Meski Ada yang Bilang Kencing Onta Tidak Najis, Bukan Berarti Menganjurkan Meminumnya

48
@GunRomli

Benar ada pendapat madzhab kalau kencing onta, dan seluruh hewan yg bisa dimakan tidak najis, baik kencing dan tahi nya, tapi tidak berarti menjadikan minum kencing onta atau memakan tahi nya sebagai anjuran.

Ini madzhab Maliki dan Hambali. kencing dan tahi onta, kambing, serta ayam, kerbau, sapi tidak najis, tapi tidak berarti ada anjuran untuk meminum kencing dan memakan tahi hewan.

Baju, badan yang terkena kencing dan tahi hewan itu menurut 2 madzhab di atas, tidak perlu disucikan kalau mau shalat.

Tapi Ingat, madzhab mayoritas di Indonesia meyakini kalau kencing dan tahi di atas adalah najis mutlak! Jangan membuat pendapat yg bisa mendorong kebingungan umat, ini bisa memantik fitnah dan perpecahan, katanya dahulukan persatuan daripada perbedaan madzhab.

Juga, kencing dan tahi hewan meski bagi 2 madzhab tadi tidak najis, tapi kan tetap kotor dan bau, bagaimana mungkin bawa sarung dengan belepotan tahi sapi ke masjid, sedang jamaahnya menganggap hal itu najis? Apakah akan diterima anda bawa sejadah yang bau kencing sapi, kambing, onta dan belepotan tahinya ke dalam jamaah shalat di masjid?

Dan yang lebih penting lagi, meski 2 madzhab anggap kencing dan tahi onta tidak najis tidak berarti menganjurkan untuk menkonsumsinya.

2 Madzhab: Maliki dan Hambali membatasi soal kencing onta dalam masalah: PENGOBATAN bagi ORANG SAKIT!

Apakah Bachtiar Nasir saat menyeruput kencing onta dalam keadaan sakit? Sakit apa? Apakah sakit parah?

Kalau baca haditsnya, orang Arab badui yang minum kencing onta itu dalam keadaan sakit. (Tapi ingat, tidak ada riwayat Nabi kalau sakit minum kencing onta!)

Kalau Bachtiar Nasir sakit apa? Kalau panu, kudis, kurap tidak masuk dalam kategori yang ‘darurat’ sehingga harus minum kencing onta!

Karena bagi yang anggap kencing onta itu najis, tapi untuk keperluan pengobatan dan tidak ada obat lain, maka diperbolehkan, ada kaidahnya: hal darurat memperbolehkan hal yg dilarang الضرورة تبيح المحظورات

Apakah Bachtiar Nasir dalam keadaan sakit yang butuh pengobatan?

Jadi, meskipun 4 maszhab beda pendapat soal kencing onta: Hanafi dan Syafii najis mutlak (Syafii madzhab mayoritas di Indonesia), Maliki dan Hambali anggap tidak najis, tapi SEMUA MADZHAB SEPAKAT Soal KENCING ONTA masuk dalam masalah: PENGOBATAN!

Artinya, kencing onta bagi yang sakit dan tidak ada obat lain.

Saya mau kutipkan pendapat Syaikh Wahbah az-Zuhaili yang menulis perbandingan-perbandingan madzhab:

وأما حديث العرنيين وأمره عليه السلام لهم بشرب أبوال الإبل، فكان للتداوي، والتداوي بالنجس جائز عند فقد الطاهر الذي يقوم مقامه.

Sedangkan terkait perintah Rasulullah kepada warga Uraniyin untuk meminum air kencing unta, maka ini hanya berlaku untuk pengobatan. Pengobatan dengan menggunakan benda najis diperbolehkan ketika (obat) dari benda suci tidak ditemukan dan benda najis dapat menggantikannya,”

(Lihat Syaikh Wahbah Az-Zuhayli, “Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh”, Juz I, hal. 160).

Dan Faktanya: Meskipun Saudi bermadzhab Hambali ala Wahabi, tapi rumah-rumah sakitnya tidak ada yang menyediakan kencing onta sebagai obat, karena sudah banyak obat-obat medis untuk penyakit.

Apakah anda sakit dalam keadaan darurat dan tidak ada obat lain sehingga terpaksa minum air kencing onta?

Tanyakan pada anda sendiri. Apalagi saat ini berkembang penyaki flu onta yang bisa menular ke manusia yang salah satunya minum kencing onta.

Tapi kalau minum kencing onta hanya sebagai gaya-gayaan, serta bentuk dari fanatik madzhab anda, hal ini sama sekali tidak dianjurkan dalam khazanah keilmuan Islam, baik ilmu hadits atau fiqih.

Minum Kencing Onta sebagai bentuk dari fanatisme kelompok dan kedangkalan berpikir adalah tanda dari Bani Peminum Kencing Onta.

Wallahu A’lam Bis Shawab

Mohamad Guntur Romli

(suaraislam)