu.

“Saya adalah IPNU generasi pertama,” beliau membuka sambutannya. “IPNU atau organisasi apapun itu jangan jadikan tujuan. Itu semua hanya alat.”

Jika IPNU menjadi tujuan, menurut beliau, maka, hanya akan bergulat pada urusan internal, konflik-konflik lokal, rebutan jabatan dan lain sebagainya. Sedangkan tujuan dan cita-cita dari organisasi sendiri malah tersisih.

“Baca di PD/PRT, apa itu tujuan IPNU,” cetusnya.

Lantas, beliau memberikan banyak contoh. Kerja nyata mewujudkan cita-cita IPNU, cita-cita organisasi.

Semisal, seusai berproses di IPNU, Kiai Tolchah Hasan terus mengembangkan cita-cita organisasi. Beliau bersama alumni-alumni yang lain menggagas beragam lembaga pendidikan formal. Mulai tingkat TK sampai Perguruan Tinggi.

Sekitar tahun 80-an, beliau bersama beberapa alumni IPNU, sekitar 10 orang, menggagas berdirinya Universitas Islam Malang (UNISMA). Ia sendiri didapuk jadi rektornya.

“Selama tiga tahun, para dosen hanya diberi uang transport Rp5.000. Tapi, tiap bulan pula ditariki Rp50.000,” ujar sang profesor itu sembari tersenyum simpul.

“Jadi, kita tekor Rp45.000,” lanjutnya disambut derai tawa kita.

Akan tetapi, perjuangan tersebut berbuah manis. Kini, Unisma menjadi salah satu kampus swasta ternama. Bahkan, dapat dikatakan, sebagai kampus kebanggaan Nahdlatul Ulama.

“Kini Unisma dengan anggaran sudah Rp85-87 Miliyar per tahun. Dan, itu tak pernah tekor,” paparnya dengan penuh kepuasan akan hasil sebuah perjuangan.

Bagi kita, succes story yang diceritakan Wakil Rais PBNU era KH. Sahal Mahfudz tersebut, bukan unjuk gigi. Atawa pamer keberhasilan. Tapi, bak orang berladang. Ia menanamkan spirit di hati kami. Kawula muda. Generasi masa depan.

“Demikianlah kader yang menjadikan organisasi sebagai alat, bukan menjadi tujuan,” kalimat pamungkasnya yang menjadi spirit yang terus mengiang di telinga saya. Hingga hari ini. Saat dirinya berpulang kehadirat Allah SWT.

(alif.id/suaraislam)