Modernis Konservatif

Simpatisan 212 umumnya adalah kaum modernis. Secara keagamaan mereka merindukan Islam yang lebih bersih dari unsur-unsur lokal. Mereka membayangkan Islam adalah norma, tetapi juga sekaligus simbol, yang universal.

Secara sosial disebut modernis karena memang mereka adalah orang-orang yang hidup di dunia modern. Mereka menikmati pranata kemoderenan. Mereka melihat dunia dengan visi lurus ke depan.

Namun karena itu pula mereka gamang. Mereka memimpikan terciptanya dunia yang tidak pernah hadir dalam sejarah. Khilafah, misalnya, adalah temuan abad ke-20 yang lahir sebagai reaksi terhadap trauma imprealisme Barat dan penguasa poskolonial setempat yang dianggap mereka pewarisnya.

Kegamangan kaum modernis berbuah politik yang konservatif. Imajinasi tentang umat yang awalnya lahir dari kesadaran spiritual dipaksakan untuk menjadi dasar kesadaran sosial. Mereka membawa terma-terma keagamaan, seperti kafir, ke medan kebangsaan.

Konservatisme kaum modernis adalah santapan empuk para politisi. Sentimen keumatan dimaafaatkan untuk memobiliasi dukungan. Para konsultan di sekeliling Prabowo sangat paham konstelasi ini. Hanya dengan melempar jaring yang sebenarnya telah koyak mereka berhasil menangkap ikan-ikan yang keracunan hoaks di lautan prasangka grup WA dan jejaring media sosial.

Sumber: FB Amin Mudzakkir
(suaraislam)