Menyikapi Berita Hoax dan Hate Speech Jelang Pilpres 2019

Berikut postingan Ustad Abdi Djohan di laman facebooknya. Postingan ini mengajak dan mengingatkan kita semua agar tetap adem, akur dan damai meskipun memiliki pilihan politik yang berbeda di Pilpres 2019 yang semakin dekat.

Di dalam khutbah tadi, saya mengingatkan beberapa hal kepada jamaah:

1. Dampak negatif dari berita bohong yang diterima sebagai sikap yang harus diperjuangkan.

2. Rasulullah shollallahu alayhi wa sallam, tidak percaya begitu saja kepada informasi yang disampaikan oleh Al-Walid bin Uqbah tentang sikap Bani Mustholiq. Setelah mendapat klarifikasi

3. Setelah mendapat klarifikasi dari Khalid bin al-Walid radhiyallahu anhu, yang mendatangi Bani Musthaliq, Rasulullah berkata, sebagaimana dikutip Imam al-Qurthubi, ;

التأني من الله والعجلة من الشيطان

Pertimbangan yang matang itu (adalah hidayah) dari Allah, sedangkan ketergesa-gesaan berasal dari setan.

4. Dalam menyikapi, perbedaan politik yang dalam kurun 4 tahun ini berlangsung, perlu untuk dipahami bahwa tidak ada yang mutlak di dalam politik. Semuanya berusaha memberikan yang terbaik dan semuanya juga tidak luput dari kekurangan.

5. Sepanjang sejarah, tidak ada Presiden Indonesia yang tidak dekat dengan ulama. Menurut pengakuan masing-masing pendukungnya, semua Presiden Republik Indonesia dekat dengan ulama. Sebaliknya, di mata lawan politiknya, semua Presiden RI pernah memenjarakan para ulama.

a. Presiden Soekarno dekat dengan ulama, seperti al-Habib Ali al-Habsyi Kwitang, Hadrotus Syaikh Hasyim Asy’ari, Prof. Qodirun Yahya dan lain-lain. Tapi di mata kelompok Masyumi, Presiden Soekarno itu anti ulama, Tidak sedikit ulama, yang pernah dipenjara oleh Rezim Soekarno antara lain Buya Hamka, Mr. Kasman Singodimedjo, dan tokoh-tokoh MASYUMI lainnya.

b. Presiden Soeharto pun dianggap dengan ulama. Diketahui Presiden Soeharto sering meminta nasihat dari Bapak KH. AR. Fakhruddin, tokoh ulama Muhammadiyyah. Pak Harto pun pernah berkonsultasi dengan KH. R. As’ad Sjamsoel Arifin, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Pak Harto yang merestui berdirinya Majelis Ulama Indonesia pada tahun 1975. Namun, bagi musuh politiknya, Presiden Soeharto juga memusuhi ulama. Pak Harto pernah berusaha menyingkirkan Buya Hamka dari MUI. Semasa berkuasa, Pak Harto pernah memusuhi Gus Dur. Pak Harto pernah mengeluarkan kebijakan memenjarakan para muballigh dan aktivis Islam yang diduga terlibat kelompok Ekstrem Kanan.

c. Presiden Habibie pun dipandang dekat dengan ulama. Apalagi beliau yang menjadi pelopor pendirian ICMI.

d. Presiden KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Tidak perlu ditanya lagi kedekatannya dengan ulama. Menurut cerita dari beberapa orang dekatnya, setiap malam para kyai diundang cangkrukan di Istana Negara.

e. Presiden Megawati yang dituduh jauh dari kelompok Islam, selama masa kekuasaannya dekat dengan ulama. Megawati sangat dekat dengan para kyai NU. Prof. Said Aqil al-Munawwar adalah ulama yang dikenal sangat dekat dengan keluarga Megawati. Karena kedekatan itu, Megawati meminta KH. Hasyim Muzadi, Ketua Tanfidziyyah PBNU (1999-2009) agar mau menjadi cawapresnya pada Pilpres 2004.

f. Presiden SBY, yang pernah dituduh sekuler dan anti Islam, semasa kepemimpinannya diketahui dekat dengan ulama. Presiden SBY bahkan mendirikan Majelis Zikir yang diberi nama Nurussalam SBY. Beliau juga menjadikan Habib Abdurahman bin Muhammad al-Habsyi sebagai penasihatnya.

g. Demikian juga dengan Presiden Joko Widodo.

6. Politik adalah proses bukan akhir dari perjalanan. Di tengah proses yang penuh dengan dinamika ini, hendaknya kembali kepada Sunnah Rasul, yaitu tetap menghargai dan menghormati sesama muslim walaupun berbeda pilihan politik. Kita tidak bisa menyalahkan pilihan politik kawan kita, karena keadaan yang sedang terjadi di tengah kita. Persoalan bangsa bukanlah disebabkan okeh satu atau dua orang. Ada penjelasan yang panjang untuk membahas kompleksitas/kerumitan persoalan bangsa.

7. Di tengah perdebatan politik yang makin memanas, hendaknya kita kembali kesadaran awal kita bahwa kita hidup bertetangga dan bersaudara. Tentu, jika di antara kita ada yang tertimpa musibah, yang pertama kali mengurus kita adalah tetangga dan saudara kita, bukan capres, timses atau teman satu ormas di mana kita berkiprah.

8. Jangan karena perbedaan pilihan politik, kebahagiaan akhirat pun harus digadaikan dengan ucapan makian, kebencian dan permusuhan, di antara sesama muslim. Rasulullah sholatullah wa salamuhu alayhi berkata:

سباب المسلم فسوق وقتاله كفر

Mencela sesama muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran (riwayat al-Bukhari)

yuk damai, yuk akurrr…

(suaraislam)