Menurut Kaidah Fiqih, Jokowi Tidak Boleh Digantikan Prabowo, Mengapa? Ini Dalilnya

Presiden Jokowi saat jadi Imam Salat di Pondok Pesantren, Darul Ulum, Jombang. (Foto: Presidential Palace/Agus Suparto)

Yang Meyakinkan Tidak Bisa Diganti dengan Yang Meragukan

Jokowi adalah keyakinan, sedangkan Prabowo adalah keraguan. Hal ini bukan hanya terkait dengan perubahan visi dan misi Prabowo ke KPU setelah 4 bulan masa kampanye. Bagi banyak orang ini sikap yang plin-plan, mencla-mencle dan meragukan visi dan misi selama 4 bulan. Lebih dari itu, Jokowi telah bekerja nyata dan membuktikan, sedangkan Prabowo masih meragukan baik dari sisi rekam jejak hingga masa depannya, apalagi ditambah seringnya blunder dengan tersangkut kasus kebohongan dan hoax.

Karena kerja-kerja nyata Jokowi maka kesimpulannya adalah keyakinan. Sedangkan Prabowo yang belum pernah bekerja apalagi ditambah dengan kasus-kasus hoax dan kebohongan dipastikan meragukan.

Jokowi telah memiliki rekam jejak yang panjang dalam pengabdian di negeri ini, dari level walikota, gubernur hingga presiden. Demikian pula pasangannya, KH Ma’ruf Amin, meniti karir dari DPRD, Dewan Syuro Partai, DPR RI, Ketua Komisi Fatwa MUI, hingga Ketua Umum MUI dan Rais Aam PBNU.

Sedangkan Prabowo belum pernah punya pengalaman di lembaga eksekutif, karir militernya moncer karena menantu presiden Orde Baru yang berkuasa saat itu. Sementara Sandiaga Uno baru menjabat sebagai wakil gubernur selama 10 bulan sudah meninggalkan amanat rakyat DKI untuk mengejar jabatan yang lebih tinggi.

Dalam kaidah ushul fiqih dikenal اليقين لا يزول بالشك al-yaqinu la yuzalu bis syakki–yang meyakinkan tidak bisa digusur dengan yang meragukan. Kaidah ini adalah kompas yang membimbing kita untuk memilih dua masalah, yang meyakinkan dan yang meragukan. Ujung kompas pun menunjuk pada yang meyakinkan. Hal ini berdasarkan Sabda Nabi Muhammad Saw yang menegaskan دع مايريبك إلى ما لايريبك (tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu).

Maka dengan kaidah ushul fiqih ini, serta panduan Sabda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam (bukan haulaihi wa salam) kita dipandu agar meninggalkan hal-hal yang meragukan menuju hal-hal yang meyakinkan.

Jokowi-KH Ma’ruf Amin adalah keyakinan.

Mohamad Guntur Romli

(suaraislam)