Nanik S. Deyang Vs Ratna Sarumpaet

Lima tahun yang lalu, menjelang Pilpres 2014, saya pernah menulis studi kasus tentang Nanik S. Deyang. Nanik kerap kali memposting status FB yang menjelek2an Jokowi, dan mendapat ribuan likes. Postingannya yang paling spektakuler adalah tulisannya di kompasiana dengan judul “Prabowo dan Jokowi: Catatan Kecil Wartawan” yang mendapat 84 ribu views kompasiana dan 61 ribu likes FB. Saya tertarik untuk tahu siapa orang ini dan meng-add Nanik sebagai friend di FB. Alangkah terkejutnya saya ketika membaca postingan2 lamanya di tahun 2012 menjelang Pilkada DKI. Postingan2nya, justeru memuji2 habis Jokowi. Ia kerap kali mengunggah foto Jokowi terupdate dilengkapi caption yang memujinya habis2an.

Ini saya kutip salah satu tulisan Nanik Deyang di tahun 2012:

“Jokowi adalah pribadi yang langka di saat moral semua orang terjual. Dia memang bukan orang yang suka bicara, tapi lebih banyak mempraktekan, kerja lapangan, kerja lapangan, kerja lapangan. Buat apa pintar ngomong di media tapi tukang korup, tukang bakar pasar, tukang mengobrak-abrik pedagang PKL. Melihat Jokowi akan bisa jujur kalau kita juga jujur dengan hati kita. Jokowi adalah sosok seorang pemimpin yang sangat merakyat. Dia biasa bicara atau ngobrol dengan sopirnya, dengan ajudannya pun tidur sekamar, apalagi kalau turun di jalan, semua orang-orang miskin, tanpa risih dipeluknya. Kalau dia pencitraan, jangan salah, ribuan aktivitas Jokowi yang tidak disorot media, dan dia bukan tukang bayar wartawan, sehinga kalau dia muncul banyak di media, itu karena masih banyak wartawan atau media yang memiliki sama dengan dia “BERSIH” [1].

Bandingkan dengan tulisan Nanik di tahun 2014. Saya copas salah satu contohnya:

“TERSOBEK BATHIN SAYA. Anda masih akan memilih Presiden yang tidak punya kepedulian terhadap kebocoran uang rakyat, baik melalui korupsi maupun hilangnya sumber daya alam yang digarong asing? Anda masih percaya Jokowi peduli Indonesia? Lihatlah omongannya, dia tidak peduli dengan kebocoran atau kehilangan duit rakyat dan aset bangsa. Dia hanya peduli kekuasaan untuk mencapai ambisi pribadi dan golongannya. Saya bersumpah, tidak ikhlas lahir bathin, negara saya dipimpin oleh manusia yang tidak peduli korupsi!” [1].

REFERENSI:
[2] https://bit.ly/2IfhiXy
[1] https://bit.ly/2YO5mSN
[3] https://bit.ly/2UmllbV

Jadi ide dasar studi kasusnya simple: Ada satu orang jurnalis (Nanik) menulis tentang satu orang tokoh (Jokowi), namun tulisannya bertolak belakang 180 derajat antara tahun 2012 dan 2014.

Nalar saya tersentak, kok bisa seorang jurnalis, menulis dua berita yang sangat bertentangan untuk seorang tokoh yang sama. Akhirnya saya potret (screenshot) postingan2 dan komentar2 Nanik sepanjang kurun waktu dua tahun. Saya perlu waktu tiga hari untuk menyelesaikannya. Hasilnya ratusan file jpg.

Saya tidak mendalami profil Nanik. Saya berusaha membandingkan tulisannya tanpa tahu kepribadian Nanik seperti apa. Artinya kita mengisolasi obyek studi hanya pada tulisannya, tanpa mengikutsertakan karakter penulisnya. Setelah memilah dari ratusan gambar, akhirnya saya terbitkan artikel di kompasiana dengan judul, “Mempertanyakan Integritas Wartawan: Studi Kasus Tulisan Nanik S. Deyang” [1].

Saya tag Kang Pepih , founder Kompasiana, dan tulisan tsb jadi headline.

Namum demikian, walaupun penuh dengan kebencian dan kebohongan, tapi postingan2 Nanik di FB benar-benar menjadi idola banyak orang. Satu status, bisa ratusan bahkan ribuan likes dan shares. Tapi ya begitulah kalau sudah benci buta, peduli itu hoaks atau bukan, asal memuaskan nafsu, langsung di-likes dan share.

Sekarang, nama Nanik sedang ramai diperbincangkan karena kasus Ratna Sarumpaet. Ia dipanggil ke pengadilan untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Nanik merupakan orang yang mengatur pertemuan Ratna Sarumpaet dengan Prabowo dan orang yang pertama kali mengunggah hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet di FB.

Yang menarik di sini, Ratna Sarumpaet sangat kesal dengan Nanik, bahkan sampai menangis, karena Nanik berbohong secara barbar di persidangan [2] .

“Selama enam bulan saya merasa dihukum oleh semua orang sebagai pembohong. Tapi baru hari ini saya merasa bersyukur karena ada pembohong yang lebih jahat,” ucap Ratna [3] .

Kebayang kan? Ahlinya ahli, Ratunya Ratu hoax, Ratna Sarumpaet saja sudah frustrasi dengan kebohongan Nanik. Apalagi kita yang bukan ahlinya ahli.

Sebetulnya, lima tahun yang lalu sudah saya ingatkan kalau Nanik Deyang ini orangnya ga bisa dipercaya. Lha kok malah diangkat jadi Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi? Ratna Sarumpaet juga kan sudah berkali-kali sebar hoax, kok masih juga diangkat jadi juru kampanye nasional Prabowo-Sandi?

Nah, sekarang keduanya saling tuding berbohong satu sama lain di persidangan. Pembohong ketemu pembohong ya memang bakal ruwet. Apalagi kalau sudah kelas kakap atau kelas paus bahkan, kelas ahlinya ahli, ratunya ratu.

Namun hikmahnya, hari demi hari, Allah SWT membuka topeng kebohongan satu demi satu. Tinggal berpulang kepada kita, apakah kita akan “iqro” kepada semua tanda-tanda yang telah dihadirkan secara gamblang oleh-Nya ke hadapan kita?

Wallahu’alam.

REFERENSI
(shortened clickable links ada di atas)

[1] Mempertanyakan Integritas Wartawan: Studi Kasus Tulisan Nanik S. Deyang (Bagian 2) (Kompasiana, 4 Jul 2014)
https://www.kompasiana.com/maulanasyuhada/54f6c7c6a333112c5e8b47a3/mempertanyakan-integritas-wartawan-studi-kasus-tulisan-nanik-s-deyang-bagian-2

[2] Ratna Sarumpaet Nilai Nanik Berbohong Secara Barbar di Persidangan (Merdeka.com, 2 Apr 2019)
https://www.merdeka.com/peristiwa/ratna-sarumpaet-nilai-nanik-berbohong-secara-barbar-di-persidangan.html

[3] Kesal dan Jengkel, Ratna Sarumpaet: Nanik Deyang Banyak Berbohong (Youtube, Kompas TV, 2 Apr 2019)
https://youtu.be/6zLjQMXEu0I

Maulana M. Syuhada

(suaraislam)