Menyelamatkan Prabowo dan Indonesia

Sujud syukur yang dilakukan Prabowo kali kedua cukup mengejutkan kita, pengalaman yang lalu dalam sujud gagal tidak membuatnya jera, dalam hitungan jam setelah dia mengumumkan hasil quick count internal 52%, yang sebelumnya juga sudah disampaikan juru bicara BPN Daniel Simanjuntak.

Dalam konspres sorenya walau mengklaim menang 52%, tapi closing statementnya masih menyejukkan, menghimbau pendukungnya menunggu hasil resmi KPU dan tidak berbuat onar. Sejenak kita adem. Namun dalam hitungan jam tiba-tiba dia muncul lagi dengan klaim menang 62% dari real count, statementnya seperti orang kesurupan mengklaim bahwa dia sudah dan akan menjadi presiden RI serta melakukan sujud kedua setelah sujud yang pernah memalukannya. AH TERNYATA DIA LEBIH SENANG JADI PRESIDEN DARIPADA DIGANDENG KE SURGA. Saya melihatnya bergidik dan kasian, orang seantero duniapun akan ketawa atas prilaku itu, ada apa dibelakang panggung disana, apa yang sudah dibisikkan oleh orang sekelilingnya. Tak lama setelah itu, Egy dan Bachtiar Nasir melakukan orasi provokasi yang bisa membuat pendukungnya berbuat anarkis. Benang merah lainnya adalah, sudah beredar poster dua hari yll bahwa mereka akan melakukan syukuran kemenangan presiden Prabowo-Sandi di Monas tgl. 20 April bersamaan dengan Nisfu Sya’ban. Sayang syukuran itu dijungkalkan angka quick count duluan, mungkin untuk menutup rasa malu itu mereka membuat narasi dan mendahului mengklaim Prabowo menang, dan sudah jadi presiden.

Prabowo, yang sudah saya sampaikan berkali-kali, bahwa latar belakangnya sebagai anak yang tak pernah susah dan gila sanjungan, menjadi kelemahannya dan dimanfaatkan oleh orang sekelilingnya yang notabene cari makan dari hasil menjilat majikan. Narasi Daniel yang mengklaim menang duluan adalah modal awal membuat bisikan. Bak kuping sapi kemasukan jangkrik, Prabowo jingkrak-jingkrak kalau sudah dipuji dan dikatan dia menang, angka sementara dari hasil quick count lembaga survey yang kredibel mau dimentahkan dengan angka survery internal yang abal-abal. Inilah pikiran bebal para begundal yang terus mengawal Prabowo dengan akal terjungkal.

Prabowo telah diprovokasi, dia telah dibeli dengan janji oleh orang-orang yang menjorokkannya keruang hayalan yang merugikan sampai dia lupa daratan, ini berbahaya buat dia dan Indonesia. Angka sementara quick count bahwa PKS mendapat suara 9-10% dari sebelumnya di 2014 hanya 6% atau naik 3,5 kali, dari 4,5 juta menjadi 16 juta, tidak bisa dilihat dengan sebelah mata. Basisnya makin kuat di Sumatra, khususnya Padang, dan Jabar yang makin mengakar. Suara siapa 11,5 juta itu. Ada dua sumber utama, pertama orang yang memakan indoktrinasi bahwa Jokowi anti isalam, Jokowi PKI, Jokowi pro LGBT, Jokowi melarang azan, dst. Kedua bubarnya HTI, mereka mencari rumah baru yang nyaman dan aman, dan PKS adalah rumah mereka, karena ideologinya sama.

Prabowo ibarat kenderaan beruang kosong, dia bukan cari penumpang utk ditarik ongkosnya, justru banyak yang ingin menumpang tanpa bayar sambil terus memuji sang supir yang berani ngebut, jago tikungan, dan bisa menang balapan. Prabowo lupa, saat dia jarang melihat kebelakang dimana penumpangnya tiba-tiba berloncatan sesuai dengan tujuan, saat itulah dia tak sadar didepannya sudah menunggu jurang menganga yang akan membuatnya binasa. Sayangnya kenderaan yang dipakainya ternyata pinjaman dgn memakai nama Indonesia, pancasila dan agama.

Sekarang jurang sudah didepannya, namun didalam kenderaan masih tersisa penumpang yang bisa diselamatkan, syukur kalau supirnya bisa selamat, nanti baru dilihat SIMnya apakah dia memang pemegang SIM sesuai dgn kenderaannya, kalau tidak kita carikan dia kenderaan yang sesuai dengannya, karena kalau salah jenisnya dia bisa menabrakkan kenderaannya kepada siapa saja. Kita bisa cedera dan mahal ongkos obatnya.

Memulihkan luka bisa saja, tapi bekas goresannya butuh waktu lama untuk menghilangkannya. Bangsa ini sudah selalu terluka, dari penjajah kita di pecah belah, merdeka diserang pemberontak, dihajar G30S PKI, kemudian di gerogoti orba, sekarang sedang dibenahi Jokowi, dia diserang caci maki oleh manusia yang menghirup udara Indonesia sekaligus menjadi ancaman kita semua. Penyelamatan yang harus dilakukan mesti paketan, tidak bisa penggalan. Atau kita punya cara menyelamatkan kenderaan dan membiarkan penumpangnya melayang kejurang menganga karena itu resiko yang harus ditanggungnya. Saya belum kepikir caranya…

KINI SUDAH JOKOWI LAGI, HANYA PE ER KITA BANYAK DIDEPAN MATA, KARENA MENYELAMATKAN INDONESIA ITU BUKAN YANG LALU, SEKARANG ATAU NANTI, TAPI SELAMANYA. SEMOGA TUHAN MASIH BERKENAN NEGERI YANG KELAK MENJADI HALAMAN SURGAWI INI MASIH TERJAGA ATAS IZINNYA.

Sumber: FB Iyyas Subiakto

(suaraislam)